JAKARTA, SERVIAMNEWS.com– Keluarga besar KB-TK, SD, SMP, SMA Santa Ursula Jakarta merayakan pesta nama pelindung kampus. Para siswa, guru, karyawan menyatakan syukur bersama dalam Misa meriah yang dipimpin oleh Romo Albertus Nugroho SJ atau yang akrab disapa Romo Nugie di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Senin, 21/10. Pada Misa bertajuk “Achievement Motivation” ini unit SD Santa Ursula didapuk menjadi panitia acara.

Dalam homilinya, Romo Nugie menanyakan kepada para siswa-siswi yang hadir seberapa besar talenta yang kita miliki? Pada dasarnya, setiap orang memilik talenta, hanya saja talenta itu dapat dikembangkan atau tidak dikembangkan. Jika talenta dikembangkan maka apa yang kita cita-citakan dapat tercapai. Tetapi sebaliknya, jika talenta tidak dikembangkan maka kita akan menjadi pribadi yang malas.

“Jika kita memiliki talenta tetapi disimpan saja, kita akan menjadi orang malas dan tumbuh menjadi pribadi yang tidak berkembang. Hal ini tidak sesuai dengan sikap dan semangat Santa Angela Merici yang selalu mengedepankan talenta yang ia miliki. Contoh talenta yang dimiliki Santa Angela Merici yaitu ia seorang pemikir bijak dan penengah yang baik,” kata Romo Nugie.

Jadi mari, lanjut Romo Nugie, jangan takut untuk berprestasi. Sebagai pengikuti Santa Ursula jangan hidup terkotak-kotak. “Semoga dalam kesempatan kali ini, kita dapat mengembangkan talenta yang yang kita miliki. Seperti adik –adik Santa Ursula yang ikut menjadi panitia acara dalam perayaan, ini merupakann salah satu contoh dalam mengembangkan talenta,” imbuh Romo Nugie.  

Daya Juang Tinggi

Sementara itu, Ketua III Yayasan Satya Bhakti, Sr Edith Watu OSU dalam sambutannya mengucapkan selamat pesta pelindung sekolah kepada seluruh warga Kampus Santa Ursula Jakarta. Tema perayaan “Achievement Motivation” merupakan salah satu nilai pendidikan yang harus kita hidupi. Sejatinya, nilai tersebut harus kita hidupi untuk seluruh Sekolah Ursulin Indonesia khususnya Kampus Santa Ursula Jakarta.

Dewasa ini, lanjut Sr Edith, kita berhadapan dengan budaya instan. Sebuah budaya siap pakai dan tanpa kerja keras. Begitu marak pembelian makanan atau barang secara online. Orang tidak lagi menanyakan bagaimana proses pembuatannya.  “Orang berpikir mengapa harus susah jika semua sudah tersedia, disinilah kita perlu motivasi untuk mewujudnyatakan cita-cita. Dan itu tidak dapat terjadi dalam satu hari, tetapi perlu perjuangan dan ketekunan,” kata Sr. Edith.

Sama halnya dalam menempuh pendidikan, dari tingkat KB/TK sampai SMA butuh 15 tahun dalam menyelesaikannya.  Dibutuhkan proses dan daya juang tinggi untuk meraih cita-cita. “Santa Ursula juga memiliki achievement yaitu kesetiaan pada imannya yang diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Santa Ursula adalah teladan hidup yang memiliki daya juang tinggi. Mari semua komunitas untuk selalu tekun dan setia menghidupi semangat Santa Ursula dalam menggapai cita-cita yang diimpikan,” ajak Sr Edith.

Usai Misa, para guru dan karyawan menghadiri acara kekeluargaan bersama yaitu Pesta Rakyat “De Sanur Van Jekardah” di Aula SMP Santa Ursula. Acara diisi dengan penampilan dari masing-masing unit. Dan pemberian penghargaan kepada karyawan dengan masa bakti kerja 30 tahun, 25 tahun, 15 tahun, 10 tahun, dan 5 tahun. Perayaan diakhiri dengan makan siang bersama.

Aprianita Ganadi

Kampus Santa Ursula Jakarta : www.santaursulajakarta.sch.id    

Serviam

SURAKARTA, SERVIAMNEWS.com–  SMA Regina Pacis, Surakarta, Jawa Tengah mengadakan kegiatan Edu Fair 2019 ke -21 bertajuk “To Be a Leader in Global Community” , Jumat-Sabtu, 11-12/10. Kegiatan Edu Fair yang merupakan program tahunan SMA Regina Pacis ini diikuti oleh 56 peserta yang terdiri dari perguruan tinggi maupun lembaga pendidikan.  Diantaranya adalah Unika Soegijapranata Semarang, Universitas Sanata Dharma, Universitas Prasetya Mulia Jakarta, University of Sidney, Binus University Jakarta, Unika Atmajaya Jakarta, Universitas Kristen Petra Surabaya, dan lain-lain.

Adapun tujuan kegiatan ini adalah pertama, menyediakan informasi tentang lembaga atau perguruan tinggi kepada siswa dan masyarakat secara langsung dari narasumber secara lengkap, akurat dan efektif. Kedua, mengembangkan dan mempererat kerjasama antara SMA Regina Pacis dengan lembaga perguruan tinggi. Ketiga, untuk menumbuhkan kesadaran kepada siswa sebagai generasi muda tentang perlunya mempersiapkan diri ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Keempat, sebagai wujud perhatian dan partisipasi SMA Regina Pacis untuk membina dan menumbuhkembangkan generasi muda. 

Melalui kegiatan ini pihak sekolah berharap agar siswa dapat menentukan pilihan dalam membuat keputusan tentang jurusan dan perguruan tinggi yang diminati. Sehingga, nantinya mereka dapat memiliki masa depan cerah serta menjadi pemimpin dimanapun berada termasuk dalam komunitas global.

Acara pembukaan dimulai pukul 08.00 WIB yang dihadiri oleh pengawas satuan pendidikan Ibu Dra. Tri Silawati, M.Si, Kepala SMA, SMK dan SMP undangan,  Pengurus Yayasan Winayabhakti, Suster-suster Ursulin, Bapak- Ibu pewakilan stand, Bapak-Ibu guru SMA Regina Pacis serta para siswa. Secara resmi, Edu Fair 2019 dibuka dengan pemukulan gong 3 kali oleh pengawas Satuan Pendidikan. Selama acara pembukaan juga ditampilkan beberapa lagu dari kelompok band SMA, monolog oleh siswa dan 2 buah lagu persembahan dari Resischo.

Selesai acara pembukaan dilanjutkan dengan kunjungan ke stand perguruan tinggi. Tahun ini, tamu yang berkunjung ke stand perguruan tinggi cukup banyak baik para siswa maupun orang tua siswa. Mereka menanyakan informasi perguruan tinggi yang mereka minati. Selain kegiatan Edu Fair, di SMA Regina Pacis juga diadakan kegiatan antara lain: kelas inspirasi untuk siswa kelas X, yang melibatkan beberapa alumni dan pengenalan studi lanjut bagi siswa kelas XI yang diisi oleh 8 perguruan tinggi serta pameran karya siswa mata pelajaran Pendidikan Prakarya dan kewirausahaan (PKWU) seperti payung hias, dan lain-lain.

R. Margana

Kampus Regina Pacis Solo : http://smareginapacis-solo.sch.id/

Serviam

ATAMBUA, SERVIAMNEWS.com– Dalam rangka membangun kedekatan antara anak dan orang tua, siswa-siswi TK Santa Angela bekerjasama dengan Faber-Castell mengadakan lomba mewarnai di TK Santa Angela, Atambua, Sabtu, 12/10. Seluruh siswa-siswi mengajak para orang tua untuk berpartisipasi bersama dalam kegiatan lomba mewarnai ini. Terlihat anak-anak sangat senang mengikuti lomba mewarnai. Para orang tua pun antusias menemani dan memandu anak dalam lomba. Kedekatan anak dan orang tua adalah fondasi penting bagi tumbuh kembang anak, juga berguna dalam pembentukan karakter serta berpengaruh bagi kecerdasan anak.

Serviam

TANGERANG, SERVIAMNEWS.com– Banyak orang mengatakan bahwa proses pembelajaran akan semakin lengkap bila tidak hanya dilakukan di dalam kelas saja. Peserta didik dan guru harus pula merasakan dan mengalami kegiatan belajar di luar kelas dengan harapan bahwa akan ada semakin banyak hal yang bisa ditemukan dipelajari. Ada banyak kegiatan yang bisa memfasilitasi hal ini, mulai dari kemah, outbound, dan lain sebagainya. Setiap sekolah memiliki gaya dan konsep masing-masing, tetapi tujuan mereka tetaplah sama: membentuk pribadi-pribadi berkarakter dalam diri setiap peserta didik. Salah satu kegiatan yang dipilih oleh SMA Santa Ursula BSD adalah live in.

Konsep kegiatan live in SMA Santa Ursula BSD sangat  khas. Di dalam kegiatan ini, kami, peserta didik kelas 12, diajak untuk tinggal bersama dan mengalami perjumpaan dengan warga di dusun yang kami tinggali. Kami harus bisa meninggalkan kebiasaan kami di rumah dan menyesuaikan diri dengan kebiasaan masyarakat di Boro. Kami diajak untuk memberikan diri kami seutuhnya dan mengikuti seluruh kegiatan yang dilakukan oleh anggota keluarga di rumah. Dengan hati yang terbuka, kami dituntut untuk bisa mendekatkan diri dengan keluarga baru kami dan menemukan hal-hal berkesan dan berharga.

Pada tahun ini, kegiatan live in kami laksanakan di daerah Boro, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan dimulai dengan keberangkatan kami pada tanggal 24 Agustus dan selesai waktu kepulangan kami pada tanggal 29 Agustus 2019. Kegiatan live in kami kemudian ditutup dengan refleksi dan merencanakan tindak lanjut sebagai ungkapan syukur dan terima kasih karena kami telah diterima oleh warga desa setempat dengan sangat luar biasa.

Ada 4 dusun yang dijadikan tempat tinggal kami, yaitu Nyemani, Madigondo, Balong, dan Tetes. Di sana, masing-masing dari kami tinggal berpasangan dengan teman dari sekolah dan juga keluarga pemilik rumah. Rata-rata, penghuni desa-desa itu sudah berusia lanjut, tetapi ada pula yang masih memiliki anak yang tinggal di rumah itu. Hampir semua orang di daerah itu berprofesi utama sebagai petani. Ada juga yang bekerja sebagai guru, pedagang atau pemilik warung, peternak, dan lainnya. Di rumah saya, Pak Bandi, Ibu Marjinem, dan Pak Mardi bekerja sebagai petani. Mereka memiliki kebun dengan berbagai tanaman, yaitu cengkeh, kapulaga, salak, kelapa, pisang, vanili, dan kemukus. Mereka juga memiliki beberapa hewan ternak seperti ayam dan kambing. Hidup keluarga ini sangat bergantung pada hasil penjualan panenan tanaman-tanaman tersebut, sama seperti banyak keluarga lainnya di daerah Boro.

Setiap hari, kami melakukan aktivitas yang dilakukan oleh anggota keluarga di rumah kami. Saya bersama teman serumah ikut Ibu ke hutan dan memanggul pulang kayu serta blarak dengan kain yang dipinjamkan Ibu. Kami turut menemani Bapak dan Ibu menjemur cengkeh di pagi hari dan mengumpulkannya kembali ketika hari sudah sore. Tak lupa, kami pun sering berkeliling ke lingkungan sekitar dan bertemu dengan warga lainnya. Di rumah dengan tungku sederhana, seperangkat alat masak, dan berbagai macam bahan makanan, kami membantu Ibu menyajikan hidangan yang akan disantap hari itu. Di samping itu, setiap hari kami juga melakukan kegiatan refleksi bersama teman-teman dari sekolah yang tinggal di desa yang sama. Kami diajak untuk menceritakan pengalaman dan pelajaran berharga yang kami dapatkan dari pengalaman tersebut.

Di dalam proses kegiatan ini, kami bisa menangkap dan merasakan banyak hal terkait dengan kekhawatiran masyarakat di sekitar kami. Ada yang agak lelah menanti musim hujan yang tak kunjung datang. Ujung-ujungnya, tanaman yang telah dirawat tidak bisa memberikan hasil panen yang baik. Ada pula yang pernah menjadi korban pencurian cengkeh yang telah dijemur. Lain lagi, ada keluarga yang selalu mengharapkan pulangnya putra-putri yang tengah merantau supaya rasa kesepian itu cepat menghilang.

Namun, di balik itu semua, hadir pula tawa dan kebahagiaan sebagai penyeimbang. Ada ucapan syukur yang dipanjatkan ketika hujan turun. Ada tawa yang dibagikan dalam setiap perjumpaan di berbagai sudut dusun. Ada bincang hangat yang turut hadir bersama datangnya sanak saudara-dan anggota keluarga baru-seperti saya dan teman-teman. Bersama mereka, saya bisa melihat bahwa kehadiran masyarakat yang selalu memberikan dukungan dan penguatan memiliki peran yang sangat penting bagi setiap pribadi di sini. Itulah yang membuat mereka selalu bertahan meski tengah menghadapi masalah.

“Saya bisa menemukan nilai daya juang dari kegiatan ini. Meski warga di sana memiliki kekurangan dari segi ekonomi dan akses terhadap hal-hal tertentu, mereka tetap menjalani aktivitasnya dengan semangat dan tak pernah sedikit pun mengeluh. Selain itu, saya merasakan kebersamaan antarwarga desa yang tak pernah dirasakan di kota. Hal ini tercermin dari keakraban warga yang terlihat dalam setiap kesempatan yang ada,” papar Bonaventura Pawitra (XII-MIPA2) terkait pengalaman yang diperoleh dari kegiatan live in. Selain Witra, Jessica Devy (XII-IPS2) memaparkan bahwa perjumpaan dengan keluarga Bapak Sukarman merupakan pengalaman penting baginya. Pelajaran tentang ketulusan, selalu bersyukur, dan kesederhanaan ia dapatkan di tengah-tengah keluarga itu. Ia merasa seperti terisolasi karena jauh dari hiruk pikuk kota, tidak ada gawai, jauh dari keluarga asli, dan tidak boleh mengunjungi teman. Namun, ia tak menyangka bahwa ternyata semua itu sangat membantunya dalam mengolah hidup dengan lebih baik. Selain kedua teman saya ini, tentu seluruh peserta live in memiliki cerita masing-masing dan dari cerita itu kami belajar berbagai macam hal yang tentu sangat membekas dan berguna bagi kami ke depannya.

Tanah Boro telah dan akan terus melahirkan sosok-sosok hebat yang daripadanya kami belajar banyak hal. Saya sendiri semakin memahami arti kerja keras yang wujudnya akan selalu berbeda bagi setiap orang dan bahwa semuanya harus diapresiasi sebagai penghormatan atas hidup manusia. Rasa syukur atas segala yang dimiliki semakin  saya pahami sebagai syarat mutlak untuk hidup bahagia, sesederhana apa pun hidup itu sendiri. Di atas semua itu, hal terbesar (namun sederhana) yang saya dapatkan adalah menemukan kembali makna keluarga. Keluarga adalah rumah bagi setiap orang yang datang padanya, yang mampu menghadirkan kehangatan dan menjadi tempat berlindung. Keluarga bukan (hanya) tentang ikatan darah, melainkan tentang relasi dan bersatunya jiwa yang menghuni raga orang-orang di dalamnya.

Pada akhirnya, perjalanan ini adalah tentang nilai-nilai baik, butir-butir penting atas semua peristiwa yang terjadi dan kami alami, dan kami semua telah menemukannya. Matur nuwun sanget, Boro!

Sabina Prajnamalini Pusposari Sumarno

XII-IPB/10

Kampus Santa Ursula BSD : https://www.sanurbsd-tng.sch.id/

Serviam

JAKARTA, SERVIAMNEWS.com– Keluarga besar KB-TK, SD, SMP, SMA-SMK Santa Theresia Jakarta merayakan pesta pelindung kampus. Para siswa, guru, karyawan menyatakan syukur bersama dalam Misa meriah yang dipimpin oleh Romo Agustinus Purwantoro SJ atau yang akrab disapa Romo Ipung di lapangan Kampus Santa Theresia, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 3/10. Misa bertajuk “Melakukan Hal Kecil Dengan Cinta yang Besar” ini diawali dengan pembacaan riwayat singkat Santa Theresia.  

Dalam homilinya, Romo Ipung menjelaskan mengenai pertanyaan murid-murid Yesus kepada Yesus yaitu siapakah yang terbesar di Kerajaan Allah? Yang terbesar, lanjut Romo Ipung, bukanlah mereka yang memiliki followers paling banyak di Youtube. Dunia sekarang, telah berubah, generasi milenial banyak yang tidak mau melanjutkan sekolah dan memilih profesi menjadi Youtuber.

Mereka menilai bahwa tidak perlu melanjutkan sekolah tinggi, karena dengan membuat content, upload di Youtube, sudah menghasilkan uang atau mungkin menjadi terkenal. Tetapi perlu kita ingat, bahwa seorang Youtuber tidak tiba-tiba menjadi besar.” Dalam setiap proses pasti diperlukan ketekunan. Begitu pula Santa Theresia yang dipanggil tidak langsung menjadi sukses,” kata Romo Ipung.

Sejatinya, kita semua dipanggil untuk mencintai Tuhan. Jika kita mencintai seseorang, maka kita akan mudah melakukan hal-hal berat. Seperti halnya, orang tua yang bekerja berjam-jam dari pagi sampai malam itu semua karena cintanya kepada anak-anak. “Santa Theresia saat umur 12 tahun sudah ingin menjadi suster tetapi ditolak pimpinan karena masih terlalu muda. Lalu ia pergi ke Paus. Dari sini terlihat, bahwa dalam diri Santa Theresia sudah ada niatan kuat. Begitu pula dalam diri anda juga ada keinginan kuat, bukan hanya untuk sukses tetapi juga keinginan kuat untuk belajar setia dalam perkara kecil,” ungkap Romo Ipung.

Keutamaan Santa Theresia

 Usai Misa, para guru dan karyawan menghadiri acara kekeluargaan bersama di Auditorium Santa Theresia. Acara diisi dengan penampilan seni dari para siswa dan pemberian penghargaan kepada karyawan dengan masa bakti kerja 30 tahun, 25 tahun, 20 tahun, 15 tahun, 10 tahun, dan 5 tahun.

Dalam sambutannnya, Ketua III Yayasan Ananta Bhakti, Sr Florentia Mujiyati, OSU mengungkapkan mengenai dua keutamaan yang dimiliki Santa Theresia. Pertama, Santa Theresia memiliki sikap manja, tetapi dia sadar dan mohon Rahmat Tuhan agar hidup lebih baik. Itulah, saat rahmat bagi Santa Theresia.

“Theresia merefleksikan diri, begitu pula kita yang memiliki titik lemah. Kita harus menyadari itu, mohon Rahmat Tuhan agar diberi kerendahan hati. Kita harus sadar akan titik lemah masing-masing,” kata Sr Floren.

Kedua, lanjut Sr. Floren, Santa Theresia bersedia melakukan hal-hal kecil dengan setia dan tulus.” Jadi, mari kita hidupi dua keutamaan Santa Theresia,” ajak Sr Floren.

Aprianita Ganadi

Kampus Santa Theresia Jakarta : http://www.sttheresia-jkt.sch.id/

Serviam

TANGERANG, SERVIAMNEWS.com– Kampus Santa Ursula BSD pada tahun 2020 akan memasuki usia ke-30 tahun. Oleh karena itu, untuk merayakan 30 tahun berdirinya sekolah, OSIS SMA Santa Ursula BSD menyelenggarakan kegiatan Implementasi Wajah Olahraga (ISWARA). Kegiatan pertandingan olahraga ini sejalan dengan visi dan misi OSIS tahun ini, yang mengutamakan keterbukaan, terutama dalam membangun relasi dengan sekolah-sekolah di Jabodetabek. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi awal dari relasi-relasi baik, bukan hanya antara tuan rumah dan peserta, namun juga antar peserta sendiri.

Acara diselenggarakan di kampus Santa Ursula BSD mulai hari Senin- Jumat, 12-16/8. Terdapat 3 cabang perlombaan, yaitu futsal, basket, dan voli, yang kemudian dibagi lagi dalam kategori putra dan putri. Bila ditotal, ada 30 sekolah yang berpartisipasi dalam ISWARA 2019, dari yang dekat seperti SMAN 7 Tangerang Selatan, hingga yang jauh seperti Kolose Kanisius. Antusiasme dan semangat, terutama yang ditunjukkan oleh siswa-siswi Santa Ursula BSD, menjadi tanda kebahagiaan karena akhirnya Santa Ursula BSD menjadi tuan rumah dalam sebuah ajang olahraga dalam waktu yang begitu lama.

Sejak acara pembukaan, keberagaman dan euforia sudah sangat terasa di kalangan peserta maupun spektator. Terutama dengan kehadiran Barisan Ursa (BURSA), yang mengangkat bukan hanya tangan dan suara, namun juga semangat untuk bersenang-senang dan bertanding secara sportif di lapangan. Sedangkan, SMA Santa Ursula BSD, sebagai tuan rumah, mengirimkan 1 tim untuk setiap cabang perlombaan, kecuali futsal putra yang mengirim 2 tim. Setiap tuan rumah bertanding, kecintaan terhadap almamater di kalangan siswa-siswi yang menjadi penonton sangat terlihat, dengan diteriakkannya yel-yel penyemangat. Salah satu kebiasaan yang menonjol adalah menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum pertandingan dimulai. Pada saat itu, semua perbedaan dan persaingan sejenak dilupakan untuk bersama-sama mengakui diri sebagai bangsa Indonesia.

Semua pertandingan yang berawal dengan sistem grup diakhiri dengan pertandingan final yang sangat sengit, terutama di cabang basket dan voli putra. Akhirnya, SMAN 11 Tangerang Selatan merebut juara pada ajang futsal putra, dan SMAN 7 Tangerang Selatan pada ajang futsal putri. Dalam ajang voli, SMAN 8 dan SMAN 1 dari Tangerang Selatan berhasil menjadi juara putra dan putri. Sementara itu dalam cabang basket, Kolose Kanisius Jakarta merebut gelar juara basket putra, dan Tarakanita Citra raya dengan gelar juara basket putri.

Lima hari di lapangan akhirnya ditutup dengan acara pembagian hadiah dan penampilan modern dance dari 2 sekolah, yaitu SMA Ora et Labora dan SMA tuan rumah, Santa Ursula BSD. Berakhirnya kegiatan ISWARA 2019 bukan berarti relasi dan hubungan baik yang sudah dibangun dapat juga berakhir dan dilupakan begitu saja. Justru, berakhirnya ISWARA 2019 menjadi awal dari berbagai persaingan sehat lainnya antar sekolah dalam bidang olahraga, terutama untuk para peserta lomba yang dikirim tuan rumah sendiri.

Panitia yang telah bekerja keras, para peserta yang gigih dan sportif, para supporter yang bersemangat, serta berbagai pertandingan akan menjadi memori yang sangat berkesan, sebagai awal perayaan 30 tahun berdirinya Santa Ursula BSD. Semoga kedepannya, relasi yang sudah dibangun dapat semakin dikembangkan, terutama dalam kegiatan-kegiatan eksternal yang mengundang sekolah-sekolah tetangga. Sampai jumpa tahun depan!!

Luisa Carmel

Kampus Santa Ursula BSD : https://www.sanurbsd-tng.sch.id/

Serviam

TANGERANG, SERVIAMNEWS.com– Pelatihan fisik dan mental merupakan bagian dari proses pengembangan karakter di SMA Santa Ursula BSD, sesuai dengan visi dan misi sekolah “Cerdas, Utuh dan Melayani”. Maka, sekolah bekerjasama dengan pihak luar yang kompeten dalam bidangnya (RINDAM JAYA), untuk mengembangkan fisik dan mental peserta didik yang telah mereka miliki. Setiap tahun SMA Santa Ursula BSD selalu mengirimkan peserta didiknya di kelas X untuk berlatih ke Dodiklatpur RINDAM JAYA, Gunung Bunder, Jawa Barat.

Pada tahun ini, tepatnya 29-31 Agustus 2019, pelatihan fisik dan mental di SMA Santa Ursula BSD dilakukan. Pelatihan fisik dan mental memiliki tujuan yang jelas, terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Pelatihan ini dirancang sebaik dan seaman mungkin bagi peserta didik. Pelatihan ini memang bekerjasama dengan pihak militer, namun bukan berarti ingin melakukan militerisasi kepada peserta didik. Bukan berarti pula menyerahkan sepenuhnya proses kedisplinan, fisik dan mental kepada pihak luar. Pelatihan ini bertujuan untuk mengembangkan value yang sudah sekolah miliki.

Sebuah usaha untuk menjadi lebih sehat dan disiplin akan sangat mendukung peserta didik dalam proses belajar, khususnya di SMA Santa Ursula BSD dengan berbagai macam kegiatan dan tuntutannya. Tolak ukur kesehatan bukan hanya secara fisik tetapi juga mentalitas, karena dengan kekuatan jiwa yang baik peserta didik mampu mengatasi sebuah hambatan fisik yang ada. Pelatihan ini menekankan optimalisasi, artinya peserta didik bukan dituntut melakukan secara maksimal.

Optimal berarti mampu mengukur batas kemampuannya, sehingga tidak memaksakan diri. Optimalisasi erat dengan value ketekunan dan sikap untuk pantang menyerah dalam menghadapi setiap tantangan. Optimalisasi mengajak peserta didik berani keluar dari zona nyaman, rasa takut dan batasan-batasan pemikirannya. Optimalisasi juga menuntut adanya kerjasama tim dan rasa kepedulian kepada sesama. Konsep yang dipegang adalah “jika satu orang melakukan kesalahan, kesalahan itu pasti disebabkan karena ketidakpedulian seluruh anggota kelompok.” Maka sanksinya yang diterapkan tidak hanya bagi satu orang saja tapi bagi seluruh anggota kelompok.

Optimalisasi juga menekankan kemampuan menangkap instruksi dan menjalankannya dengan tepat dan cepat seperti dalam pelatihan baris-berbaris. Kesadaran untuk menjadi pribadi disiplin yang didasarkan pada kepentingan bersama merupakan kuncinya. Menjadi disiplin bukan karena takut dihukum, tetapi karena sadar bahwa tindakan yang dilakukan akan berdampak juga kepada orang lain. Optimalisasi mengembangkan kemandirian sehingga peserta didik dapat mengatur hidupnya sendiri tidak melulu tergantung kepada orang lain.

Maka, dalam mencapai optimalisasi tersebut, materi-materi yang diberikan kepada peserta didik meliputi wawasan kebangsaan, latihan upacara bendera, pelatihan fisik (push up, seat up, lari, dll), kedisplinan, persiapan baris-berbaris, CMI (Cara Menyampaikan Instruksi), survival,  caraka malam, mountaineering, roleplay dan tracking menuju ke Curug Kondang, Gn. Bunder, Jawa Barat. Khusus pada waktu tahun ini materi mountaineering tidak dapat diberikan karena sarana sedang digunakan untuk latihan tempur TNI bagi para perwira dan adanya pelantikan perwira TNI.

Lorensius Eka Setiawan

Kampus Santa Ursula BSD : https://www.sanurbsd-tng.sch.id/

Serviam

MALANG, SERVIAMNEWS.com– Asa memang sudah selayaknya tidak hanya dibayangkan dalam benak namun juga harus ada usaha-usaha untuk meraihnya. Pada Senin, 9 September 2019, SMA Cor Jesu, Malang, Jawa Timur menggelar Pameran Perguruan Tinggi guna mempersiapkan para siswa semakin dekat meraih cita dan asa. Acara yang diikuti oleh 33 Perguruan Tinggi Swasta, baik yang berasal dari dalam kota, luar kota, maupun luar negeri ini diawali dengan apel pembukaan kemudian pemotongan pita oleh Kepala SMA Cor Jesu, Ibu Agatha dan suguhan apik dari Tim Orkestra SMA Cor Jesu. Riuh tepuk tangan seluruh peserta apel menjadi awal semangat yang baik dalam berlangsungnya kegiatan ini.

Acara yang diikuti oleh seluruh siswa SMA dan siswa kelas XII SMK serta terbuka untuk umum ini diadakan di lapangan basket SMA Cor Jesu Malang dan presentasi setiap perguruan tinggi dilaksanakan dalam ruangan kelas-kelas. Acara berlangsung dari pukul 07.00 pagi hingga 15.00 sore, sepanjang acara, para siswa tampak antusias menggali segudang informasi dari tiap Perguruan Tinggi.

Pemateri dari tiap Perguruan Tinggi mengaku senang membagikan informasi-informasi berharga kepada seluruh siswa Cor Jesu. Mereka berharap kegiatan ini terus dilakukan karena siswa dan orang tua berhak mendapatkan informasi penting seputar jurusan, program beasiswa, dan fasilitas kampus yang akan menjadi tempat menimba ilmu setelah lulus SMA.

Sementera itu, ketua Panitia, Pak Sugik memaparkan bahwa anak-anak sangat terbantu dengan adanya kegiatan Pameran Perguruan Tinggi ini. “Semoga acara yang rutin diadakan setahun sekali ini dapat membantu siswa memberikan gambaran masa depan mereka. Kalau tidak dipersiapkan mulai sekarang, lalu kapan lagi,” kata Pak Sugik.

Fransiska Y

Kampus Cor Jesu Malang : https://www.smakcorjesu.org/

Serviam

SUKABUMI, SERVIAMNEWS.com– Kampus Yuwati Bhakti, Sukabumi, Jawa Barat mengadakan penyegaran rohani bagi seluruh karyawan untuk menggali spiritualitas dan budaya kerja dalam terang Roh Kudus. Penyegaran rohani dikemas dalam bentuk rekoleksi bagi tenaga penunjang dan retret bagi tenaga pendidik dan kependidikan yang dibimbing oleh Br. G. Bambang Nugroho, FIC.

Rekoleksi tenaga penunjang dilaksanakan pada hari Kamis, 12 September 2019 mulai pukul 07.30 – 15.00 WIB. Mereka diajak masuk ke dalam diri untuk menemukan kebahagiaan dalam bekerja, mensyukuri tugas panggilan hidupnya, dan bangga atas pekerjaan meskipun kecil dan sederhana. Kesadaran itu akan membawa mereka semakin dewasa, menghargai setiap pekerjaan, punya rasa memiliki, dan dekat dengan Tuhan.

Tenaga pendidik dan kependidikan masuk dalam suasana retret mulai Kamis, 12 September – Sabtu, 14 September 2019. Ada 5 hal yang menjadi bahan permenungan dalam retret yaitu bersyukur akan kasih karunia Allah, menemukan makna kebahagiaan, bersyukur atas rahmat pengampunan, spiritualitas dan budaya kerja dalam konteks pendidikan, dan sinergitas dalam keberagaman.

Permenungan dimulai dengan  menyadari cinta Tuhan yang pernah dialami dalam setiap perjumpaan dengan sesama, mulai dari orang yang paling menyayangi yang ikut membentuk pribadi seseorang. Kesadaran akan kasih Allah yang tak terbatas mampu menghasilkan kebahagiaan batin hingga mendorong seseorang memiliki antusiasme yang tinggi, selalu bersyukur, gembira, bersemangat, serta mampu membagi kebahagiaan kepada orang lain.

Kebahagiaan kadang ternoda oleh pengalaman buruk yang dialami seseorang, jurang antara harapan dan kenyataan terlalu jauh, serta relasi dan komunikasi yang buruk. Untuk mengembalikan kebahagiaan yang terkoyak perlu rahmat pengampunan dari Tuhan yang akan menyembuhkan dan membuka ikatan-ikatan yang mengganggu relasi dengan orang lain. Mengampuni memang tidak mudah namun bila rahmat itu hadir dalam diri seseorang, pengampunan akan terjadi, relasi pun terjalin kembali. Melalui relasi yang erat dengan Allah lahirlah spiritualitas (roh) yang mendorong seseorang untuk bekerja dengan baik dan bahagia. Bekerja akan bermakna ketika dihayati sebagai penghargaan akan kasih Allah dan menjadi rekan kerja Allah untuk membangun dunia ini.

Kerja sama dalam satu komunitas karya menghasilkan energi yang besar. Setiap orang harus mengoptimalkan dan menyadari pentingnya tiap peran dalam membangun budaya sinergitas yang didasari satu visi, misi, dan tujuan yang sama. Kesamaan visi akan mempercepat gerakan maju untuk mencapai tujuan dan hasil yang gemilang. Semoga rahmat yang tercurah dalam retret mampu mendorong tiap pribadi untuk bekerja dengan bahagia dan rasa nyaman serta menghadirkan serviam dalam tiap karya di Kampus Yuwati Bhakti Sukabumi.

Agnes Trimaryunani

Kampus Yuwati Bhakti Sukabumi: http://kampusyuwatibhaktisukabumi.or.id/

Serviam

JAKARTA, SERVIAMNEWS.com–  Santa Theresia mengadakan Open House Saint Theresia Competition Award (STCA) bertajuk “Grow with Talent” atau bertumbuh dalam berbagai talenta di Kampus Santa Theresia, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat-Sabtu, 13-14/9.  Pada awalnya, STCA diselenggarakan untuk unit SD, akan tetapi pada tahun ini panitia melakukan insieme atau bersinergi dengan unit KB/TK dan SMP. Acara yang rutin diadakan setiap tahunnya ini, diisi dengan berbagai lomba dan penampilan dari tingkat KB/TK, SD, SMP, aneka permainan, bazar, pendaftaran online, booth alumni, dan lain-lain.

Menurut Penasehat Acara, Sr Theresia Ike Rachmadianawati, OSU tujuan STCA, pertama untuk memberi wadah bagi anak-anak TK, SD, dan SMP terutama yang menyukai bidang seni dan olahraga untuk menunjukkan kebolehannya. Kedua, sekolah membuka pintu bagi orang tua dan khalayak terutama yang belum mengenal Santa Theresia untuk datang.  Ketiga, sebagai salah satu kesempatan untuk promosi sekolah.

Dalam acara, lanjut Sr Ike, semua keluarga besar Kampus Santa Theresia Jakarta ikut terlibat sebagai panitia. Anak-anak dilibatkan misalnya menjadi Master of Ceremony (MC), presentasi menjelaskan profil sekolah, mengajak tamu untuk tour ke sekolah, terlibat dalam petugas kebersihan, dan lain-lain. “Anak-anak menjadi pemimpin dalam berbagai macam kegiatan dan tugas yang diberikan,” kata Sr Ike.

Setelah acara ini, harapannya anak-anak dapat diberi kesempatan untuk berlatih kepemimpinan dalam berbagai hal mulai dari menjadi panitia sampai menjadi petugas-petugas khusus. Selain itu, agar kerjasama atau insieme antar unit sekolah dapat lebih erat. “Agar kami menjadi lebih semangat dalam satu rasa sebagai keluarga besar Kampus Santa Theresia, Jakarta,” ungkap Sr Ike.  

Aprianita Ganadi  

Kampus Santa Theresia Jakarta : http://www.sttheresia-jkt.sch.id/

Serviam