Ursuline Schools flourish in big and small cities all over Indonesia. They grow in various cultures and challenges. Therefore in 2005, the education Commission of the Ursuline sisters in Indonesia organized “Serviam Camp” for Ursuline Elementary Schools students and “Youth Camp” for Junior and Senior Ursuline High Schools students. The goal of these programs is to encourage a spirit of togetherness (insieme) and pride as Ursuline students.
The first Ursuline Youth Camp 2005 held in Tawangmangu, Central Java. It was attended by 700 boys and girls from Indonesian Ursuline Junior and Senior High Schools. During the sharing season, participants of the Ursuline Youth Camp reflected on their experiences. The experiences that they told indicated that the program was very meaningful for them. They became more aware that they belonged to the big family for Ursuline students. They were very proud to be a part of Ursuline Schools and very happy to get to know fellow Ursuline students.
The joy of the first Ursuline You th Camp par ticipants prompted the Indonesian educators to invite students from Asia Pacific Ursuline Schools to join the next Youth camps. Finnaly, this idea was brought to the Asia Pacific Ursuline Education Conference in 2006 in Bandung. The idea was well-received. In 2007, the 1st International Ursuline Youth Camp was held in Gunung Geulis Resort, Bogor-West Java. Students and educators from Taiwan, Thailand, Japan, and Indonesia attended this program to celebrate our insieme spirit.
In 2015, the 2nd International Ursuline Youth Day was held in Solo-Central Java with “Keep the Love Burning” as the theme. In one of the activities, participants mingled with the local residents and people with disabilities and learned from them. They visited home industries nearby, the disabled rehabilitation center (“Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa”), visited blind families, and Thalassemia patients. From these activities, the could see firsthand how people had to struggle and survive in their lives. This experience led them to engage in deep reflection about their own lives.
This year, from 6 to 10 August 2018, the 3rd International Ursuline Youth Camp will be held in Gunung Geulis Camp Area, Sentul- West Java with “ Insieme in Diversity” as its theme. It Will be an event where each participant will celebrate the spirit of togetherness as Ursuline’s students and the diversity of our cultures. Th.Ang Le Tjien





Oleh: Sabina Prajnamalini P. S.
Waduk Jatiluhur menjadi rumah baru bagi kami selama 6 hari itu. Kami, siswa kelas 11 SMA Santa Ursula BSD terbagi ke dalam 2 gelombang. Gelombang pertama berangkat pada tanggal 3-8 September dan gelombang kedua pada tanggal 10-15 September. Bersama teman-teman di dalam kelompok, kami menjalani serangkaian kegiatan yang difasilitasi oleh tim Outward Bound Indonesia. Tanpa gawai, pendingin ruangan, dan segala kemewahan lainnya, kami diajak untuk hidup dan tinggal di alam terbuka, sekaligus terbuka terhadap alam itu sendiri.
Setiap hari kami melakukan semua kegiatan tanpa ada jadwal yang pasti. Satu-satunya hal yang bisa menjadi pegangan bagi kami adalah prinsip mengenai adanya konsekuensi. Semuanya ditentukan oleh kami dan hal itu akan berdampak pada banyak hal lainnya. Terlambat memulai, maka akan terlambat menyelesaikan. Semakin siang kami mengawali kegiatan kami, maka akan semakin malam kami tidur—sesederhana itu. Namun jika tidak ditepati, kelompoklah yang akan menanggung rugi.
Berbicara mengenai kelompok, tak dapat dipungkiri lagi bahwa ia merupakan salah satu unsur terpenting dalam perjalanan ini. Sebagai sebuah keluarga selama 6 hari, semua anggota dituntut untuk bisa memahami satu sama lain, saling menjaga, dan mendukung. Peran-peran berbeda yang harus kami ambil secara bergilir tiap harinya membuka peluang untuk belajar hal baru. Kami diajak untuk mampu membangun sinergi yang baik dan bertanggung jawab atas peran yang telah kami ambil. Dari pengalaman ini kami semakin memahami makna persahabatan itu sendiri.
Secara keseluruhan, semua kegiatan yang diadakan bersama tim OBI ini memang sangat menantang. Ia menguji ketahanan kami, baik secara fisik maupun mental. Ia mendorong kami untuk menembus batas-batas yang tadinya kami miliki. Kutipan dari Kurt Hahn, pendiri Outward Bound menyatakan bahwa ada sesuatu yang lebih di dalam diri kita dari yang selama ini kita ketahui. Semua kegiatan membawa kami sampai pada titik itu. Kami disadarkan bahwa setiap dari kami memiliki kekuatan dan itu sangat perlu untuk dikembangkan.
Di lingkungan OBI kami dikenalkan dengan istilah berlayar. Ia merupakan sebuah ungkapan yang menandai suatu momen saat kapal menarik jangkar meninggalkan pelabuhan menuju lautan lepas, siap menghadapi segala hal yang belum diketahui. Kami para peserta diajak untuk memaknai hal itu dengan dalam, bahwa sama seperti kapal-kapal itu, kami nantinya akan “melepas jangkar” dan pergi menuju lautan masa depan yang penuh tantangan. Kegiatan selama 6 hari bersama OBI menjadi sebuah simulasi kecil dari pelayaran besar itu. Sebuah pepatah mengatakan bahwa hal-hal hebat tidak pernah datang dari zona nyaman. Kegiatan bersama OBI mampu menunjukkan hal itu. Mau tidak mau kami memang harus berani keluar dari zona nyaman itu. Namun, itulah makna dari kegiatan ini: mengubah kami menjadi pribadi baru yang juga memiliki kekuatan baru. Fisik dan mental kami ditempa habis-habisan namun itulah yang membentuk karakter kami, karakter seorang pejuang. Kini, kami telah siap menerima tantangan-tantangan lain yang akan diberikan. Satu-satunya hal yang harus kami lakukan adalah berlayar, berlayar, dan berlayar!




Sebanyak 80 siswa- siswi dan 8 guru SMK Santa Maria Jakarta menerima bantuan TOEIC dari Direktorat Pembinaan SMK. TOEIC (Test of English for International Communication) merupakan ujian kemampuan Bahasa Inggris yang diterima dan diakui secara internasional sebagai standar kemampuan berkomunikasi secara internasional dengan Bahasa Inggris di dunia kerja.
Tes tersebut dilaksanakan pada hari Rabu, 3 Oktober 2018 di Laboratorium Bahasa SMK Santa Maria. Tes yang berduarsi 120 menit itu dilaksanakan dalam 3 sesi di hari tersebut. Sesi pertama dimulai pada pukul 10.00 sampai dengan pukul 12.00, dilajutkan sesi kedua pada pukul 12.00 sampai dengan pukul 14.00, dan sesi terakhir berakhir pada pukul 16.00.
Seluruh siswa-siswi dan guru fokus dalam mengerjakan soal listening dan reading yang ada pada tes tersebut. Pemantauan pelaksanaan tes dilakukan oleh pihak ITC (International Test Center) melalui komunikasi Skype. Tes berlangsung dengan lancar dari mulai persiapan sampai dengan selesai. SMK Santa Maria berharap semoga tahun depan masih diberikn kesempatan untuk dapat mengikuti tes tersebut.
Sementara itu, sebanyak 40 siswa-siswi SMK St. Theresia, Jakarta juga mengikuti TOEIC, pada Sabtu, 13 Oktober 2018. Hadir saat TOEIC di SMK St. Theresia berlangsung dari ITC Pak Victor dan Ibu Jenny, serta Associate Director ITC, Damon Anderson. Di tempat lain, TOEIC juga berlangsung di SMK Cor Jesu, Malang, pada Jumat, 12 Oktober 2018. Indrawati – SMK Santa Maria
Insieme di Kampus Cor Jesu Malang
| Selasa, 13 Februari 2018 |
Keluarga besar KB-TK, SD, SMP, SMA-SMK Cor Jesu Malang mengadakan Cor Jesu’s Art Performance sekaligus memperingati 118 tahun karya Ursulin di Kota Malang. Acara menampilkan berbagai macam seni dan drama musikal bertajuk “Jejak Sang Misioner” di Gedung Graha Cakrawala, Malang.
“Salah satu keterampilan yang dituntut pada abad ke-21 ini adalah kemampuan untuk bekerja sama dan berkolaborasi dengan orang lain. Maka sekolah-sekolah yang dibimbing oleh para Suster Ursulin menjadikan nilai Insieme (semangat kebersamaan) sebagai salah satu nilai dalam pendidikan karakter, termasuk Cor Jesu,” demikian kata Ketua Panitia, Agatha Ariantini dalam sambutannya.
Turut hadir dalam acara, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kota Malang yang diwakili oleh Ibu Sri Ratnawati dan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kota Batu Provinsi Jawa Timur yang diwakili oleh Bapak Adi Prajitno. Selanjutnya, hadir pula dalam acara Pimpinan Komunitas Sancta Trinitas Malang, Sr. Hilda Sri Purwaningsih, OSU.
Dalam sambutannya, Sr. Hilda mengucapkan terima kasih kepada Tuhan karena karya suster Ursulin di Kampus Cor Jesu sudah berusia 118 tahun. Dengan harapan, para suster Ursulin, seluruh warga Kampus Cor Jesu, dan semua yang telah ikut ambil bagian dalam perjalanan hidup Cor Jesu menjadi lebih bersemangat. Terutama dalam meningkatkan kerja sama dalam suka duka hidup sehari-hari, tetap mampu mengedepankan persatuan, bertekun dengan setia dan gembira.
Sementara itu, Ketua I Pusat Yayasan Pendidikan Ursulin, Sr. Ferdinanda Ngao, OSU menuturkan melalui peringatan 118 tahun komunitas dan karya Cor Jesu Malang dapat mengajak kita semua untuk selalu mengandalkan iman, harap, dan cinta dalam berbagai bentuk pelayanan.”Sebuah harmoni kehidupan dalam komunitas dan karya pelayanan pendidikan Cor Jesu Malang lahir dari tiga keutamaan ini, iman, harap, dan cinta yang dihayati secara harmonis itulah harta karun yang dipelihara dan diwarisi dari tahun ke tahun dan dari abad ke abad,” ucap Sr. Ferdinanda.
Kemudian Ketua III Yayasan Dhira Bhakti, Sr. Yovita Tiwang, OSU menjelaskan bahwa “Jejak Sang Misioner” adalah jejak kasih Allah yang nyata dan tanpa batas. Jejak itu memberi kekuatan dan keyakinan bagi para pendahulu, para suster, dan mitra untuk berjuang dengan semangat dalam menghadapi serta mengatasi setiap hambatan yang dijumpai.
“Setiap kesulitan dan tantangan tidak menyurutkan semangat para pendahulu, namun semakin erat bersatu dalam doa, dalam cinta dan dalam karya yang telah mereka mulai. Semangat itulah yang dirayakan, disyukuri dan dengan tekad yang bulat kita teruskan untuk kemudian dilanjutkan oleh generasi berikutnya,” tandas Sr. Yovita.
Dengan melalui berbagai macam tantangan dan bertekun dalam doa, maka Cor Jesu’s Art Performance 2018 berjalan dengan lancar dan sukses. Salam SERVITE et AMATE.
Penulis: Veronika Endah B.
Guru SMP Cor Jesu Malang Sumber: Booklet CJAP 2018


Cinta Santa Theresia Untuk Indonesia .
Minggu, 25 Februari 2018, keluarga besar TK-SD SantaTheresia merayakan hari ulang tahun ke- 90. Sebagai ucapan syukur atas berkat penyertaan Tuhan terhadap karya pendidikan TK-SD Santa Theresia,kampus mengadakan Misa Syukur, Long March,dan Pagelaran Seni Budaya bertajuk “Cinta Santa Theresia Untuk Indonesia”.
Adapun tujuan acara perayaan 90 tahun TK-SD Santa Theresia yaitu agar kampus dapat dikenal luas oleh masyarakat khususnya di DKI Jakarta. Selain itu, kampus Santa Theresia dapat menjadi sekolah yang kreatif dan inovatif dengan menampilkan pagelaran seni di area car free day. Melalui pagelaran seni juga, kampus Santa Theresia ingin menanamkan kecintaan pada budaya, bangsa dan tanah air Indonesia kepada generasi muda.
Lewat perayaan ini, kampus Santa Theresia dapat mengembangkan sikap mandiri, disiplin, tekun, dan bertanggung jawab serta memiliki daya juang tinggi kepada seluruh peserta didik. Tidak itu saja, kampus Santa Theresia ingin menunjukkan bahwa mereka dapat membangun semangat kerjasama dalam tim. Dan dapat menghasilkan pemimpin yang berintegritas, bertanggung jawab, memiliki rasa cinta kepada Tuhan, sesama, serta lingkungan.
Tak terasa, pertumbuhan dan perkembangan TK- SD Santa Theresia mencapai usia 90 tahun di tahun 2017. Tepatnya pada tanggal 1 Juli 1927 dibukalah Sekolah Rakyat (SD) kemudian dilanjutkan dengan Taman Kanak-kanak (TK). Pertumbuhan dalam segala aspek secara perlahan terus berkembang sehingga menghasilkan lulusan yang siap mengikuti jenjang berikutnya. Pelayanan pendidikan yang diberikan disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan anak-anak gerenasi penerus bangsa. Semoga di usia yang semakin tua ini, TK-SD Santa Theresia dapat lebih memberikan pelayanan prima kepada seluruh masyarakat dan tetap berada di hati para orang tua khususnya di Jakarta.