BANDUNG, SERVIAMNEWS.com–  Dalam rangka memperingati Hari Pangan dan Sumpah Pemuda, KB-TK Santa Angela Bandung, Jawa Barat, mengadakan Upacara Bendera dan menikmati berbagai macam makanan tradisional Indonesia, Senin, 28 Oktober 2019. Jenis makanan yang dinikmati para peserta didik adalah makanan dengan bahan dasar singkong, ketan, kacang-kacangan, ubi, dan jagung.

Tidak hanya makanan, tetapi dilengkapi juga dengan minuman khas Indonesia, yaitu cincau dan goyobod. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan mengenalkan makanan dan minuman tradisional kepada para peserta didik dan juga menanamkan sikap cinta tanah air. Sehingga kelak dapat menjadi pemuda-pemudi Indonesia yang mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang memiliki daya juang tinggi.

Hidup pemuda-pemudi Indonesia!

Kampus Santa Angela Bandung : http://www.santa-angela.sch.id/

Serviam

SUKABUMI, SERVIAMNEWS.com– Walikota Sukabumi, Bapak H. Achmad Fahmi, S.Ag. M.Pd beserta jajarannya, Bapak Lurah Selabatu, Bapak Camat Cikole, dan perwakilan dari Puskesmas Selabatu mengunjungi TB-TK Sukapirena pukul 10.00, Senin, 28 Oktober 2019. Tujuan utama kunjugan mereka adalah memantau kesiapan TB-TK Sukapirena dalam Lomba Sekolah Sehat (LSS) di tingkat provinsi yang akan dilaksanakan pada tanggal 7 November 2019. Dalam sambutannya, Bapak Fahmi mengungkapkan rasa terima kasih kepada TB-TK Sukapirena karena telah bersedia ditunjuk mewakili Kota Sukabumi dalam Lomba Sekolah Sehat tingkat provinsi.

Bapak Fahmi juga mengungkapkan rasa terima kasihnya karena TB-TK Sukapirena telah ikut ambil bagian dalam membangun Kota Sukabumi yang kini dipimpinnya. Beliau memberikan dukungan kepada TB-TK Sukapirena dalam lomba tersebut, salah satunya dengan memantau kesiapan lomba yang telah dilakukan hingga saat ini. Adapun. acara penyambutan Bapak Walikota telah dipersiapkan dengan matang oleh kepala sekolah, staf guru, dan komite yang telah hadir di sekolah sejak pagi.

Peserta didik TB-TK Sukapirena menyambut Bapak Fahmi dan jajarannya dengan menyanyikan lagu “Sekolah Sehat”. Setelah mendengar nyanyian dari peserta didik TB-TK Sukapirena, ia meninjau tiap kelas dan semua ruangan terutama ruang UKS agar dalam lomba nanti TB-TK Sukapirena benar-benar telah siap. Pada saat berada di UKS, Bapak Fahmi mengajak peserta didik untuk mempraktikkan cara mengobati luka dan ia sendiri menjadi pasien.

 Peserta didik TK Sukapirena sangat senang dan antusias hingga mereka melakukannya dengan sungguh-sungguh. Semoga kedatangan Bapak Fahmi dan jajarannya kali ini dapat menjadi motivasi  dan kebanggaan TB-TK Sukapirena dalam mempersiapkan diri menjadi wakil Kota Sukabumi dalam kegiatan LSS. Terutama menjadi sekolah sehat dan berkarakter dalam membangun kepribadian peserta didik dan masyarakat Kota Sukabumi pada umumnya.

Agnes Trimaryunani

Kampus Yuwati Bhakti Sukabumi : http://kampusyuwatibhaktisukabumi.or.id/

Serviam

JAKARTA, SERVIAMNEWS.com– Para Suster Ursulin yang terdiri dari Pembina, Pengawas, Sekretaris, Bendahara, Pimpinan Komunitas, Pengurus Yayasan, dan bapak-ibu Kepala Satuan Pendidikan dari seluruh Kampus Ursulin Indonesia menghadiri Rapat Pleno Pusat Yayasan Pendidikan Ursulin (PYPU), Rabu-Jumat, 23-25 Oktober 2019 di Auditorium Sekolah Santa Theresia, Menteng, Jakarta Pusat. Rapat pleno bertajuk “Manajemen Pendidikan Ursulin Indonesia” ini juga dihadiri oleh pengamat Budi Hartono.

Dalam sambutan pembukaan, Ketua I PYPU, Sr. Ferdinanda Ngao, OSU menceritakan bahwa tepat pada 1 Oktober 2019 PYPU telah berusia 5 tahun. Pada periode itu, PYPU telah berusaha mengarahkan, mengkoordinasi, dan mendukung semua potensi yang ada di kampus. Dalam pleno 2019, semua sistem akan kita pelajari, kita bahas, dan kita sepakati bersama sebagai pegangan pedoman, dan arah pelayanan pendidikan kita periode 2020-2023.

“Pokok penting yang akan kita bicarakan adalah mengenai struktur organisasi, Standar Operasional Prosedur, Instruksi Kerja, Rencana Strategis PYPU, dan Grand Design Pendidikan Ursulin Indonesia. Demi penyempurnaan semua sistem yang telah dikonsepkan, kami mohon partisipasi aktif semua peserta Pleno untuk mempelajari dan mencermati dengan sungguh-sungguh,” kata Sr. Ferdin.

Semoga dengan rapat Pleno 2019 kali ini, lanjut Sr. Ferdin, akan menghasilkan keputusan bersama demi pelayanan dan kemajuan pendidikan Ursulin pada masa tiga tahun mendatang. Tidak itu saja, semoga Pleno dapat menghasilkan buah-buah rahmat bagi perkembangan Kampus-Kampus Pendidikan Ursulin di Provinsi Indonesia.

Aprianita Ganadi

  1. Caption Foto : Selamat untuk siswa-siswi SMA Regina Pacis atas prestasinya menyabet Juara 2 Lomba Musikalisasi Puisi dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra Dies Natalis ke-56 Universitas Sanata Dharma Se- Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu, 26 Oktober 2019.

2. Caption Foto : Selamat kepada Angeline Wijaya (XI IPA 5), Carlo Evert Adjo (XI IPA 3), Natalia Devi (XI IPA 3) Sebagai Juara 1 Lomba Debat dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra Dies Natalis ke-56 Universitas Sanata Dharma Se-Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat, 25 Oktober 2019.

3. Caption Foto : Selamat kepada Karina Wijayanti (XII IPA 2), Evelyn Graciella Sugiono (XII IPS 1), Michael Wijaya Sutrisna (XII IPS 3) Sebagai Juara 1 dalam rangka Accounting Smart Competition di Universitas Duta Wacana Yogyakarta, Jumat, 25 Oktober 2019.

4. Caption Foto : Selamat kepada Nathanael Juan Gautama (XI IPA 5) berhasil meraih Juara 1 Lomba Pidato Bahasa dan Sastra bertajuk “Harmonisasi Bahasa dan Sastra Indonesia di Era Revolusi 4.0” dalam rangka Dies Natalis Universitas Sanata Dharma Se-Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat, 25 Oktober 2019.

ATAMBUA, SERVIAMNEWS.com– Kampus Santa Angela Atambua dipercaya menjadi contoh Sekolah Ramah anak. Acara ditandai dengan Pencanangan dan Deklarasi Sekolah Ramah Anak bertajuk “Bersama Kita Wujudkan Sekolah Ramah Anak Menuju Belu Sejahtera,” Rabu, 23 Oktober 2019. Acara dihadiri langsung oleh Bupati Belu Bapak Willybrodus Lay, Perwakilan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia, Kepala Dinas PPPA Kabupaten Belu, DPRD Kabupaten Belu, TNI, Kepala Sekolah dan Guru-Guru Se- Kabupaten Belu.

Pencanangan dan Deklarasi Sekolah Ramah Anak ini ditandai dengan penandatangan Surat Keputusan (SK) Bupati Belu tentang Sekolah Ramah Anak oleh Bupati Belu, Kementerian PPPA, Kepala Dinas PPPA Kabupaten Belu, TNI dan Perwakilan Kepala Sekolah dan Guru-guru Kabupaten Belu. Diharapkan Kampus Santa Angela, Atambua menjadi contoh baik sebuah Sekolah yang ramah terhadap anak dari berbagai aspek.

Serviam

JAKARTA, SERVIAMNEWS.com– Keluarga besar KB-TK, SD, SMP, SMA Santa Ursula Jakarta merayakan pesta nama pelindung kampus. Para siswa, guru, karyawan menyatakan syukur bersama dalam Misa meriah yang dipimpin oleh Romo Albertus Nugroho SJ atau yang akrab disapa Romo Nugie di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Senin, 21/10. Pada Misa bertajuk “Achievement Motivation” ini unit SD Santa Ursula didapuk menjadi panitia acara.

Dalam homilinya, Romo Nugie menanyakan kepada para siswa-siswi yang hadir seberapa besar talenta yang kita miliki? Pada dasarnya, setiap orang memilik talenta, hanya saja talenta itu dapat dikembangkan atau tidak dikembangkan. Jika talenta dikembangkan maka apa yang kita cita-citakan dapat tercapai. Tetapi sebaliknya, jika talenta tidak dikembangkan maka kita akan menjadi pribadi yang malas.

“Jika kita memiliki talenta tetapi disimpan saja, kita akan menjadi orang malas dan tumbuh menjadi pribadi yang tidak berkembang. Hal ini tidak sesuai dengan sikap dan semangat Santa Angela Merici yang selalu mengedepankan talenta yang ia miliki. Contoh talenta yang dimiliki Santa Angela Merici yaitu ia seorang pemikir bijak dan penengah yang baik,” kata Romo Nugie.

Jadi mari, lanjut Romo Nugie, jangan takut untuk berprestasi. Sebagai pengikuti Santa Ursula jangan hidup terkotak-kotak. “Semoga dalam kesempatan kali ini, kita dapat mengembangkan talenta yang yang kita miliki. Seperti adik –adik Santa Ursula yang ikut menjadi panitia acara dalam perayaan, ini merupakann salah satu contoh dalam mengembangkan talenta,” imbuh Romo Nugie.  

Daya Juang Tinggi

Sementara itu, Ketua III Yayasan Satya Bhakti, Sr Edith Watu OSU dalam sambutannya mengucapkan selamat pesta pelindung sekolah kepada seluruh warga Kampus Santa Ursula Jakarta. Tema perayaan “Achievement Motivation” merupakan salah satu nilai pendidikan yang harus kita hidupi. Sejatinya, nilai tersebut harus kita hidupi untuk seluruh Sekolah Ursulin Indonesia khususnya Kampus Santa Ursula Jakarta.

Dewasa ini, lanjut Sr Edith, kita berhadapan dengan budaya instan. Sebuah budaya siap pakai dan tanpa kerja keras. Begitu marak pembelian makanan atau barang secara online. Orang tidak lagi menanyakan bagaimana proses pembuatannya.  “Orang berpikir mengapa harus susah jika semua sudah tersedia, disinilah kita perlu motivasi untuk mewujudnyatakan cita-cita. Dan itu tidak dapat terjadi dalam satu hari, tetapi perlu perjuangan dan ketekunan,” kata Sr. Edith.

Sama halnya dalam menempuh pendidikan, dari tingkat KB/TK sampai SMA butuh 15 tahun dalam menyelesaikannya.  Dibutuhkan proses dan daya juang tinggi untuk meraih cita-cita. “Santa Ursula juga memiliki achievement yaitu kesetiaan pada imannya yang diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Santa Ursula adalah teladan hidup yang memiliki daya juang tinggi. Mari semua komunitas untuk selalu tekun dan setia menghidupi semangat Santa Ursula dalam menggapai cita-cita yang diimpikan,” ajak Sr Edith.

Usai Misa, para guru dan karyawan menghadiri acara kekeluargaan bersama yaitu Pesta Rakyat “De Sanur Van Jekardah” di Aula SMP Santa Ursula. Acara diisi dengan penampilan dari masing-masing unit. Dan pemberian penghargaan kepada karyawan dengan masa bakti kerja 30 tahun, 25 tahun, 15 tahun, 10 tahun, dan 5 tahun. Perayaan diakhiri dengan makan siang bersama.

Aprianita Ganadi

Kampus Santa Ursula Jakarta : www.santaursulajakarta.sch.id    

Serviam

SURAKARTA, SERVIAMNEWS.com–  SMA Regina Pacis, Surakarta, Jawa Tengah mengadakan kegiatan Edu Fair 2019 ke -21 bertajuk “To Be a Leader in Global Community” , Jumat-Sabtu, 11-12/10. Kegiatan Edu Fair yang merupakan program tahunan SMA Regina Pacis ini diikuti oleh 56 peserta yang terdiri dari perguruan tinggi maupun lembaga pendidikan.  Diantaranya adalah Unika Soegijapranata Semarang, Universitas Sanata Dharma, Universitas Prasetya Mulia Jakarta, University of Sidney, Binus University Jakarta, Unika Atmajaya Jakarta, Universitas Kristen Petra Surabaya, dan lain-lain.

Adapun tujuan kegiatan ini adalah pertama, menyediakan informasi tentang lembaga atau perguruan tinggi kepada siswa dan masyarakat secara langsung dari narasumber secara lengkap, akurat dan efektif. Kedua, mengembangkan dan mempererat kerjasama antara SMA Regina Pacis dengan lembaga perguruan tinggi. Ketiga, untuk menumbuhkan kesadaran kepada siswa sebagai generasi muda tentang perlunya mempersiapkan diri ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Keempat, sebagai wujud perhatian dan partisipasi SMA Regina Pacis untuk membina dan menumbuhkembangkan generasi muda. 

Melalui kegiatan ini pihak sekolah berharap agar siswa dapat menentukan pilihan dalam membuat keputusan tentang jurusan dan perguruan tinggi yang diminati. Sehingga, nantinya mereka dapat memiliki masa depan cerah serta menjadi pemimpin dimanapun berada termasuk dalam komunitas global.

Acara pembukaan dimulai pukul 08.00 WIB yang dihadiri oleh pengawas satuan pendidikan Ibu Dra. Tri Silawati, M.Si, Kepala SMA, SMK dan SMP undangan,  Pengurus Yayasan Winayabhakti, Suster-suster Ursulin, Bapak- Ibu pewakilan stand, Bapak-Ibu guru SMA Regina Pacis serta para siswa. Secara resmi, Edu Fair 2019 dibuka dengan pemukulan gong 3 kali oleh pengawas Satuan Pendidikan. Selama acara pembukaan juga ditampilkan beberapa lagu dari kelompok band SMA, monolog oleh siswa dan 2 buah lagu persembahan dari Resischo.

Selesai acara pembukaan dilanjutkan dengan kunjungan ke stand perguruan tinggi. Tahun ini, tamu yang berkunjung ke stand perguruan tinggi cukup banyak baik para siswa maupun orang tua siswa. Mereka menanyakan informasi perguruan tinggi yang mereka minati. Selain kegiatan Edu Fair, di SMA Regina Pacis juga diadakan kegiatan antara lain: kelas inspirasi untuk siswa kelas X, yang melibatkan beberapa alumni dan pengenalan studi lanjut bagi siswa kelas XI yang diisi oleh 8 perguruan tinggi serta pameran karya siswa mata pelajaran Pendidikan Prakarya dan kewirausahaan (PKWU) seperti payung hias, dan lain-lain.

R. Margana

Kampus Regina Pacis Solo : http://smareginapacis-solo.sch.id/

Serviam

PACET, SERVIAMNEWS.com– Para Suster Ursulin, bapak, dan ibu guru Kepala /Wakil Satuan Pendidikan dari Kampus Ursulin Regio Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Flores mengikuti School Leadership Essential Course (SLEC) Tahap IV di Panti Samadi Bintang Kejora, Pacet, Jawa Timur, Selasa-Jumat, 8-11/10.  Pelatihan yang menggandeng International Test Center (ITC) ini merupakan rangkaian lanjutan dari kegiatan SLEC Tahap III yang telah dilaksanakan sebelumnya pada tahun awal tahun 2019.

Pelatihan membahas dua topik utama yaitu Critical Thinking dan Coaching. Materi Critical Thinking dibawakan oleh narasumber dari ITC yakni Mr. Damon Anderson. Sedangkan materi coaching dibawakan oleh Anggota Badan Akreditasi Nasional yaitu Ibu Itje Chodidjah. Selama pelatihan juga hadir pihak dari ITC yaitu Jenny Lee, Victor Chan, dan Tonny Arbianto.

Acara dibuka resmi oleh Ketua I Pusat Yayasan Pendidikan Ursulin (PYPU), Sr Ferdinanda Ngao, OSU yang ditandai dengan pemukulan gong. Dalam sambutannya, Sr Ferdinanda mengungkapkan bahwa critical thinking dan coaching merupakan modal utama dalam menjalankan kepemimpinan di sekolah. “Sekarang kita berada dalam abad 21, gaya kepemimpinan juga harus berbeda. Selama 3 hari, peserta akan dibantu terutama dari segi profesionalitas kita di bidang pendidikan,” kata Sr Ferdin.

Kemampuan berpikir kritis atau critical thinking, lanjut Sr Ferdin, sangat dibutuhkan untuk mengambil kesimpulan dan membuat keputusan. Sedangkan, coaching, sangat dibutuhkan untuk memecahkan masalah dan mengelola orang-orang yang kita pimpin. “Peran critical thinking dan coaching sangat penting. Semoga ke depannya lahir pemimpin -pemimpin yang memiliki hati, karakter, konsisten, dan kompeten,” imbuh Sr. Ferdin.

Sementara itu, selama 3 hari, Ibu Jenny akan memandu jalannya pelatihan. Dalam SLEC IV kali ini peserta dibekali mengenai profesional development. “Keutamaan dari seorang pemimpin ada dalam diri kita masing-masing. Harapannya pada 2020 Sekolah Ursulin dapat berproses menjadi sekolah yang tumbuh dan berkembang. Dan pada 2025 dapat menjadi Ursulin Training Center,” kata Ibu Jenny.

Coaching, lanjut Ibu Jenny, adalah sebuah proses yang harus kita pelajari. Cara bagaimana mengampu seseorang harus ada tahapannya. “Peserta semua disini guru, pada tahap awal kita semua pasti bisa teaching, lalu nanti kita harus naik ke level berikut. Sedangkan, Critical thinking akhirnya bukan membuat kita menjadi sinis, tetapi berakhir pada kedamaian. Ada rasa yang menyenangkan di hati,” ungkap Ibu Jenny.

Selama pelatihan, para peserta dibagi ke dalam kelompok. Mereka mengerjakan beberapa tugas. Dalam sesi coaching, peserta melakukan praktek bersama 3 orang masing-masing berperan sebagai coach, coochie, dan observer untuk membicarakan satu kasus atau kejadian. Di akhir acara, beberapa suster dan peserta mengungkapkan refleksi singkat pribadinya. Acara lalu ditutup dengan pembagian sertifikat.

Aprianita Ganadi

Serviam

ATAMBUA, SERVIAMNEWS.com– Dalam rangka membangun kedekatan antara anak dan orang tua, siswa-siswi TK Santa Angela bekerjasama dengan Faber-Castell mengadakan lomba mewarnai di TK Santa Angela, Atambua, Sabtu, 12/10. Seluruh siswa-siswi mengajak para orang tua untuk berpartisipasi bersama dalam kegiatan lomba mewarnai ini. Terlihat anak-anak sangat senang mengikuti lomba mewarnai. Para orang tua pun antusias menemani dan memandu anak dalam lomba. Kedekatan anak dan orang tua adalah fondasi penting bagi tumbuh kembang anak, juga berguna dalam pembentukan karakter serta berpengaruh bagi kecerdasan anak.

Serviam

TANGERANG, SERVIAMNEWS.com– Banyak orang mengatakan bahwa proses pembelajaran akan semakin lengkap bila tidak hanya dilakukan di dalam kelas saja. Peserta didik dan guru harus pula merasakan dan mengalami kegiatan belajar di luar kelas dengan harapan bahwa akan ada semakin banyak hal yang bisa ditemukan dipelajari. Ada banyak kegiatan yang bisa memfasilitasi hal ini, mulai dari kemah, outbound, dan lain sebagainya. Setiap sekolah memiliki gaya dan konsep masing-masing, tetapi tujuan mereka tetaplah sama: membentuk pribadi-pribadi berkarakter dalam diri setiap peserta didik. Salah satu kegiatan yang dipilih oleh SMA Santa Ursula BSD adalah live in.

Konsep kegiatan live in SMA Santa Ursula BSD sangat  khas. Di dalam kegiatan ini, kami, peserta didik kelas 12, diajak untuk tinggal bersama dan mengalami perjumpaan dengan warga di dusun yang kami tinggali. Kami harus bisa meninggalkan kebiasaan kami di rumah dan menyesuaikan diri dengan kebiasaan masyarakat di Boro. Kami diajak untuk memberikan diri kami seutuhnya dan mengikuti seluruh kegiatan yang dilakukan oleh anggota keluarga di rumah. Dengan hati yang terbuka, kami dituntut untuk bisa mendekatkan diri dengan keluarga baru kami dan menemukan hal-hal berkesan dan berharga.

Pada tahun ini, kegiatan live in kami laksanakan di daerah Boro, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan dimulai dengan keberangkatan kami pada tanggal 24 Agustus dan selesai waktu kepulangan kami pada tanggal 29 Agustus 2019. Kegiatan live in kami kemudian ditutup dengan refleksi dan merencanakan tindak lanjut sebagai ungkapan syukur dan terima kasih karena kami telah diterima oleh warga desa setempat dengan sangat luar biasa.

Ada 4 dusun yang dijadikan tempat tinggal kami, yaitu Nyemani, Madigondo, Balong, dan Tetes. Di sana, masing-masing dari kami tinggal berpasangan dengan teman dari sekolah dan juga keluarga pemilik rumah. Rata-rata, penghuni desa-desa itu sudah berusia lanjut, tetapi ada pula yang masih memiliki anak yang tinggal di rumah itu. Hampir semua orang di daerah itu berprofesi utama sebagai petani. Ada juga yang bekerja sebagai guru, pedagang atau pemilik warung, peternak, dan lainnya. Di rumah saya, Pak Bandi, Ibu Marjinem, dan Pak Mardi bekerja sebagai petani. Mereka memiliki kebun dengan berbagai tanaman, yaitu cengkeh, kapulaga, salak, kelapa, pisang, vanili, dan kemukus. Mereka juga memiliki beberapa hewan ternak seperti ayam dan kambing. Hidup keluarga ini sangat bergantung pada hasil penjualan panenan tanaman-tanaman tersebut, sama seperti banyak keluarga lainnya di daerah Boro.

Setiap hari, kami melakukan aktivitas yang dilakukan oleh anggota keluarga di rumah kami. Saya bersama teman serumah ikut Ibu ke hutan dan memanggul pulang kayu serta blarak dengan kain yang dipinjamkan Ibu. Kami turut menemani Bapak dan Ibu menjemur cengkeh di pagi hari dan mengumpulkannya kembali ketika hari sudah sore. Tak lupa, kami pun sering berkeliling ke lingkungan sekitar dan bertemu dengan warga lainnya. Di rumah dengan tungku sederhana, seperangkat alat masak, dan berbagai macam bahan makanan, kami membantu Ibu menyajikan hidangan yang akan disantap hari itu. Di samping itu, setiap hari kami juga melakukan kegiatan refleksi bersama teman-teman dari sekolah yang tinggal di desa yang sama. Kami diajak untuk menceritakan pengalaman dan pelajaran berharga yang kami dapatkan dari pengalaman tersebut.

Di dalam proses kegiatan ini, kami bisa menangkap dan merasakan banyak hal terkait dengan kekhawatiran masyarakat di sekitar kami. Ada yang agak lelah menanti musim hujan yang tak kunjung datang. Ujung-ujungnya, tanaman yang telah dirawat tidak bisa memberikan hasil panen yang baik. Ada pula yang pernah menjadi korban pencurian cengkeh yang telah dijemur. Lain lagi, ada keluarga yang selalu mengharapkan pulangnya putra-putri yang tengah merantau supaya rasa kesepian itu cepat menghilang.

Namun, di balik itu semua, hadir pula tawa dan kebahagiaan sebagai penyeimbang. Ada ucapan syukur yang dipanjatkan ketika hujan turun. Ada tawa yang dibagikan dalam setiap perjumpaan di berbagai sudut dusun. Ada bincang hangat yang turut hadir bersama datangnya sanak saudara-dan anggota keluarga baru-seperti saya dan teman-teman. Bersama mereka, saya bisa melihat bahwa kehadiran masyarakat yang selalu memberikan dukungan dan penguatan memiliki peran yang sangat penting bagi setiap pribadi di sini. Itulah yang membuat mereka selalu bertahan meski tengah menghadapi masalah.

“Saya bisa menemukan nilai daya juang dari kegiatan ini. Meski warga di sana memiliki kekurangan dari segi ekonomi dan akses terhadap hal-hal tertentu, mereka tetap menjalani aktivitasnya dengan semangat dan tak pernah sedikit pun mengeluh. Selain itu, saya merasakan kebersamaan antarwarga desa yang tak pernah dirasakan di kota. Hal ini tercermin dari keakraban warga yang terlihat dalam setiap kesempatan yang ada,” papar Bonaventura Pawitra (XII-MIPA2) terkait pengalaman yang diperoleh dari kegiatan live in. Selain Witra, Jessica Devy (XII-IPS2) memaparkan bahwa perjumpaan dengan keluarga Bapak Sukarman merupakan pengalaman penting baginya. Pelajaran tentang ketulusan, selalu bersyukur, dan kesederhanaan ia dapatkan di tengah-tengah keluarga itu. Ia merasa seperti terisolasi karena jauh dari hiruk pikuk kota, tidak ada gawai, jauh dari keluarga asli, dan tidak boleh mengunjungi teman. Namun, ia tak menyangka bahwa ternyata semua itu sangat membantunya dalam mengolah hidup dengan lebih baik. Selain kedua teman saya ini, tentu seluruh peserta live in memiliki cerita masing-masing dan dari cerita itu kami belajar berbagai macam hal yang tentu sangat membekas dan berguna bagi kami ke depannya.

Tanah Boro telah dan akan terus melahirkan sosok-sosok hebat yang daripadanya kami belajar banyak hal. Saya sendiri semakin memahami arti kerja keras yang wujudnya akan selalu berbeda bagi setiap orang dan bahwa semuanya harus diapresiasi sebagai penghormatan atas hidup manusia. Rasa syukur atas segala yang dimiliki semakin  saya pahami sebagai syarat mutlak untuk hidup bahagia, sesederhana apa pun hidup itu sendiri. Di atas semua itu, hal terbesar (namun sederhana) yang saya dapatkan adalah menemukan kembali makna keluarga. Keluarga adalah rumah bagi setiap orang yang datang padanya, yang mampu menghadirkan kehangatan dan menjadi tempat berlindung. Keluarga bukan (hanya) tentang ikatan darah, melainkan tentang relasi dan bersatunya jiwa yang menghuni raga orang-orang di dalamnya.

Pada akhirnya, perjalanan ini adalah tentang nilai-nilai baik, butir-butir penting atas semua peristiwa yang terjadi dan kami alami, dan kami semua telah menemukannya. Matur nuwun sanget, Boro!

Sabina Prajnamalini Pusposari Sumarno

XII-IPB/10

Kampus Santa Ursula BSD : https://www.sanurbsd-tng.sch.id/

Serviam