SOLO, SERVIAMNEWS.com – Perwakilan dari Wenzao Ursuline University of Languages, Taiwan berkunjung ke SMA Regina Pacis Surakarta, pada Senin, 12 Agustus 2024. Kunjungan ini menjadi momen istimewa, mengingat kedua institusi merupakan bagian dari komunitas pendidikan Ursulin yang sama. Acara yang berlangsung di Auditorium lantai 2 Kampus Ursulin Regina Pacis Surakarta ini dihadiri oleh 129 siswa-siswi kelas X, XI, dan XII yang berminat untuk melanjutkan study ke Wenzao Ursuline University.



Dalam kunjungan ini pihak Wenzao berkesempatan untuk memperkenalkan program-program unggulan dan kehidupan perkuliahan yang disampaikan oleh Dr. IJane Weng, Arlyn Hielman seorang mahasiswi tahun ketiga, dan ditemani Suster Cecilia Tsaishu Wang, OSU.
Acara dimulai dengan sambutan hangat dari Kepala Sekolah SMA Regina Pacis Surakarta Ibu MM. Wahyu Utami, M.Pd beliau mengapresiasi kunjungan dari Wenzao Ursuline University yang diharapkan dapat memberikan wawasan baru kepada para siswa mengenai peluang pendidikan tinggi di luar negeri. Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh tim Wenzao Ursuline University.



Wenzao Ursuline University terletak di Kota Kaohsiung 高雄, Taiwan, sebuah kota yang dikenal dengan kehidupan perkotaan yang dinamis dan keindahan alamnya. Universitas ini berdiri kokoh sebagai salah satu institusi pendidikan ternama di Taiwan, terutama dalam bidang bahasa dan kebudayaan. Dr. IJane Weng memperkenalkan berbagai program studi unggulan yang ditawarkan, fasilitas kampus yang modern, serta berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung pengembangan diri mahasiswa. Selain itu, beliau juga memaparkan informasi mengenai biaya perkuliahan dan berbagai opsi beasiswa yang dapat diakses oleh para siswa, termasuk beasiswa penuh dan parsial.
Sesi yang paling dinantikan adalah sharing pengalaman dari Arlyn Hielman, seorang mahasiswi tahun ketiga di Wenzao Ursuline University. Arlyn berbagi cerita mengenai kehidupan kampusnya, tantangan yang dihadapi, serta manfaat yang ia dapatkan dari berkuliah di Universitas tersebut. Pengalamannya memberikan gambaran nyata kepada para siswa mengenai kehidupan sebagai mahasiswa di luar negeri, serta bagaimana nilai-nilai Ursulin terus membimbingnya dalam meraih prestasi.



Antusiasme siswa semakin terasa saat sesi tanya jawab (Q&A) dimulai. Para siswa dengan penuh semangat mengajukan berbagai pertanyaan terkait kehidupan kampus di Wenzao Ursuline University. Tim dari Wenzao Ursuline University dengan senang hati menjawab setiap pertanyaan, memberikan penjelasan yang mendetail dan inspiratif. Sesi ini tidak hanya menambah pengetahuan siswa, tetapi juga memotivasi mereka untuk mengejar peluang pendidikan di luar negeri.
Salah satu aspek yang sangat menarik bagi siswa SMA Regina Pacis Surakarta adalah peluang beasiswa yang ditawarkan oleh Wenzao Ursuline University. Universitas ini menyediakan berbagai jenis beasiswa, termasuk beasiswa penuh, beasiswa setengah, dan program magang berbayar. Beasiswa ini tersedia dengan syarat dan ketentuan tertentu, memberikan kesempatan bagi siswa yang berprestasi untuk melanjutkan studi mereka di Taiwan dengan dukungan finansial yang signifikan.


Bagi siswa-siswi yang tertarik untuk melanjutkan pendidikan mereka di Wenzao Ursuline University, mereka didorong untuk mengunjungi situs resmi universitas di https://cic.wzu.edu.cn/. Selain itu, siswa juga dapat berkonsultasi dengan guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah untuk mendapatkan bimbingan lebih lanjut. Kunjungan ini tidak hanya memberikan wawasan baru bagi para siswa mengenai peluang pendidikan di luar negeri, tetapi juga menginspirasi mereka untuk mengejar mimpi di ranah internasional. SMA Regina Pacis Surakarta berharap kerjasama ini akan terus berlanjut, membuka lebih banyak peluang bagi siswa untuk meraih prestasi di kancah global.
S. Dewi Fajar Utami (Guru SMA Regina Pacis Surakarta)
Kampus Ursulin Regina Pacis Solo: smp-reginapacis-slo.sch.id/ dan smareginapacis-solo.sch.id/
Kampus Ursulin Maria Assumpta Klaten: mariaassumpta.sch.id/
Oleh: Sr. Magdalena Lian, OSU
Pada tanggal 25 November 1535, di Brecia, Italia Utara, Angela Merici membentuk sebuah kompani (persekutuan) yang beranggotakan 28 orang wanita. Kompani ini diberi nama Kompani Santa Ursula. Ini berarti bahwa Santa Ursula dijadikan sebagai pelindung agar mereka mampu meneladani dia yang sampai rela mati demi mempertahankan kemurniannya. Angela dan anggota kompani lainnya berikrar hidup demi Tuhan dan sesama dengan cara hidup murni, tidak menikah. Mereka hidup di rumah masing-masing dan tetap berkegiatan seperti biasanya. Di waktu tertentu, mereka berkumpul untuk berdoa atau melakukan karya sosial bersama.
Sebelum meninggal, Angela sempat mendiktekan Regula, Nasehat, dan Warisan sebagai pegangan bagi anggota kompaninya. Dalam Regula, Santa Angela berbicara kepada semua anggota Kompani Santa Ursula dan menunjukkan jalan yang harus ditempuh sebagai anggota kompani. Dalam Nasehat, Santa Angela menyapa para pemimpin lokal yang membantu pembentukan para anggota kompani. Naskah ini merupakan suatu kumpulan nasehat untuk membantu para pemimpin dalam membimbing saudari-saudari muda mereka tentang hidup rohani. Sedangkan Warisan dimaksudkan untuk para ibu pembesar (matron), janda terhormat dari Brescia yang menjadi wakil dan penanggung jawab Kompani.
Tulisan tersebut ditulis sebelum Angela meninggal, 27 Januari 1540 maka berarti sudah berusia sekitar 481 tahun. Untuk tulisan yang sudah setua tersebut maka bisa muncul pertanyaan, “Apakah tulisan tersebut masih bisa dijadikan sebagai pegangan untuk jaman ini atau masih tepatkah untuk diikuti?” Semua pesan tersebut didiktekan oleh Angela kepada Gabriel Cozzano sehingga tulisannya lebih seperti bahasa lisan, Tulisan tersebut tentu dipengaruhi oleh budaya setempat dan kondisi jaman pada saat itu.
Jika mempelajari sejarah maka kita dapat melihat bahwa di jaman Angela dan jaman sekarang, ada beberapa kesamaan yang signifikan. Angela hidup dari tahun 1470 sampai tahun 1540. Pada masa itu, Italia terus dilanda perang. Selain itu juga ada pertikaian antara propinsi-propinsi dan kota-kota. Pertentangan antara majikan buruh di dalam kota di mana industri berkembang, antara tuan tanah dan penggarap di pedesaan. Kondisi semakin diperburuk dengan adanya wabah yang menyebabkan banyak orang meninggal termasuk saudari dan kedua orang tua Angela yang menyebabkannya menjadi yatim piatu.
Akibatnya Angela harus pindah ke Salo untuk ikut pamannya dari pihak ibu yang bernama Biancoso. Kehidupan Gereja pun sangat menyedihkan. Politik dan uang menjadi godaan yang besar dalam Gereja. Akibatnya banyak orang bersikap skeptis terhadap Gereja walaupun penghayatan agama golongan bawah banyak yang berbau magis dan percaya tahayul, ditambah lagi kehidupan moral masyarakat yang bobrok. Namun di tengah-tengah kebobrokan tersebut, tumbuh juga kerinduan akan iman yang murni dan yang didasarkan pada Injil sehingga pada masa itu, muncullah tokoh-tokoh pembaharuan iman, termasuk Angela Merici salah satunya.
Dari penelusuran sejarah di jaman Angela di atas, maka kita dapat melihat bahwa kondisi jaman saat ini pun tidak jauh berbeda dengan jaman Angela dahulu. Kesenjangan antara yang kaya dan miskin semakin tampak. Negara-negara saling bersaing dalam memperebutkan kekuasaan khususnya dalam bidang ekonomi. Monopoli dalam berbagai aspek dikuasai oleh mereka yang kuat baik secara politik maupun ekonomi. Kemajuan teknologi membuat manusia semakin skeptis dengan agama ditambah lagi semakin sedikitnya manusia yang dapat dijadikan panutan. Namun di lain pihak, semakin berkembangnya jaman, semakin manusia merasakan kekosongan sehingga pada abad ini, semakin banyak manusia berusaha untuk mencari kebahagiaan yang hakiki dengan masuk dalam dirinya sendiri.
Sebagai makhluk pembelajar (homo sapiens), manusia terus ingin mengenal jati dirinya yang sejati sehingga banyak melakukan penelusuran termasuk ke abad sebelumnya. Manusia yang haus akan kebenaran mulai mencari referensi dari tokoh-tokoh terdahulu untuk melihat bagaimana mereka bisa melewati jamannya dengan mengalami pembebasan. Oleh karenanya, ada banyak harta karun yang tersembunyi yang dapat kita pelajari dari tokoh-tokoh inspiratif jaman terdahulu. Kali ini, tokoh yang akan saya angkat adalah Angela Merici yang dinobatkan menjadi Santa, sebuah pengakuan dari Gereja Katolik yang menandakan bahwa pribadi ini adalah orang yang telah terbukti menjalani hidup yang suci, sehingga kisah hidupnya bisa dijadikan contoh untuk generasi selanjutnya.
Berikut ini, saya mengambil masing-masing satu contoh dari Nasehat, Regula, dan Warisan untuk memperlihatkan bahwa pesan Angela masih mudah dipahami dan bisa dilaksanakan di jaman ini untuk berbagai usia, kalangan, dan kondisi.
“Akhirnya, kami mendorong anda semua untuk menghayati kemiskinan, tidak hanya sebagai penolakan harta duniawi, tetapi terutama untuk menjalankan semangat kemiskinan yang sejati, dengan demikian manusia membebaskan hatinya dari semua kelekatan dan keinginan akan harta yang fana dan duniawi dan dari dirinya sendiri” (R 10, 1-5). Pengikut Kompani menginkrarkan kaul kemiskinan dan tulisan di atas menunjukkan makna penghayatan kemiskinan yang hakiki. Masalah pokok bukan pada memiliki atau tidak memiliki harta namun lebih pada sikap lepas bebas dari apapun yang kita miliki.
Pada jaman ini, penghayatan kemiskinan seperti ini sangat diperlukan sebab manusia modern semakin banyak yang menjadi hedonis. Harta menjadi tolok ukur keberhasilan dan harga diri seseorang. Manusia bisa melakukan apapun untuk bisa menjadi kaya atau mendapatkan materi yang diinginkan dengan menyesampingkan moral dan norma. Kelekatan secara jelas dikatakan oleh Angela bahwa bukan hanya soal materi namun manusia bisa lekat dengan apapun, termasuk pada idenya, egonya, atau pada manusia, dsb. Akhirnya menjadi lepas bebas merupakan salah satu sarana bagi kita sebagai manusia modern untuk merasa bahagia dan merdeka.
2. Nasehat
“Maka berusahalah memimpin dan mendorong mereka dengan contoh anda sendiri sehingga mereka hidup baik” (N 6,6). Di jaman Angela, belum ada teori leadership namun kebijaksanaannya yang diterangi oleh Roh Kudus memampukannya mengetahui apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin yang baik. Di Indonesia sendiri, makna tersebut baru diperkenalkan di tahun 1922 oleh bapak pendidikan kita yaitu Ki Hajar Dewantara. John Maxwell sebagai pembicara internasional yang mengkhususkan diri pada tema kepemimpinan mengatakan bahwa seseorang perlu meninggalkan legacy. Hukum Warisan (The Law of Legacy) mengajarkan bahwa pemimpin hebat diukur dari apa yang ditinggalkannya setelah ia tiada. Nasehat Angela di atas bisa dijadikan sebagai contoh bahwa nasehat yang sudah berusia sangat tua ternyata masih berlaku sampai saat ini dan dipraktekkan secara umum. Pesan jadul yang masih up to date dan berlaku secara universal
3. Warisan
“Saya mohon kepada anda, usahakanlah membimbing mereka dengan kasih sayang dan kehalusan serta kebaikan, jangan menguasai dengan angkuh atau pun memperlakukan mereka secara kasar, tetapi dalam segalanya, usahakanlah selalu bersikap lembut” (W 3,1). Pesan ini sangat lazim digunakan oleh para pendidik Ursulin sampai saat ini dalam membimbing para peserta didik yang dipercayakan kepada mereka. Namun demikian, pesan ini juga tepat untuk para orang tua dalam membimbing anak mereka. Kita ketahui bahwa semakin banyak orang tua yang melakukan kekerasan terhadap anak mereka. Anak bisa tumbuh menjadi baik jika mereka merasa dikasihi, diterima, dan merasa aman. Mereka bisa merasakan hal tersebut jika diperlakukan dengan kelembutan dan pengertian. Ilmu psikologis banyak membahas tentang hal tersebut sampai saat ini.
Masih terlalu banyak contoh yang bisa diangkat baik dari Regula, Nasehat, maupun Warisan Angela Merici yang bisa memperlihatkan bahwa tulisan hampir mendekati 5 abad yang lalu masih bisa diterapkan dewasa ini dalam berbagai aspek hidup manusia, baik manusia sebagai pribadi, makhluk sosial, makhluk spiritual, maupun dalam peran lainnya. Semoga inspirasi dari tulisan Santa Angela Merici dapat membantu kita menjalani tahun 2021 dengan semakin merasa dikasihi oleh Tuhan dan semakin rindu mengenal Dia.
Saya akhiri dengan mengutip Nasehat Terakhir dari Santa Angela: “Kata-kata terakhir yang kusampaikan kepadamu dan kuanjurkan dengan segenap jiwaku ialah: Hendaknya kamu hidup dalam keserasian, bersatu, sehati dan sekehendak, terikat satu sama lain dengan cinta kasih, saling menghargai, saling membantu, saling bersabar dalam Yesus Kristus. Lihatlah betapa pentingnya persatuan dan keserasian maka dambakanlah, carilah, peluklah, pertahankanlah hal itu sekuat tenaga” (Nas. Ter, 1-2.10-14).
Soli Deo Gloria,
Pesta Santa Angela Merici
27 Januari 2021
SUKABUMI, SERVIAMNEWS.com– TB-TK Sukapirena terus menerus memperluas wawasan dan meningkatkan kompetensi pedagogi melalui berbagai webinar dan pelatihan. Menindaklanjuti himbauan dari Pusat Yayasan Pendidikan Ursulin (PYPU) untuk satuan pendidikan TB-TK, pada Kamis- Sabtu, 3 – 5 Desember 2020 TB-TK Sukapirena merealisasikan pemahaman materi webinar yang diikuti pada bulan September 2020 tentang pembelajaran sentra.
Model pembelajaran sentra merupakan pendekatan pembelajaran yang dalam prosesnya dilakukan dalam “lingkaran” (circle time) dan sentra bermain. Lingkaran adalah saat pendidik duduk melingkar bersama peserta didik untuk memberikan pijakan yang dilakukan peserta didik sebelum dan sesudah bermain. Sentra bermain adalah arena bermain yang dilengkapi dengan seperangkat alat bermain yang berfungsi sebagai pijakan untuk mengembangkan seluruh potensi dasar peserta didik dalam berbagai aspek perkembangan secara seimbang. Arena sentra ditentukan oleh satuan pendidikan sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki setiap satuan pendidikan.


Pendekatan pembelajaran sentra sangat cocok dengan value preposition (VP) Kampus Yuwati Bhakti Sukabumi, yaitu pemimpin masa depan berpola pikir sains. Dalam pengantarnya, Ketua III Kampus Yuwati Bhakti Sukabumi, Sr. Elisabeth Sri Utami, OSU mengajak para pendidik untuk sungguh-sungguh hadir dengan sukacita dan hati yang terbuka agar kesempatan ini dipakai untuk menggali lebih dalam mengenai pembelajaran sentra dan mempraktikkan tahap demi tahap supaya dapat segera diterapkan dalam proses pembelajaran di TB-TK Sukapirena.
Selama tiga hari didampingi oleh Sr. Erna Verenanda Gai, OSU, pendidik TB-TK Sukapirena mencermati proses pembelajaran sentra, mempersiapkan arena sentra dan perlengkapan yang akan digunakan di TB-TK Sukapirena yaitu sentra serviam, sentra balok, sentra bahan alam, dan sentra persiapan. Di setiap sentra, peserta didik dapat mengembangkan 6 domain perkembangan anak usia dini (fisik, kognitif, bahasa, sosial, estetik, dan afeksi) serta berpikir sains, yaitu objektif, rasional, terbuka, dan berorientasi pada kebenaran.


Pendidik TB-TK Sukapirena sangat antusias dan optimis. Mereka berproses di arena yang telah dipersiapkan dan saling mengevaluasi untuk kebaikan bersama. Mereka sungguh-sungguh mempersiapkan diri dari segi pengetahuan, keterampilan, peralatan, dan arena sentra yang akan digunakan dalam proses pembelajaran sentra supaya ketika peserta didik sudah bisa belajar di sekolah, proses pembelajaran sentra dapat dilaksanakan. Pembelajaran sentra di TB-TK Sukapirena ini sebagai salah satu penunjang tercapainya visi misi dan VP kampus sehingga lulusan Yuwati Bhakti mampu bersaing di jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan bermanfaat bagi kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.
Agnes Tri Maryunani – Kampus Yuwati Bhakti Sukabumi
Kampus Yuwati Bhakti : http://kampusyuwatibhaktisukabumi.or.id/
Serviam
PACET, SERVIAMNEWS.com– Sebanyak 138 orang yang terdiri dari para Suster Ursulin, kepala sekolah dan guru-guru Sekolah Ursulin hadir mengikuti Musyawarah Nasional (Munas) Pendidikan Ursulin Indonesia 2020. Para peserta berasal dari 13 Yayasan Sekolah Ursulin seluruh Indonesia dan Timor Leste. Acara bertajuk “Servite et Amate” Dalam Dunia Pendidikan Abad ke-21” ini berlangsung di Rumah Retret Bintang Kejora, Pacet, Jawa Timur, Senin-Jumat, 10-14 Februari 2020.


Hadir sebagai narasumber Rektor Universitas Sanata Dharma, yaitu Johanes Eka Priyatma, MSc., PhD yang membawakan materi mengenai Pergulatan Pendidikan Katolik di Era Revolusi Industri 4.0. Narasumber lain yaitu Pendiri Education Training and Consulting Jakarta, Fidelis Waruwu yang membawakan materi mengenai Tantangan Pendidikan Karakter di Era Digital.


Munas Pendidikan Ursulin Indonesia merupakan agenda rutin yang diadakan setiap dua tahun sekali. Munas pertama diadakan tahun 2016 di Panti Samadi, Sangkal Putung, Klaten. Jawa Tengah. Munas kedua diadakan tahun 2018 di Lembang, Jawa Barat. Dan Munas ketiga berlangsung pada 2020 di Pacet dengan panitia inti dari Regio Jawa Tengah-Jawa Timur.


Dalam sambutannya, Ketua I Pusat Yayasan Pendidikan Ursulin, Sr. Ferdinanda Ngao, OSU menuturkan hal terpenting dari ketiga Munas ini adalah Core value Ursulin, yaitu Servite Et Amate. Dari kunjungan Sr Ferdinanda ke tiap-tiap kampus, sudah terlihat bahwa nilai Servite et Amate sudah mulai dipelihara dan dihidupi. Sejatinya, penting sekali sebuah organisasi khususnya bidang pendidikan yang penuh tantangan untuk harus memiliki jiwa, roh, dan api yang terus dihidupi.


Terutama, lanjut Sr Ferdin, dalam menghadapi era digital Sekolah Ursulin perlu beradaptasi dan berinovasi agar dapat menjawab kebutuhkan generasi digital secara tepat, tepat, dan bijaksana. “Dalam Munas ini, dibantu oleh beberapa narasumber untuk bersiap menghadapi tantangan tersebut dalam terang pendidikan Ursulin melalui cara adaptif dan inovatif agar bisa membawa generasi digital jadi cerdas dan terampil dengan berbasis nilai pendidikan Ursulin,” kata Sr. Ferdinanda.


Seiring dengan tuntutan era digital, Sr. Ferdinanda menjelaskan bahwa pendidikan Ursulin menghimbau beberapa hal yakni: Pertama, kita perlu “melek” IT dan Bahasa Inggris. Kedua, wajib merekrut tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang memiliki ketrampilan dasar IT dan Bahasa Inggris. Ketiga, merekrut tenaga IT untuk kampus masing-masing minimal 3 orang untuk programing, networking dan untuk technical support.


“Semua usaha tersebut tentunya harus disertai juga dengan memohon doa Bunda Angela sebagai sumber spritualitas pendidikan kita. Akhirnya, semoga kita mampu mendidik mereka menghayati nilai pokok Ursulin sebagai terang dalam era digital abad 21,” kata Sr. Ferdinanda.


Aprianita Ganadi


2. Caption Foto : Selamat kepada Angeline Wijaya (XI IPA 5), Carlo Evert Adjo (XI IPA 3), Natalia Devi (XI IPA 3) Sebagai Juara 1 Lomba Debat dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra Dies Natalis ke-56 Universitas Sanata Dharma Se-Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat, 25 Oktober 2019.

3. Caption Foto : Selamat kepada Karina Wijayanti (XII IPA 2), Evelyn Graciella Sugiono (XII IPS 1), Michael Wijaya Sutrisna (XII IPS 3) Sebagai Juara 1 dalam rangka Accounting Smart Competition di Universitas Duta Wacana Yogyakarta, Jumat, 25 Oktober 2019.

4. Caption Foto : Selamat kepada Nathanael Juan Gautama (XI IPA 5) berhasil meraih Juara 1 Lomba Pidato Bahasa dan Sastra bertajuk “Harmonisasi Bahasa dan Sastra Indonesia di Era Revolusi 4.0” dalam rangka Dies Natalis Universitas Sanata Dharma Se-Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat, 25 Oktober 2019.
CILEMBER, SERVIAMNEWS.com– Serviam Camp VI Regio DKI Jakarta-Banten dan Jawa Barat resmi dibuka oleh Ketua I Pusat Yayasan Pendidikan Ursulin (PYPU) Sr. Ferdinanda Ngao, OSU, di Citra Alam Riverside, Cilember, Jawa Barat, Rabu, 18/9. Acara bertajuk “Let’s Hold Hand and Jump Together” ini juga dihadiri oleh Ketua II Regio DKI Jakarta-Banten, Sr Ingrid Widhiningsih, OSU, Ketua II Regio Jawa Barat, Sr. Maria Theresia Sani, OSU, Ketua II Regio Jawa Timur dan Jawa Tengah, Sr.Hilda Sri Purwaningsih,OSU dan Ketua II Regio Flores, Sr. Regina Supraptiwi, OSU. Serviam Camp merupakan kegiatan rutin pertemuan siswa –siswi tingkat Sekolah Dasar yang diselenggarakan oleh Sekolah-Sekolah Ursulin.



Dalam acara yang diselenggarakan 18-20 September ini anak-anak akan berproses bersama. Mereka datang dari 8 sekolah Ursulin yang berada di Regio DKI Jakarta-Banten dan Jabar. Setiap sekolah mengirimkan 24 peserta masing-masing 12 orang putra dan 12 orang putri dengan 2 guru pendamping. Para peserta datang dari Kampus Santa Maria Jakarta, Kampus Santo Vincentius Jakara, Kampus Santa Ursula Jakarta, Kampus Santa Theresia Jakarta, Kampus Santa Ursula BSD, Kampus Santa Angela Bandung, Kampus Santa Ursula Bandung, dan Kampus Yuwati Bhakti Sukabumi.



Melompat Maju bersama
Tema Serviam Camp 2019 menggunakan gambar binatang katak karena sesuai filosofinya, katak selalu melompat bersama-sama. Begitu pula dengan anak-anak yang dengan riang mampu melompat maju ke depan bersama. Mereka diharapkan mampu berpikir positif untuk kemajuan diri sendiri dan dapat bekerjasama sesuai dengan semangat Serviam.



Menurut ketua panitia acara, Sr Theresia Ike Rachmadianawati, OSU, selama Serviam Camp ada 3 kegiatan utama. Kegiatan pertama, panitia sudah bekerjasama dengan Sekolah Madrasah di sekitar Citra Alam Riverside. Peserta Serviam Camp akan melalukan kegiatan bersama dengan 100 anak-anak dari Sekolah Madrasah. Anak-anak akan mengundang dan menjemput teman-temannya dari Sekolah Madrasah untuk masuk bersama ke Citra Alam Riverside. Mereka akan membuat mading dan gelang persahabatan.
“Tujuannya agar anak-anak dapat berteman dengan siapa saja meski dengan agama yang berbeda. Juga mengajarkan mereka untuk saling berbagi, memperluas perkenalan dari berbagai macam kalangan,” kata Sr. Ike.
Kegiatan kedua, anak-anak bersama ketua RT setempat akan melakukan aksi bakti sosial membagi sembako kepada warga sekitar. Anak-anak dapat melihat dan mengenal lingkungan yang berbeda dari lingkungan tempat tinggal mereka. Kegiatan ketiga yaitu master chef junior, anak-anak memasak sendiri sayur sop untuk makan malam. Mereka diharapkan dapat mengenal prosesnya mulai dari menerima sayur, mencuci sayur, memotongnya, memasak, lalu makanan jadi, hingga sampai dimakan.



“Kami prihatian, karena sekarang anak-anak semua serba instan, apalagi sekarang semua bisa pesan secara online, jadi ada sebuah proses yang hilang. Dimana anak-anak sudah tidak biasa lagi menyusun menu, belanja ke supermarket, apalagi memasak,” cerita Sr Ike. Selain 3 kegiatan utama masih ada beberapa kegiatan lain seperti Angela Session, membuat refleksi bersama, Api Unggun, dan Misa.
Sarana Latihan Anak
Sementara itu, dalam sambutan pembukaan, Sr Ferdinanda mengatakan bahwa tema Serviam Camp VI 2019 sangat relevan dengan pidato Presiden Jokowi yang mengajak kita semua melompat bersama ke era baru. Anak-anak Sekolah Ursulin sudah memiliki dan menunjukkan bakat serta potensi yang luar biasa. Untuk itu, tantangan kita semua di dunia pendidikan, untuk melompat menuju suatu hal yang baru.



Serviam Camp VI, lanjut Sr Ferdinanda, merupakan sarana latihan bagi anak-anak untuk menempa diri menjadi pribadi yang melayani, berintegritas, berani melawan arus, berbelas kasih, memiliki prestasi tinggi, dan memiliki semangat kerjasama yang kokoh. “Kita perlu sadar bahwa kita hidup untuk orang lain, semua potensi yang kita punya harus kita berikan untuk kebahagiaan orang lain. Banyak orang dilayani, kita harus sebaliknya yaitu melayani,” kata Sr Ferdinanda.
Tidak lupa, Sr Ferdinanda mengajak anak-anak untuk berani tidak mencontek, berani melawan korupsi, berani melawan hoax dan bullying. Anak-anak Sekolah Dasar Ursulin harus memiliki hati yang berbelas kasih tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan. “Besar harapan kami, kalian makin tumbuh menjadi manusia Indonesia yang berkualitas pada masa datang, dan berikan yang kalian punya demi kemajuan bangsa dan negara,” ungkap Sr Ferdinanda.
Aprianita Ganadi
SOLO, SERVIAMNEWS.com-Minggu, 06 Januari 2019, Pk 08.00 WIB di Auditorium Kampus Regina Pacis, Solo ramai anak-anak, remaja, orang muda bahkan orang tua. Mereka semua berjalan dengan wajah gembira disambut para Suster Ursulin. Rupanya, pagi itu diselenggarakan Perayaan Natal Keluarga Besar Yayasan Winayabhakti Solo, yang terdiri dari Kampus Maria Assumpta Klaten (unit TK, SD dan SMP) dan Kampus Regina Pacis Solo (unit SMP dan SMA) beserta komunitas Para Suster Ursulin Solo, Klaten dan Baturetno. Peserta yang hadir kurang lebih 500 orang yang terdiri dari guru, karyawan, beserta keluarga serta komunitas Suster Ursulin.


Acara Natal dimulai dengan Perayaan Ekaristi, yang bertepatan dengan Hari Raya Penampakan Tuhan. Perayaan Ekaristi bertajuk ”Yesus Kristus, Hikmat Bagi Kita” ini dipimpin oleh Romo Mutiara Andalas, SJ. Dalam homilinya, Romo Andalas menekankan bahwa Perayaan Natal juga merupakan Perayaan Ulang Tahun Perkawinan sehingga keluarga-keluarga diingatkan kembali akan pentingnya makna perkawinan dalam keluarga.
Selain itu, Romo Andalas juga mengajak merenungkan makna Natal yang dialami dalam masing-masing keluarga yang mungkin berbeda-beda setiap tahunnya. Keluarga-keluarga jangan cemas bila mengalami kegalauan dalam keluarganya karena Tuhan selalu ”GALAU”, yaitu God Always Love And Understand U.
Setelah Perayaan Ekaristi berakhir, Ketua Yayasan Winaybhakti Solo, Suster Veronica Sri Andayani, OSU menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran keluarga besar guru, karyawan bersama keluarganya. Para Suster Ursulin sangat rindu untuk dapat berkunjung ke rumah guru dan karyawan, namun karena tidak memungkinkan maka dicarilah waktu yang tepat untuk mengadakan acara kebersamaan ini.
Maka, dipilihlah tanggal 6 Januari yang bertepatan dengan Pesta Epifani atau Hari Penampakan Tuhan yang hadir di dunia dalam keluarga Yusuf dan Maria. Terakhir, Suster Vero mengajak rekan-rekan suster naik ke panggung untuk bernyanyi dan menari bersama penuh sukacita. Nyanyian dan tarian para suster mengajak semua anak-anak dan orang tua ikut dalam suasana penuh sukacita dalam ramah tamah bersama.


Setelah itu, acara berlanjut dengan penampilan dari masing-masing unit TK, SD, SMP Maria Assumpta Klaten dan SMP dan SMA Regina Pacis Solo. Mereka ikut berbagi sukacita dengan menampilkan acara yang menghibur. Semua anak-anak yang hadir kurang lebih 70 orang ikut larut bernyanyi dan berjoget bersama dengan teman-temannya. Apalagi pembagian hadiah untuk anak-anak yang tampil dan doorprize untuk keluarga semakin menyemarakkan suasana pesta Natal ini.
Puncaknya dalam penutupan acara, kembali Suster Vero mengajak bernyanyi dan berjoget bersama. Tak ketinggalan anak-anak yang berani maju untuk berjoget mengikuti gerakan Suster Vero. Sungguh suasana yang membahagiakan bagi anak-anak dan terlebih keluarga besar Ursulin dari Klaten dan Solo.
Betullah kata Paus Fransiskus, di mana ada perjumpaan yang membawa sukacita, disitu akan bertambah iman. Maka, keluarga-keluarga di Yayasan Winayabhakti Solo sungguh mengalami perjumpaan yang penuh sukacita dalam perayaan Natal tahun ini dan semakin menambah iman diantara mereka.


Berkat acara Natal ini pula, rasa persaudaraan dan saling kenal satu sama lain diantara para guru dan karyawan beserta keluarganya bersama para Suster Ursulin semakin erat dan meningkat. Terang bintang yang telah memimpin para majus kepada Kristus Sang Terang tidak berakhir hanya sampai di sana.
Seperti halnya para majus itu, semua keluarga besar Ursulin pun yang telah mengalami sukacita Natal bersama, kini diutus Allah untuk menjadi “anak-anak terang”, untuk membawa terang Kristus kepada sesama. Dan yang terpenting adalah menjadi terang melalui perbuatan kasih kepada sesama kita. Semoga suasana sukacita bersama Natal tahun ini dalam keluarga besar Yayasan Winayabhakti Solo sungguh dapat turut mewujudkan apa yang kita nyanyikan bersama dengan pemazmur hari ini, “Segala ujung bumi melihat keselamatan yang datang dari Allah kita….”
Elias Anwar (Tim Pastoral SMA Regina Pacis Solo)
MADIUN, SERVIAMNEWS.com- Untuk membangun rasa cinta tanah air, Kampus St. Bernardus, Madiun, Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan renungan Tanah Air pada 16 Agustus 2018. Acara diawali dengan Visualisasi Perjuangan Kemerdekaan, renungan, doa, dan diakhiri dengan penciuman bendera merah putih. Kegiatan yang rutin diadakan setiap tahun ini diikuti oleh siswa TK, SD, SMP, dan seluruh guru serta karyawan kampus St. Bernardus, Madiun.






Sebanyak 80 siswa- siswi dan 8 guru SMK Santa Maria Jakarta menerima bantuan TOEIC dari Direktorat Pembinaan SMK. TOEIC (Test of English for International Communication) merupakan ujian kemampuan Bahasa Inggris yang diterima dan diakui secara internasional sebagai standar kemampuan berkomunikasi secara internasional dengan Bahasa Inggris di dunia kerja.
Tes tersebut dilaksanakan pada hari Rabu, 3 Oktober 2018 di Laboratorium Bahasa SMK Santa Maria. Tes yang berduarsi 120 menit itu dilaksanakan dalam 3 sesi di hari tersebut. Sesi pertama dimulai pada pukul 10.00 sampai dengan pukul 12.00, dilajutkan sesi kedua pada pukul 12.00 sampai dengan pukul 14.00, dan sesi terakhir berakhir pada pukul 16.00.
Seluruh siswa-siswi dan guru fokus dalam mengerjakan soal listening dan reading yang ada pada tes tersebut. Pemantauan pelaksanaan tes dilakukan oleh pihak ITC (International Test Center) melalui komunikasi Skype. Tes berlangsung dengan lancar dari mulai persiapan sampai dengan selesai. SMK Santa Maria berharap semoga tahun depan masih diberikn kesempatan untuk dapat mengikuti tes tersebut.
Sementara itu, sebanyak 40 siswa-siswi SMK St. Theresia, Jakarta juga mengikuti TOEIC, pada Sabtu, 13 Oktober 2018. Hadir saat TOEIC di SMK St. Theresia berlangsung dari ITC Pak Victor dan Ibu Jenny, serta Associate Director ITC, Damon Anderson. Di tempat lain, TOEIC juga berlangsung di SMK Cor Jesu, Malang, pada Jumat, 12 Oktober 2018. Indrawati – SMK Santa Maria