SUKABUMI, SERVIAMNEWS.com– Kampus Yuwati Bhakti merayakan pesta Santa Angela Merici pendiri Ordo Santa Ursula yang mengelola pendidikan Yuwati Bhakti di Gereja St. Joseph, Sukabumi, Jawa Barat, Senin, 28 Januari 2019. Acara bertajuk “Meneladani Santa Angela” ini dipimpin oleh Pastor Hardono. Semua peserta didik TB-TK, SD, SMP, guru, karyawan, serta beberapa orangtua peserta didik ikut hadir dalam perayaan. Sebelum misa dimulai, dibacakan kisah hidup Santa Angela secara singkat agar kami semakin mengenal perjalanan dan semangat Santa Angela.


Dalam homilinya, Pastor Hardono mengingatkan kami untuk meneladani Santa Angela Merici yang lembut, penuh kasih, bersemangat, berani, dan berjuang sampai akhir. Harus ada tekad dan kemauan dari diri sendiri agar dapat mencapai harapan dan cita-cita, selalu yakin terhadap tindakan yang kita lakukan. Ketika kita meyakini suatu hal dengan sungguh-sungguh, Tuhan pasti memberi jalan. Untuk menguatkan homilinya Pastor Dono menyanyikan lagu “Hingga Akhir Waktu” yang dipopulerkan oleh Band Nineball supaya kami mampu berjuang dan bertekun sampai akhir.
Setelah doa penutup, Ketua III Kampus Yuwati Bhakti, Sr. Elisabeth Sri Utami, OSU menyampaikan kepada semua peserta didik untuk meneladani Santa Angela dalam kehidupan sehari-hari mulai dari hal yang sederhana. Hal sederhana yang dapat kita lakukan adalah sikap doa di gereja. Ada dua macam doa yaitu doa vokal dan doa batin.
Saat doa vokal kita dapat berdoa dengan suara lantang kepada Allah. Sedangkan dalam doa batin, kita berdiam di hadapan Allah dengan batin yang hening, tanpa suara. Sebagai pelajar, kita harus belajar berdoa vokal dan batin dengan sungguh-sungguh dan mampu mengendalikan diri saat beribadah di gereja. Semua orang yang beribadah di gereja ingin bertemu dengan Tuhan. Oleh karena itu, kita tidak boleh mengganggu teman yang akan bertemu dengan Tuhan.


Selesai perayaan, para guru dan karyawan mengadakan kunjungan ke rumah para pensiunan Kampus Yuwati Bhakti. Mereka terbagi dalam kelompok, sehingga semua pensiunan dapat dikunjungi. Melalui kunjungan rumah, para guru dan karyawan ingin menghayati dan melaksanakan nasihat Santa Angela kelima, yang tertulis “Bila Anda dapat meluangkan waktu, terutama pada hari besar, kunjungilah puteri-puteri dan saudari-saudari Anda untuk menemui mereka, menengok mereka, menghibur mereka, dan tabahkan hati mereka agar tetap teguh menghayati kehidupan yang telah mereka mulai. Ajaklah mereka agar meletakkan harapan mereka pada sukacita dan harta surgawi agar mereka mendambakan pesta abadi di surga yang penuh berkat dan tidak ada habis-habisnya” (Nas. 5: 1- 3).
Sukacita nampak pada wajah-wajah ceria mereka saat saling bertemu dan bercengkerama. Semoga perjumpaan kasih itu menebarkan sukacita dan harapan bagi tiap pribadi.
Chery (Kelas VII.2 SMP Yuwati Bhakti)
JAKARTA, SERVIAMNEWS.com– Sabtu, 26 Januari 2019, keluarga besar Kampus Santa Theresia Jakarta merayakan pesta nama Santa Angela. Para guru dan karyawan menyatakan syukur bersama dalam Misa Meriah di auditorium kampus Santa Theresia. Misa dipimpin oleh Romo Purbo Tamtomo.


Dalam homilinya, Romo Purbo mengucapkan selamat pesta kepada semua Suster Ursulin teristimewa komunitas Santa Theresia. Mengambil Mazmur tanggapan pada hari itu yaitu “Aku Wartakan Karya Agung-Mu Tuhan, Karya Agung-Mu Karya Keselamatan”, Romo Purbo menyatakan bahwa itu adalah salah satu semangat dan ciri khas yang dimiliki Bunda Angela.
“Itulah yang dibawa Bunda Angela. Meski maknanya kecil di manusia tetapi besar artinya karena ini karya Agung Tuhan. Kita harus mencontoh peziarahan hidup orang Kudus yang menderita tanpa batas, tidak ada orang Kudus yang hidup senang. Contohlah Bunda Angela yang sejak usia muda sudah ditinggal orang tua, tetapi ia masih mampu melanjutkan peziarahan hidup,” kata Romo Purbo.
Sebelum mengakhiri homilinya, Romo Purbo berpesan kepada komunitas Santa Theresia agar selalu menjadi komunitas yang sehat. “Sebagai komunitas, kita memiliki satu tubuh dan satu visi. Setiap pribadi di dalammnya memiliki peran, meski peran itu kecil tapi tetap terasa istimewa, jadi kita tidak boleh jalan sendiri-sendiri,” ungkap Romo Purbo.


Usai Misa, para guru dan karyawan melakukan senam zumba bersama di lapangan kampus Santa Theresia. Mereka juga mengadakan acara pertandingan olahraga antar tiap unit. Acara diakhiri dengan makan siang bersama.
Santa Angela, doakanlah kami……
Aprianita Ganadi
SUKABUMI, SERVIAMNEWS.com– Ikatan Alumni Yuwati Bhakti (IKA YB) mengadakan acara Donor Darah dan Seminar Kesehatan di Kampus Yuwati Bhakti, Sukabumi, Jawa Barat, Jumat, 25/1. Kegiatan bertajuk “Setetes Darah Untuk Kehidupan” ini dihadiri juga oleh Walikota Sukabumi Achmad Fahmi. Acara memiliki logo yaitu bunga anggrek dan tetesan darah yang menandakan cinta keberanian dan kehidupan.


Ketua IKA YB, Laura Petra, menjelaskan bahwa IKA YB baru terbentuk pada 20 Oktober 2018. Selama ini, para alumni hanya berkumpul dengan angkatannya saja, dan belum berkumpul dengan lintas angkatan. Untuk itu, dibentuklah IKA YB dengan fokus pada 3 hal yaitu dari kita untuk sekolah, dari kita untuk alumni, dan dari kita untuk masyarakat.
“Ketiga fokus ini harus berkesinambungan. Acara donor darah merupakan acara perdana kita, dan ini satu bentuk kemurahan Tuhan, kampus Yuwati Bhakti dapat memiliki ikatan alumni. Ke depan banyak acara yang akan kami buat, banyak rencana dan harus terus berlanjut bersama rekan-rekan nanti yang melanjutkan,” kata Laura alumni Kampus Yuwati Bhakti angkatan tahun 1993 ini.


Sementara itu, donor darah dan seminar kesehatan dipilih sebagai acara perdana IKA YB, karena memberi dapat kita lakukan dalam berbagai macam cara. “Tanpa harus finansial kita juga dapat memberi. Lewat orang tua murid, guru, karyawan, dan masyarakat luar mereka dapat mendonorkan darahnya,” ungkap Laura.
Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua III Kampus Yuwati Bhakti, Sr. Elisabeth Sri Utami OSU, bahwa lewat setetes darah kehidupan kita dapat menyelamatkan jiwa orang lain. Begitu pula, kita dapat menyelamatkan YB yang secara usia sudah tua, tetapi seolah-olah yang tahu hanya para alumni. Untuk itu, bagaimana caranya alumni harus datang kembali ke sekolah dan melihat kampus kami.


“Setidaknya harus ada pemerhati alumni dari IKA YB untuk YB. Kami memiliki impian bahwa harus ada rekan yang dapat memikirkan YB yaitu siapa lagi jika bukan alumni. Mereka harus mengembangkan YB di Sukabumi hingga ke seluruh nusantara. Harapannya kami dapat bergandengan tangan agar YB dapat semakin dikenal,” tutur Sr. Sri Utami.
Aprianita Ganadi
JAKARTA, SERVIAMNEWS.com– Sekolah Santa Ursula Jakarta tahun 2019 mencapai usia ke- 160 tahun. Acara diisi dengan berbagai kegiatan selama 3 hari yaitu Perayaan Ekaristi Syukur (18 Januari 2019), Homecoming (19 Januari 2019), dan Family Day (20 Januari 2019). Kegiatan dibuka, dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo didampingi Romo Alb. Hani Rudi Hartoko SJ, Romo Yustinus Sudarminta SJ, Romo Purbo Tamtomo, dan Romo M. Harry Sulistyo, Jumat, 18/1 di aula SD Santa Ursula, Jakarta.


Acara bertajuk Santa Ursula Jakarta Untuk Indonesia “Biji Itu Telah Tumbuh, Menjadi Pohon, dan Berbuah” ini dihadiri oleh Provinsial Ursulin Indonesia Sr. Agatha Linda Chandra OSU, Pimpinan Komunitas/Pimpinan Karya Santa Ursula Sr. Edith Watu, OSU, para suster Ursulin, dan tamu undangan. Dalam homilinya, Bapa Uskup mewakili Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), mengucapkan syukur dan selamat kepada seluruh keluar Besar Santa Ursula yang sudah mencapai usia 160 tahun.
Kita semua wajib bersyukur karena sesuai tema acara biji tersebut telah tumbuh menjadi buah yang berlimpah. “Biji tumbuh menjadi pohon dan berbuah, lalu apa yang membuat pohon itu berbuah? Tentu itu karya Tuhan sendiri yang terlibat didalamnya, lewat pengorbanan. Kerelaan untuk berkorban menjadi burung nuri kecil di biara dan dibidang pendidikan,” kata Bapa Uskup.


Sementara itu, dalam kata sambutannya, Sr. Agatha menuturkan bahwa Biara Santa Ursula Jakarta merupakan biara kedua Ursulin di Indonesia. Sedangkan Biara pertama Ursulin ada di Santa Maria, Juanda. Dari kedua biara ini lahir biara-biara Ursulin lain di Indonesia. “Ditempat ini, lahir sekolah legendaris, lahir para alumni yang menjadi pengusaha, tokoh politik, pejabat pemerintahan, dan lain-lain,” ungkap Sr. Agatha.


Sr Agatha mengibaratkan, kita adalah “anggur tua” yang masih enak rasanya, disukai, dan dicari banyak orang. Akan tetapi, kita tidak dapat menahan desakan “anggur muda”. Untuk itu, Sr. Agatha mengajak untuk selalu terus berinovasi dan berpikir kreatif. “Kita tidak boleh tinggal dalam kenyamanan, harus keluar berani melawan arus, dan memiliki pribadi yang berintegritas,” tutur Sr. Agatha.
Aprianita Ganadi
“Orang yang paling indah dalam hidup saya adalah Ibu. Apa pun yang saya raih dan capai saat ini, semua berasal darinya. Semua kemampuan, intelektual, dan peran yang saya jalani bersumber darinya.”
(George Washington, peletak dasar Amerika Serikat dan cikal bakal perubahan dunia).
Bagi seorang George Washington, ibu menjadi sumber dan pusat hidupnya. Sosok ibu memiliki kemampuan tidak hanya berkaitan dengan hidup biologisnya saja tetapi menjadi sumber dari segala pencapaian mimpi Washington. Kemampuannya menjadi seorang pemimpin besar bersumber dari teladan sosok ibu. Maka tak heran ibu adalah orang yang paling indah dalam hidup Washington. Bagaimanakah dengan diri kita?
Siapakah Ibu ?
Dalam sejarah kehidupan seorang manusia, ibu adalah sosok utama yang paling penting dalam hidupnya. Ibu adalah sumber kehidupan. Ia berperan melahirkan manusia-manusia baru melalui rahim yang mengandungnya selama sembilan bulan lebih. Bahkan tidak hanya melindungi calon kehidupan baru tetapi ia juga menghidupinya. Tanpa ketulusan hatinya untuk menerima calon manusia baru dalam rahimnya maka tidak akan pernah muncul kehidupan baru. Mungkin itulah hal yang dipahami selama ini dari kata “ibu”. Orang yang melahirkan manusia baru. Dari pemahaman tersebut maka ibu yang kita kenal pastilah seorang perempuan.
Dalam Kitab Suci, panggilan terhadap sosok perempuan terbagi menjadi panggilan perempuan sebagai ibu/istri yang merupakan ethos, panggilan perempuan yang bekerja, dan panggilan perempuan sebagai biarawati. Status perempuan sebagai seorang ibu dikatakan oleh Yohanes sebagai berikut :
…”26 Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah anakmu!” 27 Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.”
Dalam kutipan tersebut, Yesus menunjuk Bunda Maria menjadi ibu dari mereka semua yang dihantar kepada hidup melalui wafatnya Sang Putra Tunggal. Yesus menunjukkan bahwa diri Bunda Maria yang menjadi sosok biologis bagi diri-Nya juga memiliki dimensi keibuan.
Bunda Maria menjadi sosok atau figur seorang ibu yang sangat ideal. Pusat kehidupannya adalah bersama Yesus, anaknya : mengandung, melahirkan, membesarkan, selalu mengikuti jalan-Nya, hadir dan menguatkan dalam penderitaan, serta mendampingi saat ajal menjemput. Ia memenuhi panggilan Tuhan. Di sini kita melihat betapa sungguh luar biasa peranan Bunda Maria, tidak hanya bagi Yesus, tetapi bagi sejarah keselamatan umat Allah. Dimensi keibuan Maria muncul ketika ia hadir tidak hanya untuk puteranya (biologis) tetapi untuk semua manusia yang meyakini keselamatan melalui putra-Nya.
Dimensi Keibuan
Menjadi perempuan adalah kelahiran, menjadi ibu sejati adalah pilihan. Melalui jiwa seorang ibu, anak akan belajar banyak hal. Seorang anak akan belajar bersyukur kepada Tuhan melalui doa bersama ibu. Seorang ibu yang beriman akan selalu memberikan contoh mengucap syukur atas berkat Tuhan, dalam setiap kesempatan. Seorang anak juga akan belajar mengandalkan Tuhan dalam seluruh kehidupannya melalui teladan seorang ibu.
Ketika seorang anak bertumbuh semakin besar, ia pasti akan menjalin relasi dengan banyak orang. Kadang kala relasi itu tidak terbangun dan berjalan mulus. Melalui kesabaran dan maaf yang tak terbatas untuk anak-anaknya maka seorang anak akan belajar memiliki pengendalian diri, kesabaran, dan pengampunan yang tiada batas juga untuk sesama yang telah melukai dan menyakiti hatinya. Kebesaran jiwa seorang ibu inilah yang diteladani oleh anak-anaknya.
Seorang ibu akan selalu mendorong anaknya untuk kembali bangkit setelah ia terjatuh. Mulai saat seorang bayi belajar merangkak, berjalan tertatih-tatih, terjatuh, dan bangun lagi, ibulah yang selalu memberikan semangat untuk terus mencoba. Ibu yang bijaksana tahu bahwa tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan maka ia akan selalu mendorong anak-anaknya untuk terus berjuang meraih mimpi. Ia akan mendampingi anak-anaknya berjuang dari kesalahan untuk menjadi lebih baik. Bagi seorang ibu, proses belajar lebih utama daripada hasilnya. Pujian yang tulus dari seorang ibu akan menumbuhkan kreativitas, rasa dihargai dan percaya diri dalam diri seorang anak. Seorang ibu memang motivator paling unggul.
Mendengarkan orang lain bukan hal yang mudah. Sikap ini sering muncul saat seseorang berelasi dengan orang lain. Padahal mendengarkan orang lain adalah salah satu wujud saling menghargai. Dari manakah anak belajar mendengarkan? Tentu saja dari sosok ibu juga. Ketika ibu dengan sabar mendengarkan cerita gembira maupun sedih anak-anaknya, dari situlah anak belajar bersabar, cara menghargai, dan berelasi.
Seorang anak juga belajar sikap disiplin dan tanggung jawab dari ibu. Anak belajar bertanggung jawab melalui teladan yang ditunjukkan oleh sang ibu saat mengelola rumah tangganya. Bangun pagi, menyiapkan sarapan, membereskan rumah, adalah tanggung jawab yang dilakukan ibu.
Ketulusan ibu akan menjadi contoh bagi anak untuk belajar menjadi pemimpin besar. Ibu yang bijaksana juga tidak akan menuntut anak-anaknya untuk semata-mata mengejar prestasi akademis tetapi mengajak anak mengembangkan kecerdasan spiritual dan emosi secara seimbang. Ia tahu pasti bahwa nilai akademis tidak menjadi tolok ukur keberhasilan anaknya. Maka ia akan selalu memberikan kesempatan kepada anak-anaknya untuk mengaktualisasikan dirinya dengan caranya sendiri.
Keteladanan ibu yang lainnya adalah ketika anak belajar berbagi dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Seorang ibu pasti akan menjadi ibu untuk siapa pun yang membutuhkan. Kasih seorang ibu tidak akan memandang hubungan darah. Ia akan menjadi ibu bagi darah dagingnya sendiri maupun orang lain. Dari sikap inilah, anak belajar sikap belas kasih tanpa batas.
Siapakah Setiap Jiwa?
Setiap insan yang hadir di hadapan kita adalah manusia yang memiliki jiwa, memiliki roh dalam badan jasmaninya. Insan tersebut terutama hadir dalam sosok peserta didik kita. Driyarkara mengatakan bahwa peserta didik adalah manusia yang sedang dalam perjalanan menuju kemanusiaannya (Driyarkara, 1980). Manusia-manusia muda ini tentu baru berada dalam tahap perkembangan menjadi manusia dewasa maka dapat dikatakan bahwa ia masih perlu bimbingan dan pendampingan (Tanlain, 1996). Di dalam diri setiap peserta didik inilah Allah hadir karena mereka semua adalah anak Allah. Kita juga harus selalu ingat bahwa dalam setiap jiwa mereka, Allah hidup dan berdiam serta menunjukkan citra-Nya.
Penghargaan terhadap anak-anak Allah harus nyata dalam usaha mengenal, memahami, dan mencintai setiap peserta didik. Tidak semua peserta didik adalah anak yang menyenangkan, gembira, kreatif, pandai, cerdas, peduli, dan semua nilai baik lain yang kita harapkan ada dalam diri mereka. Seringkali justru mereka hadir dalam sosok yang tertutup, penyendiri, menyebalkan, murung, bodoh, pemberontak, dan juga semua nilai kurang lain yang bisa kita tambahkan. Namun, penting disadari bahwa setiap pribadi peserta didik adalah unik. Di sinilah kehadiran kita sebagai seorang “ibu” sungguh dibutuhkan oleh orang lain, terutama peserta didik kita. Maka dapat dipahami bahwa setiap jiwa di sini adalah setiap peserta didik yang hadir dan dipercayakan Allah kepada kita. Seorang guru akan menjadi ibu bagi peserta didiknya.
Menjadi Ibu bagi Setiap Jiwa
Menilik uraian di atas, dimensi keibuan seseorang tidak hanya muncul dalam sosok perempuan. Setiap orang yang memiliki dan mewujudkan dimensi “keibuan” dalam dirinya adalah seorang ibu bagi setiap jiwa. Bukan hanya perempuan yang berpendidikan tinggi yang mampu mendidik seorang anak tetapi setiap orang yang memiliki dimensi keibuan dalam dirinya itulah yang mampu menumbuhkembangkan seorang anak menjadi pribadi yang utuh.
Menjadi guru adalah panggilan jiwa yang mewujud pada sosok pribadi yang menumpahkan seluruh perhatiannya, mengerahkan segala daya upayanya untuk keberhasilan anak didiknya. Sosok pribadi yang seperti apakah? Sosok pribadi, baik laki-laki maupun perempuan yang memiliki dimensi keibuan bagi peserta didiknya. Tidak hanya kaum perempuan. Hal ini perlu ditegaskan karena dalam sosok guru laki-laki sekali pun akan muncul dimensi keibuan ketika ia hadir menjadi seorang ibu bagi peserta didiknya.

Santa Angela dalam nasihatnya yang ketujuh, ayat 8, mengatakan
“Memang pantas dan layak bahwa seorang ibu menjadi contoh dan cermin hidup bagi puteri(a)-puteri mereka, terutama dalam kesederhanaan, tingkah laku dan sopan santun.” (Nasihat 7, ayat 8)
Bagi Angela Merici, seorang ibu adalah sosok yang penuh kelembutan, perhatian, dan cinta, setia dalam setiap tugas besar maupun kecil, dan teladan bagi putera-puterinya terutama dalam hal kesederhanaan, tingkah laku, dan sopan santun. Contoh dan cermin hidup di atas tentu saja bisa dilakukan siapa pun yang berada dalam dunia pendidikan. Seorang guru laki-laki harus juga bisa menjadi cermin hidup bagi peserta didiknya, laki-laki maupun perempuan, bahkan juga bagi rekan kerjanya. Tentu saja tanpa ia harus menjadi perempuan bukan?
Lebih lanjut dalam prakata Warisan Bunda Angela, ayat 10-13, Santa Angela mengatakan
“10 Di antara sarana-sarana yang baik dan mutlak perlu yang disediakan Allah bagi saya, Andalah yang terpenting 11Anda dianggap pantas menjadi ibu-ibu yang sejati dan penuh kasih sayang dari keluarga yang agung ini, 12yang telah diserahkan kepada Anda13 supaya Anda menjaganya sama seperti puteri(a)-puteri yang lahir dari Anda sendiri, bahkan lebih dari itu.” (Warisan Santa Angela, ayat 10-13)
Sejalan dengan ayat di atas, Romo Mangunwijaya mengatakan bahwa “tugas pendidikan seyogyanya mampu mengantar dan menolong peserta didik untuk mengenal dan mengembangkan potensinya agar menjadi manusia mandiri, dewasa, utuh, merdeka, dan solider. Mewujudkan harapan tersebut maka sosok guru dengan tampilan pribadi yang dialogis, kreatif, beriman teguh menjadi keharusan yang mutlak. Guru ideal adalah pendidik bukan pengajar dan penatar, bapak, ibu, dan sahabat, bukan tuan atas diri peserta didik.
Bagaimana kita akan melakukan itu semua? Menjadi ibu bagi setiap jiwa mengandaikan bahwa kita mampu mewujudkan dimensi keibuan dalam tugas kita sebagai guru. Tidak hanya untuk peserta didik, tetapi juga untuk rekan kerja yang sedang membutuhkan kehadiran ibu. Ketika seluruh sikap, perbuatan, perkataan, perilaku kita dalam hidup sehari-hari mencerminkan nilai-nilai hidup yang positif dan menumbuhkan pribadi lain, saat itulah kita hadir menjadi ibu. Kita hanya perlu menyediakan waktu yang berkualitas untuk mereka yang membutuhkan. Waktu itulah kita gunakan untuk menjadi pendengar yang baik, terutama peserta didik kita.
Santa Angela Merici menunjukkan betapa penting seorang guru mengenal dan memahami setiap peserta didik yang dipercayakan kepadanya. Ibarat seorang pemahat yang mengukir dengan seluruh ketelitian sehingga menghasilkan sebuah patung yang luar biasa, demikian juga seorang guru. Bukan hal sulit untuk dilakukan jika seorang guru memiliki cinta sejati, cinta seorang ibu bagi setiap peserta didiknya. Cinta ini tentu akan menumbuhkan sikap melayani tanpa syarat.
Marilah kita melihat kembali perjalanan hidup kita sebagai pendidik. Sudahkah kita bersedia menjadi “ibu” bagi setiap jiwa, setiap anak, setiap peserta didik yang dipercayakan Allah kepada kita? Kita tidak harus mulai dengan hal-hal besar tetapi dengan sebuah cinta yang tulus. Ibu yang penuh kelembutan, keramahan, dan cinta yang tak terbatas bagi setiap jiwa peserta didik.
L. M. Sri Sudartanti Purworini (SMA Santa Ursula BSD)
Daftar Pustaka
Driyarkara. 1980. Driyarkara Tentang Pendidikan. Yogyakarta : Kanisius
Ursulin Unio Roma. 1995. Kata-kata Santa Angela : Regula, Nasihat, Warisan.
Tanlain, Wens. 1996. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta : Kanisius
MALANG, SERVIAMNEWS.com– Walikota Malang Sutiaji, memberikan sertifikat heritage kepada pihak-pihak yang mengelola 32 bangunan cagar budaya dalam apel pagi di halaman Balai Kota Malang pada Senin, 14 Januari 2019. Pemerintah Kota (Pemkot) Malang berupaya melindungi bangunan-bangunan bernilai sejarah di wilayah kota Malang. Artinya, tak boleh lagi ada renovasi asal-asalan atas bangunan yang sudah mengantongi surat keputusan (SK) tersebut.
Walikota Malang Sutiaji, menegaskan, bangunan-bangunan heritage itu tidak boleh diubah atau dibongkar sesuai dengan Peraturan Daerah nomor 1 tahun 2018 tentang Cagar Budaya Kota Malang. “Bangunan-bangunan ini dilindungi, jadi untuk renovasi yang sifatnya besar harus dilaporkan. Tidak boleh diubah bentuk, apalagi dibongkar,” ujarnya. Beliau mengajak seluruh lapisan masyarakat agar terus menjaga warisan tersebut. “Jangan sampai punah, mudah-mudahan masyarakat bisa menghormati dan menghargai apa yang menjadi budaya bangsa terus menerus,” pungkasnya.
Seluruh bangunan yang ditetapkan tersebut mulai dari bangunan pemerintahan, bangunan sekolah, bangunan perbankan, gereja, klenteng, dan bangunan brandweer. Rata-rata, bangunan itu ditetapkan melalui surat keputusan (SK) pada tanggal 12 Desember dan 31 Desember 2018.
Adapun salah satu bangunan yang mendapat sertifikat adalah Bangunan Kampus Cor Jesu, dengan SK 185.45/348/35.73.112/2018 Tanggal 12 Desember 2018. Bangunan ini dirancang oleh Westmas dari Surabaya atas prakarsa dari Mgr. Staal yang merupakan satu-satunya uskup di Indonesia pada waktu itu. Bangunannya memiliki ciri khas arsitektur kolonial. SK tersebut diserahkan Walikota Malang di Balaikota Malang diterima oleh Sr. Agatha Lidya S, OSU. Proficiat…
Sebagai warga Cor Jesu, patut senang dan bangga akan keputusan pemerintah kota Malang ini. Dan berharap bahwa pemerintah semakin memperhatikan pemeliharaan dan perawatan bangunan yang juga menjadi salah satu aset bagi komunitas Ursulin di Indonesia. Semoga…
Veronika (Cor Jesu Malang)
MALANG, SERVIAMNEWS.com– SMP Katolik Cor Jesu Malang pada Senin, 14 Januari 2019 menerima Piagam Penghargaan sebagai Sekolah Adiwiyata tingkat Kota Malang. Penghargaan diserahkan Walikota Malang Sutiaji di Balaikota Malang melalui surat keputusan Walikota Malang bernomor 188.45/340/35.73.112/2018. Ada 29 SD dan 7 SMP di kota Malang yang mendapat predikat Sekolah Adiwiyata tahun 2018.
Apa itu Sekolah Adiwiyata? Sekolah Adiwiyata adalah salah satu program Kementerian Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah sebagai upaya pelestarian lingkungan hidup. Dalam program ini diharapkan setiap warga sekolah dapat ikut terlibat dalam kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat dan menghindarkan dampak lingkungan yang negatif.
Tujuan Program Adiwiyata adalah menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah agar menjadi tempat pembelajaran yang nyaman dan aman serta penyadaran warga sekolah (guru, murid, orangtua dan karyawan lainnya) dapat turut bertanggung jawab dalam upaya penyelamatan lingkungan. Program Adiwiyata dikembangkan berdasarkan norma–norma dalam berperikehidupan yang antara lain meliputi: kebersamaan, keterbukaan, kesetaraan, kejujuran, keadilan, dan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan sumber daya alam.
Penilaian Sekolah Adiwiyata ini dilakukan secara bertahap. Mulai dari tingkat kota, apabila lolos tingkat kota maka akan maju ke tingkat provinsi, kemudian nasional. Empat aspek yang harus menjadi perhatian sekolah untuk dikelola dengan cermat dan benar apabila mengembangkan Program Adiwiyata yakni: Kebijakan, Kurikulum, Kegiatan, dan Sarana Prasarana.
Bapak Walikota Malang Sutiaji berharap Dinas Pendidikan kota Malang bisa meningkatkan jumlah sekolah Adiwiyata yang awalnya setingkat kota, bisa melaju ke level nasional bahkan Adiwiyata Mandiri. Agar jumlah sekolah Adiwiyata makin bertambah, Sutiaji berencana membuat peraturan mengenai anti kresek plastik di sekolah. Semua makanan, bahkan tas belanja saja dilarang berbahan kresek.
SMP Katolik Cor Jesu Malang sebagai salah satu Sekolah Ursulin di Jawa Timur merasa bangga dengan perolehan prestasi ini, karena program Adiwiyata ini selaras dengan pendidikan nilai “Servite et Amate”. Semoga prestasi ini dapat dikembangkan sehingga sukses di tingkat provinsi bahkan harapannya sampai tingkat nasional. Tetap SERVIAM!!!
Enny (Guru SMPK Cor Jesu Malang)
Para peserta foto bersama usai menghadiri pelatihan Higher Order Thinking Skills Regio Jawa Tengah- Jawa Timur, dan Regio Flores pada Senin-Selasa, 14-15 Januari 2019 di Panti Samadi Bintang Kejora Pacet. Hadir sebagai narasumber yaitu Bapak Dicky Susanto.


SURAKARTA, SERVIAMNEWS.com- Judul di atas merupakan tema kegiatan motivasi yang diselenggarakan oleh SMA Regina Pacis Surakarta pada Kamis, 3 Januari 2019. Acara yang dilaksanakan di Auditorium Kampus Regina Pacis Surakarta ini dihadiri oleh seluruh siswa-siswi kelas XII SMA Regina Pacis. Kegiatan dimulai pada pukul 08.00- 12.00 WIB dan dipandu oleh Bapak Joko Prasetyo dari Spiritindo Training & HR Management Consultant.
Ujian Nasional di tahun 2019 dilaksanakan lebih awal jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pemajuan pelaksanaan Ujian Nasional ini bukan tanpa alasan, melainkan karena tahun ini Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi atau Pemilu 2019. Akibat dari pelaksanaan Ujian Nasional yang lebih awal, tentu saja sangat berdampak pada padatnya jadwal siswa-siswi SMA.

Jadwal diatur sedemikian rupa dengan berbagai macam pertimbangan agar keduanya, yakni penyelenggaraan Ujian Nasional dan pesta demokrasi dapat berjalan dengan baik dan lancar tanpa halangan apa pun. Pelaksanaan Ujian Nasional yang lebih awal pun tentu juga ditanggapi serius oleh guru-guru SMA Regina Pacis Surakarta. Para guru menyusun jadwal yang padat. Mulai dari ujian praktik, latihan UN, simulasi Ujian Nasional Berstandar Komputer (UNBK), Ujian Sekolah Berstandart Nasional (USBN), dan puncaknya di UNBK.
Pemajuan pelaksanaan Ujian Nasional yang diikuti oleh jadwal yang padat berpotensi membuat sebagian siswa-siswi berada dalam tekanan dan merasa cemas. Sebagian besar dari mereka belum memiliki motivasi dan semangat dalam menghadapinya. Mereka masih bersantai-santai dengan alasan “ujiannya masih lama” atau “ngapain udah belajar.” Mereka tidak sadar bahwa waktu akan berjalan cepat dan tidak akan terasa bahwa ujian sudah berada di depan mata. Sangat disayangkan jika siswa-siswi tidak memiliki motivasi untuk mulai belajar dan mencicilnya sedari dini.
Pak Joko selaku pembicara mengatakan bahwa Indonesia memerlukan pribadi yang unggul. Beliau merasa prihatin dengan anak muda zaman sekarang. Tiga bagian penting yang dimaksud oleh yaitu kepribadian, motivasi, dan keahlian. Ketiganya sangat penting dalam upaya membangun pribadi yang unggul.
Namun, jika dipilih dari ketiganya, maka yang terpenting adalah motivasi. Mengapa motivasi? Karena motivasilah yang membuat seseorang berkeinginan untuk berprestasi dan mendorongnya agar selalu berusaha mewujudkan mimpi dan harapannya. Tanpa adanya motivasi tentunya seseorang akan pasrah pada keadaan dan tidak berjuang untuk menggapai apa yang diinginkan.

Seminar yang dilaksanakan pada hari pertama masuk sekolah ini diawali dengan doa yang dipimpin oleh Ibu Tari. Setelah berdoa, siswa-siswi diajak untuk berjoget bersama. Beberapa siswa-siswi dan guru maju ke atas panggung untuk melakukan ice breaking. Tidak ketinggalan pula Ketua Kampus Regina Pacis Surakarta, Suster Veronica Sri Andayani, OSU naik ke atas panggung untuk memimpin siswa-siswi berjoget bersama diiringi lagu dangdut.
Suasana auditorium pun menjadi ramai dan seru. Siswa-siswi berjoget bersama diiringi canda tawa yang membuat seminar ini diawali dengan keceriaan pagi hari. Ketika sesi pertama digelar, penyampaian yang ringan membuat seminar ini ditanggapi serius oleh siswa-siswi kelas XII. Siswa-siswi pun diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dalam sesi tanya jawab.
Pak Joko selaku pembicara mengajak siswa-siswi kelas XII SMA Regina Pacis Surakarta untuk membuat target. Target tersebut harus tinggi agar nantinya mendorong siswa-siswi untuk mencapainya. Pembicara mengutip salah satu perkataan Ir. Soekarno dimana beliau pernah berkata “Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang.” Mimpi dan harapan yang dimiliki pun harus kita percaya dan yakini dapat terwujud. Seminar pemberian motivasi ini memberikan semangat baru dan tambahan keberanian bagi siswa-siswi kelas XII dalam menghadapi Ujian Nasional. Diharapkan seminar ini mampu memotivasi dan mendorong siswa-siswi dalam mencapai dan menggapai mimpi dan impiannya masing-masing.
Alexandra Dewi Wijayanty (Siswi SMA Regina Pacis Surakarta)
SURAKARTA, SERVIAMNEWS.com– Truly Serviam adalah nama paguyuban alumni SMP Regina Pacis Surakarta yang diresmikan oleh Ibu M.M. Wahyu Utami, M.Pd dan juga menjadi tema Reuni Akbar 60 tahun SMP Regina Pacis Surakarta. Acara berlangsung pada Kamis, 27 Desember 2018 di Auditorium Kampus Regina Pacis Surakarta. Reuni Akbar SMP Regina Pacis ini dihadiri oleh alumni 1966 – 2018, Suster Komunitas Ursulin, Suster-Suster yang pernah menjabat kepala sekolah, bapak ibu karyawan purna tugas, serta bapak ibu guru yang masih berkarya dengan jumlah peserta sekitar 650 orang. Jumlah ini melebihi perkiraan panitia yang sebelumnya memprediksi 500 orang.

Reuni Akbar menjadi puncak kegiatan peringatan 60 tahun SMP Regina Pacis Surakarta yang didirikan pada tanggal 1 Juli 1958. Sebelumnya, ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan untuk menyemarakkan 60 tahun SMP Regina Pacis yaitu Ursulin Week, Seminar Parenting, pengecekan kesehatan gratis, donor darah, jalan sehat dan Misa 60 tahun oleh Mgr Robertus Rubiyatmoko, Pr.
Penyelenggaraan reuni akbar berlangsung meriah yang diawali dengan prosesi para suster Ursulin Komunitas Solo, suster Ursulin yang pernah memimpin SMP Regina Pacis, bapak ibu guru, karyawan yang masih aktif dan sudah purna. Setelah itu, ada beberapa sambutan yang disampaikan oleh Ketua Kampus Regina Pacis Surakarta, Suster Veronica Sri Andayani, OSU, Kepala SMP Regina Pacis Surakarta Ibu M.M. Wahyu Utami, M.Pd. dan Ketua Panitia Reuni Akbar Ibu Martina Setiawati. Setelah beberapa sambutan, Paguyuban Alumni Truly Serviam diresmikan dan para alumni mengikrarkan janji alumni.

Para peserta yang hadir menunjukkan kebolehan mereka dalam menari, berdansa, menyanyi, berjoget dangdut, serta bermain band. Diantara para penampil tersebut adalah Tari kipas oleh alumni 1978, line dance alumni 1977, band the Sleepers pimpinan alumni Nicodimus Budi, Serviam Band yang dimotori oleh Denny Klo alumni 98, serta penampilan istimewa dari ibu Iga Mawarni yang dengan suara altonya yang khas melantunkan lagu lawas berjudul “Andaikan Kau Datang Kembali”.
Tidak ketinggalan pula Suster Veronica Sri Andayani, OSU yang bersama guru dan Serviam Band mengajak hadirin berjoget dan bernyanyi bersama dengan iringan dangdut. Selain itu, berbagai door prize pun menjadi penghibur bagi peserta Reuni Akbar. Kemeriahan reuni Akbar ditutup dengan doa dan berkat oleh Romo Petrus Yuwono, MSF yang juga alumni 1995.


Meski Reuni Akbar sudah usai, namun para alumni akan tetap terlibat dan berperan dalam berbagai kegiatan dan dinamika sekolah demi kemajuan almamater mereka SMP Regina Pacis Surakarta. Bagimanapun juga mereka adalah Truly Serviam.
Neny Kartika Sari, S.Pd. (Guru SMP dan Ketua Panitia Reuni Akbar 60 Tahun SMP Regina Pacis Surakarta)