ENDE, SERVIAMNEWS.com-  Sebanyak 89 wisudawan mengikuti Rapat Senat terbuka dalam rangka Wisuda Sarjana Sekolah Tinggi Pembangungan Masyarakat (STPM) program S1 Jurusan ilmu Sosiatri. Acara berlangsung di Kampus STPM St. Ursula, Ende, Nusa Tenggara Timur, Sabtu, 17/11.  STPM St. Ursula, Ende mengasuh dua program studi yaitu Ilmu Pemerintahan (S1) dan Ilmu Sosiatri (S1). Selain sekolah, para suster di Komunitas Ende melayani kaum muda melalui kerasulan asrama. Ada 2 buah asrama Putri St. Ursula untuk siswi SMP St. Ursula Ende dan Asrama Putri St. Angela untuk siswi SMA/SMK.

BAUCAU, SERVIAMNEWS.com – Sabtu, 10 November 2018 pagi cerah, terang terbit dari Timur menebar semarak cahaya memenuhi seluruh kampus TKK, SD, dan SMP Santa Ursula Baucau. Seluruh warga kampus bersukacita menyambut Bapak  Uskup Mgr. Basilio do Nascimento,  Wakil Menteri Pendidikan Timor Leste,  Bapak Joao Zacarias Freitas Soares,  Bapak Sahat Sitorus Duta Besar Republik Indonesia untuk Timor Leste, orangtua murid, para tamu undangan suster dari berbagai tarekat dalam rangkaian  acara peresmian Gedung SMP dan Aula Santa Ursula Baucau.

Bpk. Sahat Sitorus

Tarian  penyambutan oleh murid-murid SD Santa Ursula Baucau menjadi pembuka acara yang mengiringi kami menuju gedung SMP Santa Ursula Baucau seraya  Bapak Uskup Basillio memberkati semua ruangan kelas baru.

“ Dame horik iha uma ne’e” –  “ Damai tinggal di rumah ini “

Perayaan Ekaristi syukur dengan tema “Dame Horik Iha UmaNe’e” dipimpin oleh  Mgr. Basilio do Nascimento didampingi Vikjen Padre Francisco Pinheiro de Silva, dan Padre Jose Gonzaga.

Paduan suara merdu para suster, guru, dan murid mendukung perayaan syukur ini.  Selesai Perayaan Ekaristi acara dilanjutkan dengan kata sambutan dari Bapak Augusto Pires, ketua panitia, kemudian Sr. Herminia Matos, OSU, Sr. Agatha Linda Chandra, OSU, Mgr.Basilio do Nascimento, dan Bapak Joao Zacarias Freitas Soares.

Murid-murid TKK dan SD Santa Ursula Baucau mengenakan pakaian daerah menari dengan lincah dan indah. Para Postulan dan Aspiran memperkenalkan Santa Ursula melalui drama pendek yang inspiratif. Santap siang bersama dalam suasana persaudaraan sehangat matahari Baucau  menutup rangkaian acara peresmian Gedung SMP dan Aula Santa Ursula Baucau. Soli Deo Gloria –  Hanya demi Kemuliaan Tuhan.

Bpk. Augusto Pires – Ketua Panitia Peresmian Gedung dan Aula SMP St. Ursula Baucau

SIDOARJO, SERVIAMNEWS.com– Komunitas pembelajar yang berjiwa eco-preneur sesuai dengan semangat Santa Angela begitulah bunyi tag line yang diusung Kampus Santa Maria Sidoarjo dalam kaitan rencana strategis (renstra) beberapa tahun ke depan. Cita-cita tersebut berangkat dari kesadaran banyak potensi (dalam bentuk lahan) yang belum dimanfaatkan secara optimal. Semua warga kampus bahu membahu untuk mewujudkan komunitas yang benar-benar mempunyai jiwa ekologi, mencintai lingkungan sekitar dan mau ambil bagian dalam melestarikan alam ciptaannya.

Selain membentuk budaya cinta lingkungan bagi warga kampus, Kampus Santa Maria Sidoarjo juga berusaha menebarkan virus peduli dan cinta lingkungan pada mereka yang di luar kampus. Salah satunya dilakukan unit SD Santa Maria Sidoarjo dengan mengundang TK-TK yang berada di Kecamatan Sidoarjo dan sekitarnya untuk datang dan melakukan kegiatan ekologi di kampus Santa Maria Sidoarjo.

Anak-anak usia TK diajak melakukan beberapa kegiatan yang termasuk dalam proses tumbuh kembang tanaman, yaitu: menyiapkan media tanam, membibit, menyiram, merawat dan memanen. Mereka belajar mencampur tanah dan pupuk, menaruh bibit-bibit ke dalam tanah dan menyirami. Mereka juga belajar memindahkan tanaman yang sudah disemai ke tanah yang disiapkan. Di akhir kegiatan mereka pun diberi kesempatan untuk memanen sayur-sayuran untuk dibawa puang ke rumah. Beragam sayuran dan tanaman disiapkan oleh kampus Santa Maria Sidoarjo mulai dari kangkung, bayam, cabai, terong sampai ketela.

Anak-anak merasa senang dan bersemangat melakukan kegiatan ekologi didampingi oleh beberapa guru dan kakak pendamping dari unit SD serta SMP. Para guru TK yang menemani mengaku senang dan berharap kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan demi menumbuhkan rasa cinta dan peduli lingkungan. Proficiat dan terus semangat bagi seluruh warga Kampus Santa Maria Sidoarjo dalam mewujudkan komunitas pembelajar yang berjiwa eco-preneur seturut semangat Santa Angela.

TANGERANG, SERVIAMNEWS.com – Pada Senin, 22 Oktober 2018, peserta didik SMP St. Ursula Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, Banten kelas IX A, IX B, dan IX C pergi ke Panti Werdha dengan tujuan bakti sosial. Acara diadakan di empat Panti Werdha yang berbeda yaitu Panti Werdha Melania, Kasih Ayah Bunda, Kemah Beth Shalom Yayasan Bina Bhakti, dan Marfati.

Pelaksanaan Bakti Sosial terbagi dalam dua gelombang, dengan hari yang berbeda dan tempat yang berbeda, yaitu Senin, 22 Oktober 2018 untuk peserta didik kelas IX A hingga IX C dan Kamis, 25 Oktober 2018 untuk peserta didik kelas IX D dan IX E. Peserta didik yang berangkat pada gelombang pertama pun dibagi lagi menjadi beberapa kelompok untuk mengunjungi beberapa panti werdha, untuk meminimalisir penghuni panti bingung.

Panti Werdha Marfati terletak di Tangerang Kota. Jarak dari sekolah ke panti tersebut cukup jauh. Perjalanan menuju Panti Werdha Marfati memakan waktu selama satu jam. Untuk mempersiapkan acara, kelompok berkumpul terlebih dahulu untuk membahas kegiatan apa yang akan kami lakukan di sana dan apa yang akan kami bawa sebagai tanda kasih untuk Oma dan Opa yang ada di panti werdha.

Sesampainya di sana, kami langsung berinteraksi dengan Opa dan Oma yang ada. Panti Werdha Marfati terbagi menjadi tiga bagian. Bagian depan bernama Graha Lansia Marfati 2 yang dihuni oleh 20 hingga 30 Oma dan Opa. Acara berlangsung sangat santai karena kami di sini bertujuan untuk melayani. Kami bernyanyi bersama Opa dan Oma, mereka terlihat bahagia. Kami juga memberikan snack yang telah kami bawa. Sebagian besar dari mereka sudah memakai kursi roda.

Bagian bangunan yang kedua bernama Graha Lansia Fatima yang dihuni oleh suster- suster Katolik. Yang terakhir adalah Graha Lansia Marfati 1 yang terletak di bagian belakang. Bangunan yang terakhir ini cukup besar, dan menampung 40 hingga 60 Oma dan Opa. Di sini kami berbincang dengan salah satu Oma yang pernah hidup di zaman penjajahan Belanda. Beliau mengatakan, bahwa sekolah pada zaman penjajahan tidaklah mudah, dan saya bersyukur bisa bersekolah dengan aman dan nyaman saat ini. Acara selesai pukul 12.00 WIB kebetulan Opa dan Oma berdoa Rosario bersama pada saat itu. Kami pun berpamitan lalu pulang.

Bonaventura Bagas/ IX C

MADIUN, SERVIAMNEWS.com- Untuk membangun rasa cinta tanah air, Kampus St. Bernardus, Madiun, Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan renungan Tanah Air pada 16 Agustus 2018. Acara diawali dengan Visualisasi Perjuangan Kemerdekaan, renungan, doa, dan diakhiri dengan penciuman bendera merah putih. Kegiatan yang rutin diadakan setiap tahun ini diikuti oleh siswa TK, SD, SMP, dan seluruh guru serta karyawan kampus St. Bernardus, Madiun.

TANGERANG, SERVIAMNEWS.com– Hari Pangan Sedunia (HPS) sudah menjadi salah satu tradisi khusunya bagi para peserta didik di kampus SMP St. Ursula Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Banten. Dalam memperingati HPS 2018, OSIS SMP St. Ursula BSD membuat empat kegiatan yang telah dilaksanakan sejak 9 Oktober – 16 Oktober 2018. Rangkaian kegiatan dimulai dari pengumpulan beras, kolekte, mabar (makan bersama), dan “No Gadget Day”.

Kolekte dilakukan selama dua hari yakni 9 Oktober dan 16 Oktober. Kolekte dikumpulkan dari tiap kelas dan dihitung oleh Tata Usaha. Total dari uang tersebut disumbangkan kepada orang-orang yang kurang mampu.

Sementara itu, pengumpulan beras dilakukan selama 3 hari pada 11 Oktober – 13 Oktober. Pengumpulan beras dilakukan di Hall SMP/SMA St. Ursula BSD. Beras yang dikumpulkan juga bermacam-macam. Tidak hanya beras putih, tetapi ada juga beras merah yang disumbangkan oleh para peserta didik. Terlebih lagi untuk mengurangi sampah plastik, setiap peserta didik membawa beras yang akan disumbangkan dalam kotak makan atau botol minum. Beras yang dikumpulkan nantinya akan diberikan ke orang-orang membutuhkan yang ada disekitar BSD.

Selanjutnya kegiatan mabar atau singkatan dari makan bersama ini juga tak kalah ikut meramaikan HPS. Setiap peserta didik diminta untuk membawa bekal jajanan tradisional masing-masing yang akan dimakan bersama-sama. Kegiatan mabar ini dilaksanakan pada Selasa, 16 Oktober 2018. Setiap kelas melaksanakan kegiatan mabar di depan selasar kelas masing-masing dan membentuk sebuah lingkaran yang memanjang.

Setelah itu, beberapa pengurus OSIS SMP akan menaruh helaian daun pisang memanjang di tengah pada setiap kelas. Kemudian, peserta didik dapat meletakkan jajanan tradisional yang mereka bawa diatas daun pisang dan memakannya secara bersama-sama. Beberapa peserta didik mengatakan bahwa kegiatan mabar ini telah menjadi salah satu momen seru bagi masing-masing kelas.

Pada hari yang sama dilaksanakan gerakan “No Gadget Day” yang berlaku bagi seluruh peserta didik. Khusus dihari itu, peserta didik tidak diperkenankan untuk membawa gawai berupa telepon genggam (handphone) ke sekolah. Hal itu dikarenakan, sudah banyak yang memberikan komentar tentang kurang adanya interaksi peserta didik yang membawa gawai ke sekolah dengan orang lain.

Tidak hanya itu, kecenderungan anak milenial sangat sering berkomunikasi dengan teman ataupun orang lain melalui gawai. Anak-anak zaman milenial itu lebih cenderung berfokus pada gawainya, sehingga kegiatan ini dilaksanakan untuk mengurangi hal tersebut. Khusus bagi peserta didik yang pulang sekolah menggunakan kendaraan daring, sekolah sudah memberi tahu kepada masing-masing orangtua peserta didik dan memberikan sarana khusus.

Kegiatan HPS kali ini berhasil diisi dengan keindahan yang kita semua berikan. Untuk itu, semangat dan antusias ini perlu dipertahankan untuk kegiatan-kegiatan yang akan diselenggarakan selanjutnya.


Ancilla Vida/VIIIB dan Ancilla Elsa/VIIIC


SUKABUMI, SERVIAMNEWS.com- Kampus Yuwati Bhakti menyelenggarakan Open House pada 18 – 21 Oktober 2018, meliputi aneka lomba yang memperebutkan piala bergilir Walikota Kota Sukabumi. Kegiatan ini dimeriahkan dengan bazar, pentas ekstrakurikuler, dan jalan santai.

Adapun Open House bertujuan agar Kampus Yuwati Bhakti semakin dikenal masyarakat Kota Sukabumi sebagai komunitas pembelajar yang melayani dan mencintai sesama seturut teladan Santa Angela. Serta mampu meningkatkan kerja sama dan kekeluargaan antar satuan pendidikan, serta menghimpum alumni Kampus Yuwati Bhakti dalam satu wadah Ikatan Alumni Yuwati Bhakti.

Open House dibuka dengan parade peserta lomba yang terdiri dari prasekolah, TK, dan SD se-Kota Sukabumi. Selain itu, juga ada gerak dan lagu insieme oleh seluruh peserta didik dan guru dari TB- SMP Yuwati Bhakti, pentas ekstrakurikuler yang ditampilkan oleh TB-TK, SD, dan SMP Yuwati Bhakti di lapangan basket Kampus Yuwati Bhakti, Sukabumi, Jawa Barat.

Aneka lomba terdiri dari fashion show, menyusun balok, memindahkan bola, mewarnai, dan menyusun puzzle. Perlombaan tingkat SD meliputi story telling, MIPA, senam, futsal, dan basket. Pertandingan persahabatan antar SMP Ursulin se-Jawa Barat yaitu SMP Yuwati Bhakti, Santa Ursula, dan Santa Angela Bandung meliputi pertandingan basket, futsal, dan voli. Jumlah peserta lomba dalam kegiatan Open House ini sekitar 500 orang.

Jalan santai sebagai puncak acara Open House Kampus Yuwati Bhakti dibuka, didukung oleh Walikota Kota Sukabumi, Bapak H. Achmad Fahmi, S.Ag. M.M. dan  Ketua Kampus Yuwati Bhakti, Sr. Elisabeth Sri Utami, OSU. Jalan santai diikuti oleh seluruh peserta didik dari TB-TK, SD, SMP, beserta orangtua, seluruh guru karyawan, serta perwakilan alumni sebanyak 24 angkatan sehingga jumlah peserta lebih kurang 1.500 orang.

Tidak kalah menarik dan ditunggu oleh seluruh peserta adalah pembagian hadiah lomba dan pengundian door price oleh panitia walaupun terik matahari sampai dengan pukul 12.00 WIB para peserta jalan santai tidak kunjung meninggalkan tempat.

Agnes Tri Maryunani


Memperingati HUT RI ke -73 tahun, Kampus St. Bernardus, Madiun, Jawa Timur mengikuti Karnaval yang diadakan oleh pemerintah setempat pada 29 September 2018. Adapun tujuan karnaval untuk lebih mengenalkan Kota Madiun. Dalam karnaval, Kampus St. Bernardus mendapatkan penampilan terbaik nomor IV.

.

Sekolah Santa Ursula BSD selalu berupaya untuk mengembangkan setiap peserta didik menjadi manusia yang utuh, cerdas, dan memiliki semangat melayani. Proses belajar nilai-nilai hidup, kearifan lokal, budaya setempat tentu tidak akan bisa dipelajari secara mendalam di bangku sekolah. Ketika peserta didik sudah berada di kelas XII maka mereka wajib mengikuti kegiatan live in.

Live in adalah tinggal dan hidup bersama. Bersama siapakah? Tentu bukan bersama keluarga di rumah tetapi bersama sebuah keluarga baru. Melalui belajar “tinggal bersama” dengan teman dan keluarga baru, peserta live in akan belajar banyak hal baru pula. Mereka harus belajar saling mendukung, saling menguatkan dengan teman pasangan tinggalnya.

Selanjutnya, mereka akan belajar “hidup” bersama keluarga baru mereka. Banyak hal pasti berbeda dengan kehidupan keseharian mereka. Rumah dan lingkungannya pasti merupakan hal yang sungguh-sungguh baru karena mereka tinggal di desa. Selama 5 hari 4 malam mereka akan berelasi dan menjadi bagian dari seluruh kehidupan keluarga baru mereka.

 Lelah, canggung, bingung, tidak bisa berkomunikasi (kebanyakan penduduk desa berbahasa Jawa), tidak tahu apa yang harus dilakukan, rindu keluarga di rumah, rindu tempat yang bersih adalah keluhan awal yang muncul dari peserta didik. Namun, sapaan yang ramah dan tulus, serta kasih keluarga dari masyarakat desa ternyata mampu menyentuh mereka secara pribadi sehingga akhirnya mereka berani membuka diri dengan terlibat dalam seluruh dinamika kehidupan keluarga.

Desa Samigaluh, Tetes, Balong, dan Gorolangu di Paroki Boro menjadi desa lokasi live in Santa Ursula BSD untuk tahun 2018. Semua desa tersebut terletak di daerah perbukitan yang kering dan tandus. Perjalanan naik turun, rumah-rumah dengan lokasi berjauhan, sawah dan ladang yang jauh dan kering, kesulitan air bersih karena musim kemarau, menjadi tantangan yang sangat menarik.

 Di sinilah,  peserta live in belajar peduli dan berempati dengan masyarakat sekitar. Mereka belajar bertahan untuk tidak mandi dan mencuci rambut setiap hari karena tidak ada air padahal badan begitu berkeringat. Mereka belajar keras untuk keluar dari zona nyaman mereka. Maka, live in di Santa Ursula BSD bukan lagi sekedar berpindah tempat, belajar bertani, belajar beternak, belajar memasak, atau bahkan berwisata tetapi waktu untuk belajar tentang hidup dan kehidupan secara nyata. L.M. Sri Sudartanti Purworini

Kongres Anak, Membentuk Generasi Sehat


SEBANYAK 184 anak hadir meramaikan suasana di kampus SD St. Angela, Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ya, mereka datang dalan kegiatan kongres anak Sekolah Ursulin Se-NTT dan Timor Leste dalam acara “Serviam Camp”, Kamis-Minggu, 18-21/10.  Peserta kongres terdiri dari 107 anak SD St. Angela-Atambua, 39 anak SD St. Ursula Baucau-Timor Leste, 30 anak SD St. Ursula- Ende, dan 8 anak SDK St. Angela-Labuan Bajo.

            Perjalanan jauh dilalui para peserta kongres. Mereka naik bus sekitar 7-8 jam dari Kupang menuju Atambua. Dalam perjalanan, beberapa anak mengalami pusing, mabuk, mual, dll. Meski begitu, tak menyurutkan antusias dan semangat anak-anak untuk mengikuti acara Serviam Camp.

Perjalanan jauh dan melelahkan juga dialami peserta kongres anak dari SD St. Ursula, Baucau-Timor Leste. Melalui jalur darat selama kurang lebih 6 jam, mereka melalui medan jalan yang cukup rusak dan berliku dari Baucau menuju kota Dili. Tidak sampai disitu saja, anak-anak juga melalui wilayah perbatasan antara Indonesia-Timor Leste.

Setibanya di Atambua, wajah anak-anak terlihat senang ketika berjumpa dan berkenalan dengan peserta kongres anak dari sekolah lain. Perjalanan jauh dan melelahkan terbayar dengan sambutan hangat dari para peserta dan panitia.

Pertama kali Diadakan

            Kegiatan Serviam Camp diawali dengan Misa pembukaan yang dipimpin oleh Romo Epen Seran. Terlihat, para peserta membaur dibagi berdasarkan nama kampung yang berhubungan dengan Santa Angela seperti Desenzano, Le Greeze, Salo, dll. Saat Misa pembukaan, anak-anak menggunakan pakaian daerah dari wilayah tempat mereka tinggal.

            Dalam homilinya, Romo Epen memberi apresiasi kepada peserta kongres anak yang hadir. Sejatinya, kegiatan seperti ini biasanya diadakan di tingkat SMP-SMA. Tetapi kali ini, diadakan di tingkat SD.

“Anak-anak sejak kecil sudah harus dibina rasa kebersamaan dan keberagamannya. Selama kongres, anak-anak harus melihat wajah teman lainnya sebagai wajah Kristus yang peduli dan melayani. Jangan lupa, untuk menampilkan semangat Santa Angela dalam kongres kali ini,” kata Romo Epen. Kebersamaan ini, lalu ditunjukkan anak-anak ketika menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia dan Timor Leste.

Sementara itu, ketua panitia, Sr. Kristina M. Nggoik, OSU, dalam sambutannya menturukan kongres anak Serviam Camp untuk Sekolah Ursulin di Pulau Jawa sudah sering diadakan. Tetapi, untuk wilayah se-NTT dan Timor Leste baru pertama kali diadakan. Persiapan dilakukan selama kurang lebih 1 tahun dengan susunan panitia gabungan dari berbagai sekolah.

“Selama kami berproses, kendala disana sini pasti ada. Tetapi seperti kata-kata Santa Angela, yakinklah dan dengan tekad bulat pada hari ini kami dapat menyaksikan karya Agung Tuhan. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga kami dapat melangkah dalam keterbatasan ini,” imbuh Sr. Kristin.

Hal senada juga diungkapkan Ketua I Pusat Yayasan Pendidikan Ursulin, Sr. Ferdinanda Ngao, OSU bahwa Serviam Camp di Pulau Jawa sudah diadakan sejak 2006. Lalu, mengapa di tingkat NTT dan Timor Leste baru pertama kali diadakan. “Para Suster Ursulin melihat jumlah siswa khususnya di NTT dan Timor Leste mulai berkembang. Kita hari ini, berkumpul sebagai satu keluarga Serviam,” tandas Sr. Ferdinanda.

Selain itu, lanjut Sr. Ferdinanda, tujuan diadakan kongres anak ini yaitu untuk membentuk generasi penerus Bangsa Indonesia dan Timor Leste. Generasi yang sehat secara moral dan spiritual. “Ke depan, kami berharap tidak ada lagi korupsi di Indonesia dan Timor Leste. Anak-anak SD Ursulin harus memiliki integritas dan keterampilan, Mereka harus cerdas, baik hati, tangan yang bisa bekerja, dan berbuat sesuatu,” tegas Sr. Ferdinanda.

Menanam Pohon & Pos Perbatasan

            Pada keesokan harinya, dengan cuaca yang sangat panas, para peserta kongres menuju SMK Kelautan Kakuluk Mesak. Mereka menanam dengan berbagai jenis pohon yang dapat tumbuh dan berkembang di tengah cuaca panas. Nantinya, pohon harus dirawat oleh para guru dan siswa SMK Kelautan Kakuluk Mesak sehingga dapat tumbuh berkembang baik.

            Setelah menanam pohon, para peserta menuju pos perbatasan Indonesia-Timor Leste. Anak-anak sangat gembira karena untuk pertama kalinya mereka mengunjungi pos perbatasan. Dengan penjagaan ketat, anak-anak masuk hingga tugu selamat datang Timor Leste. Tidak ketinggalan, para panitia menceritakan mengenai sejarah Indonesia – Timor Leste. Dan penjelasan mengenai pos perbatasan Indonesia- Timor Leste.
            Setelah itu, para peserta melakukan kunjungan ke warga sekitar kampus St. Angela, Atambua. Mereka membagikan sembako dan melakukan wawancara singkat. Salah satu rumah yang kami kunjungi yaitu rumah Bapak Estevanus & Ibu Benedicta.  “Terima kasih atas kunjungan anak-anak SD Uruslin, pesan bapak kalian harus rajin belajar dan dengar nasehat orang tua,” kata Bapak Estevanus yang sehari-harinya bekerja sebagai pemotong kayu ini.

            Pada hari berikut, para peserta kongres melakukan debat dengan 3 tema besar yaitu pengaruh gadget, nonton tv, dan main game. Debat dilakukan di 2 ruangan terpisah karena peserta kongres harus menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Tetun. Debat berlangsung seru dan ramai.

Kongres ke-2 di Ende

            Selama 3 hari berproses, para peserta kongres tiba di penghunjung rangkaian acara.  Usai misa penutup, anak-anak menyalakan lilin dan pengalungan Rosario. Secara simbolis, dari tiap perwakilan sekolah menyerahkan pohon kelapa. Mereka juga membacakan dan menyatakan hasil kongres anak secara bersama-sama dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Tetun.

            Diputuskan bahwa kongres anak dilakukan setiap dua tahun sekali. Dan pada 2020, kongres anak akan diadakan di SD St. Ursula- Ende. Acara kemudian diakhiri dengan lomba mars “Servite Et Amate”.

            Di hari kepulangan, para peserta berpamitan dan banyak dari mereka yang menangis. Para guru dan panitia berusaha menenangkan peserta. Kegiatan diakhiri dengan foto bersama dan pulang ke tempat masing-masing. Aprianita Ganadi

Follow by Email
Instagram
Copy link
URL has been copied successfully!