SUKABUMI, SERVIAMNEWS.com– Ursulin Sukabumi yang dikenal oleh masyarakat melalui karya di sekolah Yuwati Bhakti dan Rumah Retret “Griya Angela” ikut serta menanggapi ajakan Bapa Paus Fransiskus untuk bersatu dalam doa, puasa, dan karya amal pada Kamis, 14 Mei 2020. Ajakan ini guna memohon agar Tuhan membantu umat manusia mengatasi pandemi virus corona. Doa yang memiliki nilai universal ini dilakukan oleh semua umat beragama di seluruh dunia dengan ujud doa khusus penanganan Covid- 19, tenaga medis, dan harapan agar virus ini segera berakhir.

Puasa berarti bermati raga mengendalikan segala ego, kesenangan duniawi, dan empati dengan kaum lemah yang diwujudnyatakan melalui karya amal. Bukan besarnya, banyaknya atau nilai lebihnya yang diberikan tetapi kualitas kasih dan ketulusan hati yang terkandung dalam doa, puasa, dan karya amal ini yang hendak dipersembahkan kepada Tuhan, Sang Pemberi hidup. 

Doa dilaksanakan dari pagi hari hingga malam hari mulai dengan doa ofisi, ekaristi dan adorasi secara bergiliran di Kapel Ursulin, Jalan Suryakencana No. 39, Sukabumi, Jawa Barat. Puasa dilakukan oleh para suster, pegawai kependidikan dan penunjang sekaligus solider dengan umat muslim yang sedang menjalankan puasa Ramadhan. Karya amal dilakukan dengan membagikan 100 paket sembako kepada sopir angkot yang setiap hari lewat di depan Kampus Yuwati Bhakti Sukabumi dan 35 keluarga yang terdampak Covid-19.

Sebelumnya, kami juga telah berbagi kepada keluarga sekitar yang kekurangan,  pemulung, dan tukang becak. Meski tidak banyak, diharapkan paket sembako ini dapat memberikan secercah kebahagiaan dalam keluarga mereka di tengah pandemi yang sedang melanda dunia ini dan berdampak langsung dengan adanya Pembatasn Sosial Berskala Besar (PSBB).

Beberapa sopir sempat berbagi pengalaman dengan kami di sela-sela pengambilan paket sembako, salah satunya Bapak Nanang yang sehari-hari membawa angkot nomor 14 berwarna putih denngan rute Jalan Bhayangkara – Dept. Jogya. Bapak dari tujuh anak tersebut menceritakan bahwa selama pandemi ini sangat susah mencari penumpang, apalagi selama PSBB di Kota Sukabumi, hanya boleh membawa 50% kapasitas penumpang. Ini sangat menyulitkan dirinya yang setiap hari  harus menyerahkan uang setoran kepada pemilik angkot antara Rp 60.000 – Rp 80.000.

Menurutnya, bantuan sembako semacam ini sangat membantu untuk kelangsungan hidup mereka meski hanya beberapa hari, sebab selama pandemi ini, mereka hanya memperoleh penghasilan maksimal Rp 30.000 per hari. Namun mereka tetap sabar, tawakal, berserah pada Tuhan, dan mengikuti anjuran pemerintah dengan menggunakan masker, menjaga jarak fisik, dan segera kembali ke rumah bersama keluarga ketika hari menjelang senja.

Semoga doa, puasa, dan karya amal yang dilakukan serentak oleh umat manusia di seluruh dunia hari ini didengar dan diterima oleh Tuhan Sang Pencipta alam semesta. Duka dunia segera terlewati, umat manusia dapat beraktivitas normal kembali dengan hidup yang baru, lebih manusiawi, toleran, serta mengedepankan kebahagiaan sesama dan alam semesta serta makhluk ciptaan Tuhan lainnya.

Agnes Tri Maryunani (Humas Kampus YB)

Kampus Yuwati Bhakti : http://kampusyuwatibhaktisukabumi.or.id/

Serviam

SUKABUMI, SERVIAMNEWS.com–  Sejak tanggal 15 Maret 2020 hingga kini, peserta didik dan pendidik Kampus Yuwati Bhakti melaksanakan kegiatan belajar dan bekerja dari rumah (Learn and Work from Home) sesuai anjuran pemerintah untuk memutus rantai penularan Covid -19. Tentu saja, metode pembelajaran berubah total. Pembiasaan perilaku menjadi salah satu pilihan yang cepat, mudah, serta mampu meningkatkan karakter peserta didik, seperti merapikan tempat tidur, memasak, menyiram tanaman, mencuci mobil, dan membersihkan rumah.

Tugas mandiri pun dipilih untuk meningkatkan kreativitas dan percaya diri, seperti menulis dan membaca puisi, menyanyi, membuat video kegiatan dan pembelajaran, menulis cerita, membuat mind mapping, kerajinan tangan, mendengarkan berita, mengerjakan soal-soal, dan menyaksikan pembelajaran di TVRI. Untuk menjalin komunikasi antara pendidik dan peserta didik ada yang menggunakan video tutorial, video call, dan aplikasi zoom. Hampir semua kecanggihan teknologi informasi yang memungkinkan digunakan untuk memfasilitasi pembelajaran online. Tentu, itu membutuhkan kerja keras, kemauan, dan kreativitas semua pendidik, terutama  yang belum akrab dengan kecanggihan teknologi informasi.

Di tengah keprihatinan ini, warga Kampus Yuwati Bhakti  memaknai pandemi sebagai suatu rahmat dan kesempatan yang diberikan Tuhan untuk mengubah pola hidup baik secara pribadi maupun kelompok. Bapak Petrus (Guru kelas VI) yang sempat heran atas pilihan Bapak Presiden kepada Pak Nadiem sebagai menteri pendidikan akhirnya melihat bukti kemampuan Sang Menteri  dalam menyikapi persoalan pendidikan di tengah pandemi, yang sangat membantu peserta didik maupun pendidik dengan adanya pembelajaran di TVRI.  

Selama bekerja di rumah,  ia pun semakin terpacu mempelajari aplikasi pembelajaran online yang lebih banyak lagi agar mampu memberikan pelayanan secara maksimal. Ibu Yuliyanti (Guru kelas III) memaknai pandemi sebagai kesempatan untuk lebih dekat dengan Tuhan. Ia menjadi lebih peduli kepada keluarga, kebersihan, dan kesehatan. Ibu Aniek (Guru kelas II) merasa lebih dekat dengan keluarga,  kreatif, dan memiliki banyak waktu untuk memikirkan tujuan, visi dan misi hidup, serta peluang bisnis. Situasi ini juga direfleksikan sebagai usaha pembenahan diri, mengubah cara hidup, cara kerja, serta relasi dengan sesama dan Tuhan.

Ibu Heny (guru SMP) menyoroti bahwa pandemi ini mampu menonjolkan peran orang tua sebagai pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Miss Sera (Guru TB-TK) memaknainya sebagai rasa syukur dan  bersikap nrimo atas rahmat profesi dan keberadaannya sebagai seorang pendidik yang mampu memberi motivasi bagi peserta didik dan orangtua selama pandemi. Bapak Dedy (guru kelas III) memaknainya sebagai kesempatan untuk lebih memperhatikan pola hidup sehat, kreatif memanfaatkan kecanggihan teknologi, serta  pentingnya menghargai dan mengapresiasi  jasa  orang lain, seperti tenaga medis yang saat ini menjadi garda terdepan dalam perang melawan Covid -19. Perayaan Ekaristi yang sangat berbeda, terutama Pekan Suci yang harus dilakukan di rumah ternyata sangat menyentuh relung hati dan berkobarnya kerinduan terhadap kehadiran Tuhan.

Perubahan positif pun terjadi. Pendidik  berjuang membuat video tutorial dan mempelajari aplikasi zoom untuk menyapa dan menjelaskan materi kepada peserta didik secara online, yang selama ini jarang dilakukan. Peserta didik semakin sadar atas perannya sebagai pelajar, anak, dan anggota masyarakat, berani mengekspresikan diri  dengan meng-upload video kegiatannya di youtube, dan secara sadar menghayati nilai-nilai pendidikan yang diajarkan di sekolah, salah satunya disiplin stay at home. Orangtua semakin sadar akan perannya sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak dan setia membimbing mereka dalam mengerjakan tugas sekolah.  Meski berat bagi siapa pun dampak pandemi ini, semoga setitik rahmat yang bisa tergenggam mampu memberi energi dan kesanggupan untuk tetap survive serta menyalurkan energi baru bagi orang lain.

Agnes T.M – Humas Kampus YB

Kampus Yuwati Bhakti : http://kampusyuwatibhaktisukabumi.or.id/

Serviam

BANDUNG, SERVIAMNEWS.com-  Untuk mengatasi keterbatasan akses jaringan internet dan juga bahan pembelajaran daring selama wabah Covid-19, Mendikbud Nadiem Makarim menggandeng TVRI menginisiasi program “Belajar dari Rumah”.  Kampus Santa Angela, Bandung pun berpartisipasi mengikuti program tersebut. Bekerjsama dengan para guru dan orang tua, mereka mengajak anak-anak ikut serta dalam pembelajaran ini mulai Senin, 13 April 2020.

Setiap hari ada pembelajaran yang dapat disimak oleh anak-anak di rumah dengan panduan jadwal yang diberikan guru melalui media sosial. Adapun materi pembelajaran yang disajikan akan fokus pada peningkatan literasi, numerasi, serta penumbuhan karakter peserta didik. Meskipun kerinduan untuk belajar di sekolah selalu ada tetaplah semangat ya, anak-anak!

Kampus Santa Angela Bandung : https://www.santa-angela.sch.id/

Serviam

SURABAYA, SERVIAMNEWS.com -Wabah virus Corona (COVID-19) merambah penjuru dunia dengan begitu cepatnya, tidak terkecuali di Indonesia. SD Santa Maria Surabaya terimbas dampak tersebut. Yayasan Paratha Bhakti Surabaya mengambil tindakan pencegahan dengan cara bekerja (Work From Home)  dan belajar dari rumah (School From Home). Berikut catatan suka duka murid kelas 1 hingga kelas 6, orang tua murid, dan guru.  

Murid Bicara:

Monica Putri Dewayanti (murid Kelas 6): “Sukanya saya berada di rumah adalah dapat kumpul dengan keluarga, membuat kue bersama, dapat main game online lebih lama dengan teman-teman. Sukanya tidak dapat bertemu teman-teman di sekolah secara langsung. Semoga Corona segera berlalu!”

William Marvel Andaritji (murid kelas 2): “Sukanya adalah saya tidak perlu bangun pagi dan setelah mengerjakan tugas saya dapat tidur siang yang lama, bermain, dan menonton TV. Dukanya adalah saya tidak dapat bermain dan berkumpul bersama teman. Saya bosan hanya dirumah saja. Saya rindu semua Ibu Guru yang mengajar saya dan teman-teman. Semoga corona ini cepat selesai dan saya dapat kembali ke sekolah.”

Angela (murid kelas 1): “Sukanya tidak perlu bangun subuh, dapat tidur lebih malam dari jam biasanya. Tiap pagi dapat bermain sepeda sambil berjemur, lanjut main skipping. Siang, sore, kapanpun dapat bermain dengan mama (main bekel, karambol, lompat karet, ular tangga). Makan bisa lebih dari 3 kali dalam sehari, belum lagi nyemil ini itu. Dapat mengerjakan tugas-tugas sekolah secara online. Dukanya jauh lebih bahagia belajar di sekolah daripada di rumah. Rindu betemu teman-teman dan guru di sekolah.”

Tasia (murid kelas 5): “Selama belajar di rumah saya suka sekali karena dapat bangun siang, bisa tidur sampai malam. Saat belajar di rumah pun lebih banyak waktu bersama keluarga. Saat belajar di rumah, saya juga bisa belajar dengan bebas . Bisa belajar sambil makan, belajar sambil menonton tv, belajar sambil tiduran. Saat dirumah ada Penilaian Harian Online. Saya bisa ulangan tanpa buru-buru, tanpa waktu, bisa open book , pokoknya seru kalo ulangan di rumah . Tetapi di sisi lain saya sedih bila belajar di rumah. Terkadang bosan dan tidak bisa  keluar rumah. Saya kangen teman-teman.”

Shita (murid kelas 3): “Selama 4 minggu belajar di rumah, enak bisa bangun siang dan mengerjakan tugas bisa kapan saja. Saya juga bisa banyak bermain bersama keluarga di rumah.  Dukanya selama belajar di rumah adalah saya bosan karena terlalu lama belajar di rumah dan tidak dapat bermain bersama teman-teman. Kangen liat ikan di kolam ikan SD, kangen ibu guru dan kangen belajar  di kelas.”

Jerry (murid kelas 4): “Halo! Nama saya Jerry. Saya  mengerjakan tugas-tugas di rumah.  Saya kadang merasa bosan di rumah. Semoga saya segera masuk sekolah lagi.”

Guru Bicara:

Endang (Guru Kelas 6): “ WFH membuat saya dapat mengatur waktu untuk menyelesaikan pekerjaan sekolah dan rumah. Saya memanfaatkan aplikasi zoom, google classroom, google form, google drive, dan aplikasi camtag. Ada sedikit rasa kecewa karena terjadi perubahan mendadak  agenda kegiatan kelas 6. Namun, kami dapat menyusun kembali Agenda kelas 6 dengan waktu yang ada.”

Erika (Guru Kelas 1): “WFH??!! kosa kata yang sungguh sangat asing, bahkan tidak terbersit sedikitpun dalam benak. Biasanya kami selalu bertemu dengan murid sekarang hanya bertemu dengan video dan foto hasil pembelajaran yang dikirimkan orang tua mereka. Pembelajaran kali ini mengharuskan kami untuk membina kerjasama yang baik dengan orang tua.”

Orang Tua Bicara:

Mama William: “Pada hari pertama belajar online di rumah, saya merasa bingung apa yang harus dilakukan, dan ada sedikit kekhawatiran apakah saya bisa mendampingi William. Tantangannya adalah pembagian waktu karena saya masih bekerja dan bagaimana saya dapat menjelaskan materi dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak. Untungnya, dari pihak sekolah membantu dengan menggunakan aplikasi yang mudah dalam pengumpulan tugas. Saya dan William sangat terbantu dengan hal ini.”

Mama Tasia dan Shita: “Dampak online learning juga dirasakan orangtua karena perlu mendampingi anak menyelesaikan tugas-tugas.”

Mama Angela: “Lebih banyak waktu aktivitas bersama Angela. Sejak online learning  kegiatan belajar  bersama  dilakukan  lewat  Google Classroom. Dibutuhkan kesabaran mendampingi anak belajar di rumah. Saya baru menyadari, tugas jadi guru sungguh mulia.”

FX. Marjanto (Guru SD Santa Maria Surabaya)

Kampus Santa Maria Surabaya : https://sanmarosu.org/

Serviam

JAKARTA, SERVIAMNEWS.com –  Pemerintah DKI Jakarta mengumumkan kebijakan Online Learning pada pertengahan bulan Maret 2020.  SMK Santa Maria Jakarta melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara online dari rumah. Banyak kesan, cerita, suka, dan duka yang dialami para guru, siswa, dan orangtua siswa. Guru Tata Boga SMK Santa Maria, Ibu Fransikatri, menyampaikan pengalamannya: “pendidik dipacu untuk kreatif dalam menentukan model pembelajaran dan penggunaan media dalam proses Online Learning”.

Kendala yang dihadapi Ibu Fransikatri adalah disiplin kehadiran siswa saat kelas bersama dengan berbagai alasan. Selain itu keterbatasan waktu untuk menjelaskan materi. Siswa merasa lebih nyaman berkomunikasi tatap muka melalui video call.

Ibu Cicilia Ingga, guru Bahasa Indonesia SMK Santa Maria Jakarta menuturkan bahwa para siswa antusias melakukan online learning mengerjakan tugas.  Mereka tidak terpaku pada buku paket tetapi dapat menemukan sumber lain melalu internet. Siswa merasa tetap  nyaman berkomunikasi  tatap muka melalui video call.

Kendala lain yang terjadi adalah siswa kurang bijak dalam menggunakan data pembelajaran hasil penjelajahan internet. Guru mengalami sedikit kesulitan menentukan tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan.

Semangat Belajar

Saat ini, meski situasi sedang tidak kondusif karena wabah virus Corona, proses belajar mengajar terus berlangsung.  Para siswa dan guru tetap semangat belajar menggunakan metode pembelajaran jarak jauh (online learning).  Menurut Ibu Kristin Sibuea, Guru BK SMK Santa Maria Jakarta, kegiatan online learning, sangat membantu sehingga materi pembelajaran dapat disampaikan kepada para siswa dengan baik. Guru serta siswa dapat berkreasi dalam pembelajaran dengan membuat modul atau tutorial yang dapat mudah dipahami.

Hal ini sangat terbantu juga dengan banyaknya aplikasi yang bisa dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan modul yang menarik. Selain itu, para siswa pun tetap antusias mengikuti setiap kegiatan pembelajaran secara online karena mereka juga dapat melakukan pembelajaran tatap muka melalui perantaraan berbagai media yang digunakan.

Kendala teknis kadang terjadi, misalnya sarana yang digunakan dan jaringan koneksi internet lambat.  Koordinasi dan kerjasama yang baik dari semua pihak yaitu pihak yayasan, guru, siswa, serta orang tua siswa membantu pelaksanaan online learning.

Siap online learning

Bapak Tedy Setiawan, guru TIK SMK Santa Maria Jakarta, menyampaikan kesiapan guru dan siswa dalam pembelajaran online learning cukup bervariasi.  Sejatinya, tanpa persiapan dan waktu yang tepat kita berubah dari sistem belajar mengajar tatap muka di kelas menjadi pembelajaran dalam jaringan (daring) dengan memanfaatkan teknologi.

SMK Santa Maria Jakarta telah mengikuti pelatihan Pembelajaran Daring yang diselenggarakan oleh Yayayasan Nitya Bhakti selalu berkomitmen menjawab kebutuhan jaman dalam dunia pendidikan. Hal yang perlu diperhatikan adalah tujuan pembelajaran dengan berbagai sarana dan cara, yaitu: siswa senang belajar dan belajar dengan senang. Maka tugas-tugas yang diberikan hendaknya tidak membebani siswa  dan  orangtua yang  selama online learning  berperan  sebagai  “guru” di rumah. Nilai positif  adalah  banyak waktu berkumpul bersama keluarga. Hal   terpenting adalah keluarga terlindungi dari paparan COVID-19.

Ibu Ninuk Irmawati, Guru Bahasa Inggris, SMK Santa Maria Jakarta berpendapat pembelajaran online learning membutuhkan kreativitas guru dalam memberikan materi dan menentukan media pembelajaran sehingga membantu siswa memahami materi pelajaran. Guru menyiapkan, menyampaikan materi melalui aplikasi yang ditentukan oleh yayasan dan membuat laporan harian. Guru dan wali kelas berperan menjaga semangat, memotivasi, dan menyapa setiap siswa melalui aplikasi group kelas setiap hari.

Pentingnya Komunikasi

Ibu Lidia Rahayu, guru Bahasa Indonesia SMP Santo Vincentius Jakarta, Ibu mengungkapkan perlunya penyesuaian dalam pelaksanaan kegiatan online learning. Komunikasi intensif dibutuhkan antara orangtua siswa, siswa, kepala sekolah dan rekan kerja. Saling mendukung, saling mencerahkan, saling bersinergi positif, dan saling meneguhkan.

 “Situasi serius saat ini tidak terjadi sesaat, tapi seperti tidak terlihat kapan akan berakhir. Siswa lebih memilih berada di sekolah dan mulai merasa bosan di rumah, bosan mengerjakan tugas. Kangen diingatkan oleh guru, kangen teman-teman, kangen suasana sekolah, dan ternyata siswa merasa orangtua di rumah lebih galak dari gurunya,” cerita Ibu Lidia.

Lain cerita para guru, lain pula cerita dari orangtua siswa, seperti diungkapkan oleh Ibu Suzana Adelhyne, orang tua Murid SMK Santa Theresia Jakarta. Ia menuturkan bahwa siswa kelas besar mereka sudah mandiri. Jadi, yang perlu adalah mengingatkan dan menyiapkan kebutuhan lain. “Siswa yang sudah besar untuk belajar jarak jauh sangat efektif. Tetapi untuk kelas kecil masih sulit, mereka mulai jenuh tidak bisa bertemu dan bermain bersama teman-teman,” kata Ibu Suzana.

Hal senada juga diungkapkan oleh Gabby, siswa SMK Santa Theresia Jakarta, “Online learning menyenangkan dan praktis. Sedikit kendala adalah jaringan internet lambat ketika pengiriman tugas saja”

Aprianita Ganadi


SURABAYA, SERVIAMNEWS.com–   Jumat, 20 Maret 2020  pagi hari seluruh Kepala Satuan Pendidikan, Pendidik, Tenaga Pendidik, dan Tenaga Penunjang  SD-SMP-SMA Santa Maria Surabaya mengadakan kegiatan olahraga bersama. Tujuannya adalah meningkatkan daya tahan tubuh dan menjalin kebersamaan melawan Covid-19. Cuaca cerah dengan sinar matahari menyengat mengobarkan semangat persaudaraan. Acara dimulai dengan senam aerobic dilanjutkan dengan kegiatan lain yang meneguhkan kebersamaan dan meningkatkan stamina. Semua peserta terlibat aktif, menyatu dalam gempita musik dan gerakan dinamis.

Online Learning – Work from Home

Sejak Pemerintah daerah memberlakukan kebijakan pembelajaran jarak jauh (online learning) dan bekerja dari rumah (work from home), para guru didukung staf TIK kampus  melaksanakan dengan sungguh-sungguh.  Pembelajaran jarak jauh membutuhkan kerjasama baik antara guru, murid, dan orangtua murid.

Ibu Bernadetha Tay, Kepala Satuan Pendidikan SMP Santa Maria Surabaya, berbagi pengalaman sebagai berikut:

Hari pertama adalah mengadakan rapat untuk mendesain materi serta proses online learning menggunakan aplikasi google classroom. Kemudian menyusun jadwal mata pelajaran dengan menyertakan tema kebajikan setiap hari. Ibu Bernadetha bersama para guru sepakat menerapkan online learning yang membuat para siswa senang belajar di rumah. Hal ini akan berdampak pada ketahanan stamina-daya imun mereka.

Hari kedua, pembelajaran jarak jauh dimulai. Siswa menerima materi pembelajaran dan soal latihan. Siswa mengirim jawaban atau hasil belajar mereka melalui google form paling lambat pukul 18.00.  “Kami sengaja memperpanjang waktu pengerjaan agar siswa lebih nyaman dan bisa memasukkan values dengan lebih baik,” kata Ibu Bernadetha.

Minggu kedua, diadakan evaluasi serta menerima masukan dari orangtua siswa antara lain siswa kurang disiplin memanfaatkan waktu belajar di rumah. Maka pihak sekolah melakukan koordinasi berbekal pelatihan IT, Yayasan menggunakan aplikasi Zoom.

Tindak lanjut hasil evaluasi adalah membuat tata tertib kehadiran siswa pukul 07.00  dalam kelas Zoom dibawah pantauan wali kelas.  Pukul 09.00 siswa membantu orangtua. Pukul 11.00 siswa masuk ke saat hening dan meditasi. Pukul 12.00 siswa menunjukkan isian buku Healthy Balance Lifestyle kepada orangtua, kemudian doa penutup, dan doa Angelus. Para wali kelas dan guru Bimbingan Konseling secara intensif mengecek kondisi siswa melalui aplikasi Zoom, video call, whatsapp, atau line group. 

Guru mata pelajaran membuat video mengawali kegiatan pembelajaran untuk memotivasi dalam apersepsi dan penjelasan topik mata pelajaran. Setiap hari Jumat, English Day, pembelajaran disampaikan dalam bahasa Inggris.

Minggu ketiga, dilakukan evaluasi dan hasilnya lebih baik dari minggu sebelumnya. Siswa sudah beradaptasi dengan online learning. Orangtua siswa mendukung aktif dan positif.
Satu kegiatan ditambahkan, yaitu literasi. Siswa diminta membaca artikel atau buku setiap hari, menemukan intisari, dan merefleksikannya.

Pendidik, Role Model

Setiap guru pertama-tama melakukan sendiri sebelum meminta siswa melakukannya : bangun pagi, olahraga, meditasi, makan, sehat, dan berdoa. “Online learning dan Work from Home betapa pun bagusnya, tetap diiringi dengan kontrol dan motivasi dari guru kepada setiap siswa. Tatap muka dan sapaan kepada siswa membangun kedekatan hati. Personal touch tetap diurutan teratas,” lanjut Ibu Bernadetha.

FX. Marjanto (Guru SD Santa Maria Surabaya) dan Aprianita Ganadi

Kampus Santa Maria Surabaya : https://sanmarosu.org/

Serviam

JAKARTA, SERVIAMNEWS.com– Pada Sabtu 14 Maret 2020 seluruh tenaga pendidik, kependidikan dan tenaga penunjang berkumpul bersama di Aula SD Santa Maria, Juanda, Jakarta Pusat untuk mendengarkan sosialisasi Musyawarah Nasional (Munas) Pendidikan Ursulin Indonesia. Diawali dengan sharing singkat mengenai pengalaman berproses selama acara Munas di Pacet Februari 2020 yang lalu sekaligus menggambarkan tujuan sosialisasi Munas kepada seluruh warga kampus Santa Maria.

A Global Community Moving Into New Life, tema pertemuan kapitel ingin mengajak seluruh sekolah Ursulin agar mampu melihat dan memahami lebih dalam mengenai keberadaan komunitasnya. Belajar, merefleksikan apa yang menjadi hambatan, kekurangan, kelebihan, apa yang menjadi penggerak di tengah perubahan jaman saat ini yang terus berubah.

Kepala SMK Santa Maria, Ibu Margaretha Dwi Utari, S.Pd mengawali sosialisasi dengan mengajak semua untuk mulai belajar open mind yaitu berani bereaksi tetapi tidak berbicara terlebih dahulu, mendengarkan sebagai awal untuk mencerna segala informasi, membuka wawasan dan pemikiran terlebih dahulu yang ada di sekitar. Kemudian open heart bisa menterjemahkan apa yang kita pikirkan dan open will apa yang akan kita lakukan untuk merealisasikan apa yang menjadi tujuan kita. Mengubah kekurangan menjadi kelebihan.

Perlunya generatif listening menjadi hal yang penting untuk dapat melihat lebih dalam apa yang ada dalam diri kita, diri komunitas dengan belajar mendengarkan tidak terburu-buru mengejudge situasi, mendengarkan dengan seluruh indera, fokus kepada gambaran-gambaran khusus bukan pada hal lainnya. Selanjutnya, memperhatikan apa yang tidak dimengerti dari pada apa yang tidak kita sukai, peka terhadap apa yang dirasakan ketika orang lain menyampaikan informasi tersebut dan memperhatikan secara holistik.

Meneropong Kampus Santa Maria

Kemudian, Ketua III Yayasan Nitya Bhakti, Sr. Korina Ngoe, OSU dalam sesi ini membahas mengenai apa yang telah dilakukan dan belum dilakukan Kampus Santa Maria selama ini. Bahwa Kampus Santa Maria selama ini telah konsisten dalam menjalankan rencana-rencana strategisnya, pengembangan kurikulum terus menjadi perhatian dengan mengkolaborasi kurikulum nasional dan core value Ursulin serta ciri khas kampus yaitu sociopreneur.

Berbagai kegiatan yang direncanakan dan dilakukan terus berpijak pada core value dan sociopreneur Cerdas Mandiri Penuh Kasih (CMPK), dengan memanfaatkan teknologi digital dalam setiap kegiatan dan promosi sekolah. Kampus Santa Maria juga terus mengembangkan SDM tenaga pendidik, kependidikan dengan berbagai pelatihan baik untuk mengembangan kognitif yang sesuai dengan bidangnya maupun pengembangan spritual dengan berlandaskan nilai-nilai Santa Angela.

Sistem berbasis online dari Pusat Yayasan Pendidikan Ursulin akan segera diterapkan. Pembiasaan nilai Servite et Amate, sociopreneur Cerdas Mandiri Penuh Kasih harus terus diajarkan. Masyarakat masih memiliki pandangan positif terhadap kampus Santa Maria baik dari sisi lingkungan sekolah, fasilitas yang semakin lengkap, pendidikan karakter yang terus berkesinambungan mengikuti jenjang pendidikan. Kemudian pelayanan yang semakin baik dan kredibilitas di mata dinas dan masyarakat umum semakin meningkat. Kampus Santa Maria mewujudnyatakan Laudato Si dengan menjadi Kampus bebas Plastik dan Styrofoam.

Sementara itu, Kepala SMP Santa Maria, Sr Anastasia Ratnamawati, OSU, Ibu Marita Tanaga dan Kepala TK Santa Maria Ibu Susanna Tri Gesang, S.Pd membawakan materi mengenai tantangan pendidikan karakter di era digital. Mengubah paradigma yang berupa pemahaman, sikap, perilaku. Jika mengikuti perubahan kita dapat menjadi pendidik yang menyenangkan bagi anak. Proaktif mengubah paradigma mulai dari dalam diri bukan dari orang lain

Pendidikan Servite et amate di era digital menjadi penting tanpa karakter atau nilai-nilai pendidikan itu sendiri akan mendatangkan malapetaka. Setiap warga kampus dituntut untuk beradaptasi dan kritis terhadap era digital dan kreatif untuk berinovasi memanfaatkan fasilitas dan sumber daya yang ada. Nilai-nilai Servite et Amate perlu dikembangkan mulai dari keluarga, guru dan lingkungan sosial. Paradigma yang positif, dengan pengkondisian atau pembiasaan yang lama berpengaruh terhadap diri anak, membentuk peta di otak dan menjadi karakter. Setiap orang harus mengalami nilai Servite et Amate yang kemudian akan menjadikannya sebagai budaya semua bersumber dari pengalaman harian.

Komunitas Solid Bergerak Menghadapi Perubahan Dunia

Jika suatu komunitas solid kuat dan bersatu maka akan mampu menghadapi setiap perubahan dan tantangan dari luar. Pendidik menjadi role model bagi setiap peserta didik. Ibu Euthalia Handri Astuti, S.Pd melihat dalam mendidik karakter anak kita tidak boleh memarginalkan anak nakal, yang kurang semangat, yang sering menjadi pembuat masalah, mereka patut dihargai dan sering kali harus diberikan kepercayaan, mereka akan percaya kepada kita. Merasa diperhatikan dicintai dan akan bertumbuh menjadi pribadi yang suskses.

Sebagai kesimpulan bahwa segenap warga kampus Santa Maria harus dapat bergerak bersama open mind, open heart, open will, terbuka terhadap perubahan dan perkembangan jaman. Kampus Santa Maria harus dapat mengkombinasikan nilai-nilai atau values Servite et Amate dengan kebutuhan masyarakat agar tidak ketinggalan dari sekolah lainnya.Transformasi pendidikan mengedepankan peserta didik sebagai prioritas, mengedepankan kesuksesan akademik maupun karakter. Menghidupi servite et amate sebagai living values.

Sebelum menutup pertemuan, Sr. Korina Ngoe, OSU menyampaikan protokol pencegahan penyebaran virus Corona, Kampus Santa Maria menyediakan Hand Sanitizer di setiap akses masuk sekolah dan kelas. Juga mengadakan pemeriksaan suhu tubuh dengan thermogun.

Humas Kampus Santa Maria Juanda -Jakarta

Kampus Santa Maria Jakarta: http://santamaria.sch.id/

Serviam

SUKABUMI, SERVIAMNEWS.com– Pada Sabtu, 22 dan 29 Februari 2020 di aula Kampus Yuwati Bhakti, Sukabumi diadakan sosialisasi Munas Pendidikan Ursulin Indonesia yang dihadiri oleh seluruh tenaga pendidik, kependidikan, dan penunjang. Pada sesi pertama yang dibawakan oleh Sr. Katharina Namaina Wotan, OSU, kami diajak memelihara dan menghidupi Servite et Amate sebagai core value pendidikan Ursulin dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat mengintegrasikannya dalam proses pembelajaran.

Seiring majunya teknologi zaman ini, tantangan pendidikan di Indonesia semakin berat sehingga kami perlu membuka mata, hati, dan pikiran serta menimba semangat dari sumber spiritualitas pendidikan Ursulin yaitu Santa Angela Merici. Pada sesi ini, kami berproses dalam diri dengan pikiran yang jenih, terbuka dan jujur menemukan hal-hal yang menyemangati maupun yang tidak hingga mampu bertahan di Kampus Yuwati Bhakti.

Pada sesi kedua Sr. Tatik Ernawati, OSU membawa kami kepada permenungan mengenai kebiasaan atau program kampus yang telah dilakukan dengan baik. Kebiasaan atau program yang belum dilakukan namun sangat penting untuk kemajuan kampus, persepsi masyarakat tentang kampus, dan cerita yang sedang berkembang di Kampus Yuwati Bhakti.  Pada proses ini, kami berkelompok menurut satuan pendidikan dan rumpun tugas, yaitu TB-TK, SD, SMP, yayasan, dan tenaga penunjang. Hasil diskusi yang telah dipresentasikan akan menjadi bahan di satuan pendidikan masing-masing hingga menjadi program atau kebiasaan yang lebih konkrit dan terukur serta dapat dilaksanakan.

Sesi ketiga, Ibu Devi dan Ibu Iken memaparkan pergulatan pendidikan Katolik di era revolusi industri 4.0. Mereka membawa kami untuk melihat betapa dahsyatnya perkembangan teknologi saat ini dan yang akan datang, yang hampir di semua lini kehidupan serba cepat dan beragam. Banyak resiko dan peluang di sana. Jika ingin tetap eksis di dunia pendidikan, kami harus masuk dalam dunia itu dan meninggalkan paradigma lama. Kami harus berani membuka diri, mengaktifkan semua indera untuk menangkap semua peluang yang ada agar anak-anak didik yang sudah dipercayakan kepada kami berkembang sesuai kemajuan zaman, serta mampu berlari membangun masa depan dengan sukacita.

Di hari kedua, Sr. Kristin Dhewa, OSU mengajak kami merefleksikan Santa Angela sebagai cermin dari cinta kontemplatif bagi kaum muda dewasa ini. Peran pendidik sangat penting karena yang dilayani adalah calon pemimpin  masa depan. Pendidik harus mempersiapkan diri sungguh-sungguh sebelum mengajar, mendidik dengan benar, tepat, menarik, dan mau mendengarkan peserta didik.

Pada sesi kedua, Bapak Thomas dan Ibu Iken mengajak kami untuk mengembangkan wilayah B dengan terlebih dulu menyaksikan 2 video tentang perbedaan pendidikan di Finlandia dan Indonesia serta perbedaan masa tiap orang. Berdasarkan kedua video tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa dunia telah jauh berubah. Semua anak mengenal internet yang canggih.

Namun, mereka perlu pengendalian diri sehingga penanaman dan penghayatan nilai Servite et Amate dan pembelajaran yang menantang di sekolah sangat membantu menyeimbangkan karakteristik mereka. Semoga hasil Munas Pendidikan Ursulin 2020 ini dapat menjadi motivasi bagi kami untuk berjuang bersama dalam menyiapkan generasi bangsa di era digital ini.

Agnes Tri Maryunani (Humas Kampus Yuwati Bhakti)

Kampus Yuwati Bhakti : http://kampusyuwatibhaktisukabumi.or.id/

Serviam

ATAMBUA, SERVIAMNEWS.com–  Dalam upaya meningkatkan gizi masyarakat Indonesia dan meningkatkan kecerdasan anak-anak sebagai calon penerus bangsa, Kampus Santa Angela Atambua turut mendukung program pemerintah dalam mempersiapkan generasi muda dan berkualitas. Untuk itu, Kementrian Kelautan dan Perikanan yang diwakili oleh Bapak Dr. Catur Sarwanto, DPRI RI yang diwakili oleh Bapak Yohanis Fansiskus Lema, dan Bupati Belu Willybrodus Lay bersama Suster-Suster Ursulin, Guru, dan peserta didik Kampus Santa Angela, Atambua bergabung dalam kegiatan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan), Senin, 9 Maret 2020.

Adapun salah satu agenda kegiatan Gemarikan yaitu sosialisasi peningkatan konsumsi ikan sebagai sumber protein. Melalui kegiatan ini diharapkan tingkat konsumsi ikan masyarakat Indonesia semakin tinggi. Sejatinya, ikan mengandung gizi dan protein yang tinggi serta vitamin yang dapat meningkatkan kecerdasan para peserta didik. Sehingga dengan mengkomsumsi ikan secara rutin kecerdasan para siswa akan semakin baik.

Acara sosialiasi ditutup makan bersama dengan makanan yang serba ikan. Peserta didik juga mendapat goodie bag yang berisi kaos, tas kecil berbentuk ikan, dan makanan ringan berbahan dasar ikan. Makan Ikan Sehat, Makan Ikan Kuat, Makan Ikan Cerdas.

Serviam

SURABAYA, SERVIAMNEWS.com – Sahabat Serviam News, pada Sabtu, 7 Maret 2020 para alumni Kampus Santa Maria Surabaya mengadakan kegiatan bakti sosial untuk para guru maupun tenaga kependidikan yang telah purna bakti dengan tema acara “Bakti Kami pada Purna Bhakti.” Acara yang diselenggarakan di TK dan SD Santa Maria, Surabaya ini disambut antusias oleh Bapak dan Ibu pendidik yang telah purna tugas.

Para alumni pun tampak sangat bersemangat dalam membahagiakan guru-guru mereka dulu. Bahkan guru-guru yang tidak kuat berjalan jauh dan tidak mampu berjalan mereka jemput langsung ke rumahnya dengan menggunakan kendaraan pribadi. Ketua Yayasan Paratha Bhakti berhalangan hadir, diwakili Sr. Catharina Siti Margiyati, OSU, menyambut baik kegiatan ini.

Penggagas acara ini yaitu Dokter Santi Sadikin, menyatakan bahwa kegiatan bermula dari pertemuannya dengan seorang guru SD-nya dulu, sekitar tujuh atau delapan tahun lalu. Mengingat penyakit yang dihadapi guru tersebut, maka guru tersebut dirujuk ke teman dr. Unggul, yang juga dulu bersekolah di Santa Maria, Surabaya, dan memiliki spesialisasi dalam penanganan penyakit tersebut, maka penyakit tersebut segera dapat ditangani.

Guru-guru yang telah purna bakti rata-rata berusia senja, jadi beresiko tinggi dengan penyakit degeneratif untuk itu perlu mendapatkan perhatian khusus. Berawal dari situ, dr. Santi mengajak teman-temannya sesama alumni Kampus Santa Maria untuk mengadakan kegiatan bakti sosial untuk guru-guru mereka dulu. Gayung pun bersambut. Teman-teman tampak semangat untuk memberikan perhatian terhadap guru-guru mereka dulu.

Para alumni lintas angkatan bergabung, mulai angkatan 1963 hingga angkatan 1998. Mereka bersatu hati dalam niat untuk membahagiakan guru-guru mereka dalam bidang kesehatan. Namun untuk mewujudkannya tidak mudah, mengingat kesibukan dari para alumni sendiri yang beragam profesi. Meski memiliki beragam profesi namun satu spirit SERVIAM, itulah yang melandasi niat luhur, sehingga acara dapat diselenggarakan. Dana yang terkumpul cukup besar, walaupun waktu yang tersedia cukup singkat, hanya dua bulan.

Guru-guru yang diundang adalah guru-guru yang telah purna bakti, mulai dari TK hingga SMA. Mengumpulkan data alamat para guru tidak mudah. Perlu perjuangan, menelusur satu persatu dalam tim kerja. Akhirnya terdata 52 guru dan yang hadir dalam kegiatan sebanyak 44 guru. Bahkan ada yang hadir dengan menggunakan kursi roda. Para alumni sangat mengapresiasi hal tersebut.

Kegiatan bakti sosial diadakan mulai pukul tujuh pagi. Kegiatan terdiri dari pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan darah, dan perawatan tubuh, khususnya wajah. Tampak guru-guru terlihat gembira dengan acara tersebut. Para guru, baik perempuan maupun laki-laki antri untuk perawatan dan pemeriksaan. Setelah acara pemeriksaan kesehatan dan perawatan wajah. Para alumni mengajak guru-gurunya untuk berjoget dan bernyanyi bersama. Tampak guru-guru menikmati dengan iringan musik dan lagu zaman mereka sekolah dulu. Acara cukup hangat dan mampu menyatukan murid dan guru.

Para alumni juga memberikan “wejangan” kepada gurunya seputar masalah kesehatan dan fenomena yang sedang viral saat ini, yaitu “Corona” yang tengah mewabah di dunia. Para alumni berharap acara ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan menggandeng lebih banyak lagi para guru yang telah purna tugas. Kini, saatnya para murid membalas jasa guru-gurunya yang telah membentuk mereka menjadi orang-orang sukses sesuai bidangnya. Tuhan memberkati setiap usaha yang baik.

FX. Marjanto (Guru SD Santa Maria, Surabaya)

Follow by Email
Instagram
Copy link
URL has been copied successfully!