TANGERANG, SERVIAMNEWS.com– Kampus Santa Ursula BSD pada tahun 2020 akan memasuki usia ke-30 tahun. Oleh karena itu, untuk merayakan 30 tahun berdirinya sekolah, OSIS SMA Santa Ursula BSD menyelenggarakan kegiatan Implementasi Wajah Olahraga (ISWARA). Kegiatan pertandingan olahraga ini sejalan dengan visi dan misi OSIS tahun ini, yang mengutamakan keterbukaan, terutama dalam membangun relasi dengan sekolah-sekolah di Jabodetabek. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi awal dari relasi-relasi baik, bukan hanya antara tuan rumah dan peserta, namun juga antar peserta sendiri.

Acara diselenggarakan di kampus Santa Ursula BSD mulai hari Senin- Jumat, 12-16/8. Terdapat 3 cabang perlombaan, yaitu futsal, basket, dan voli, yang kemudian dibagi lagi dalam kategori putra dan putri. Bila ditotal, ada 30 sekolah yang berpartisipasi dalam ISWARA 2019, dari yang dekat seperti SMAN 7 Tangerang Selatan, hingga yang jauh seperti Kolose Kanisius. Antusiasme dan semangat, terutama yang ditunjukkan oleh siswa-siswi Santa Ursula BSD, menjadi tanda kebahagiaan karena akhirnya Santa Ursula BSD menjadi tuan rumah dalam sebuah ajang olahraga dalam waktu yang begitu lama.

Sejak acara pembukaan, keberagaman dan euforia sudah sangat terasa di kalangan peserta maupun spektator. Terutama dengan kehadiran Barisan Ursa (BURSA), yang mengangkat bukan hanya tangan dan suara, namun juga semangat untuk bersenang-senang dan bertanding secara sportif di lapangan. Sedangkan, SMA Santa Ursula BSD, sebagai tuan rumah, mengirimkan 1 tim untuk setiap cabang perlombaan, kecuali futsal putra yang mengirim 2 tim. Setiap tuan rumah bertanding, kecintaan terhadap almamater di kalangan siswa-siswi yang menjadi penonton sangat terlihat, dengan diteriakkannya yel-yel penyemangat. Salah satu kebiasaan yang menonjol adalah menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum pertandingan dimulai. Pada saat itu, semua perbedaan dan persaingan sejenak dilupakan untuk bersama-sama mengakui diri sebagai bangsa Indonesia.

Semua pertandingan yang berawal dengan sistem grup diakhiri dengan pertandingan final yang sangat sengit, terutama di cabang basket dan voli putra. Akhirnya, SMAN 11 Tangerang Selatan merebut juara pada ajang futsal putra, dan SMAN 7 Tangerang Selatan pada ajang futsal putri. Dalam ajang voli, SMAN 8 dan SMAN 1 dari Tangerang Selatan berhasil menjadi juara putra dan putri. Sementara itu dalam cabang basket, Kolose Kanisius Jakarta merebut gelar juara basket putra, dan Tarakanita Citra raya dengan gelar juara basket putri.

Lima hari di lapangan akhirnya ditutup dengan acara pembagian hadiah dan penampilan modern dance dari 2 sekolah, yaitu SMA Ora et Labora dan SMA tuan rumah, Santa Ursula BSD. Berakhirnya kegiatan ISWARA 2019 bukan berarti relasi dan hubungan baik yang sudah dibangun dapat juga berakhir dan dilupakan begitu saja. Justru, berakhirnya ISWARA 2019 menjadi awal dari berbagai persaingan sehat lainnya antar sekolah dalam bidang olahraga, terutama untuk para peserta lomba yang dikirim tuan rumah sendiri.

Panitia yang telah bekerja keras, para peserta yang gigih dan sportif, para supporter yang bersemangat, serta berbagai pertandingan akan menjadi memori yang sangat berkesan, sebagai awal perayaan 30 tahun berdirinya Santa Ursula BSD. Semoga kedepannya, relasi yang sudah dibangun dapat semakin dikembangkan, terutama dalam kegiatan-kegiatan eksternal yang mengundang sekolah-sekolah tetangga. Sampai jumpa tahun depan!!

Luisa Carmel

Kampus Santa Ursula BSD : https://www.sanurbsd-tng.sch.id/

Serviam

TANGERANG, SERVIAMNEWS.com– Pelatihan fisik dan mental merupakan bagian dari proses pengembangan karakter di SMA Santa Ursula BSD, sesuai dengan visi dan misi sekolah “Cerdas, Utuh dan Melayani”. Maka, sekolah bekerjasama dengan pihak luar yang kompeten dalam bidangnya (RINDAM JAYA), untuk mengembangkan fisik dan mental peserta didik yang telah mereka miliki. Setiap tahun SMA Santa Ursula BSD selalu mengirimkan peserta didiknya di kelas X untuk berlatih ke Dodiklatpur RINDAM JAYA, Gunung Bunder, Jawa Barat.

Pada tahun ini, tepatnya 29-31 Agustus 2019, pelatihan fisik dan mental di SMA Santa Ursula BSD dilakukan. Pelatihan fisik dan mental memiliki tujuan yang jelas, terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Pelatihan ini dirancang sebaik dan seaman mungkin bagi peserta didik. Pelatihan ini memang bekerjasama dengan pihak militer, namun bukan berarti ingin melakukan militerisasi kepada peserta didik. Bukan berarti pula menyerahkan sepenuhnya proses kedisplinan, fisik dan mental kepada pihak luar. Pelatihan ini bertujuan untuk mengembangkan value yang sudah sekolah miliki.

Sebuah usaha untuk menjadi lebih sehat dan disiplin akan sangat mendukung peserta didik dalam proses belajar, khususnya di SMA Santa Ursula BSD dengan berbagai macam kegiatan dan tuntutannya. Tolak ukur kesehatan bukan hanya secara fisik tetapi juga mentalitas, karena dengan kekuatan jiwa yang baik peserta didik mampu mengatasi sebuah hambatan fisik yang ada. Pelatihan ini menekankan optimalisasi, artinya peserta didik bukan dituntut melakukan secara maksimal.

Optimal berarti mampu mengukur batas kemampuannya, sehingga tidak memaksakan diri. Optimalisasi erat dengan value ketekunan dan sikap untuk pantang menyerah dalam menghadapi setiap tantangan. Optimalisasi mengajak peserta didik berani keluar dari zona nyaman, rasa takut dan batasan-batasan pemikirannya. Optimalisasi juga menuntut adanya kerjasama tim dan rasa kepedulian kepada sesama. Konsep yang dipegang adalah “jika satu orang melakukan kesalahan, kesalahan itu pasti disebabkan karena ketidakpedulian seluruh anggota kelompok.” Maka sanksinya yang diterapkan tidak hanya bagi satu orang saja tapi bagi seluruh anggota kelompok.

Optimalisasi juga menekankan kemampuan menangkap instruksi dan menjalankannya dengan tepat dan cepat seperti dalam pelatihan baris-berbaris. Kesadaran untuk menjadi pribadi disiplin yang didasarkan pada kepentingan bersama merupakan kuncinya. Menjadi disiplin bukan karena takut dihukum, tetapi karena sadar bahwa tindakan yang dilakukan akan berdampak juga kepada orang lain. Optimalisasi mengembangkan kemandirian sehingga peserta didik dapat mengatur hidupnya sendiri tidak melulu tergantung kepada orang lain.

Maka, dalam mencapai optimalisasi tersebut, materi-materi yang diberikan kepada peserta didik meliputi wawasan kebangsaan, latihan upacara bendera, pelatihan fisik (push up, seat up, lari, dll), kedisplinan, persiapan baris-berbaris, CMI (Cara Menyampaikan Instruksi), survival,  caraka malam, mountaineering, roleplay dan tracking menuju ke Curug Kondang, Gn. Bunder, Jawa Barat. Khusus pada waktu tahun ini materi mountaineering tidak dapat diberikan karena sarana sedang digunakan untuk latihan tempur TNI bagi para perwira dan adanya pelantikan perwira TNI.

Lorensius Eka Setiawan

Kampus Santa Ursula BSD : https://www.sanurbsd-tng.sch.id/

Serviam

TANGERANG, SERVIAMNEWS.com– Kehadiran media sosial disamping media cetak dan media elektronik seperti televisi dan radio membawa tantangan baru bagi generasi zaman ini. Platform yang lebih luas, terbuka, dan bebas memudahkan semua pihak untuk berbagi informasi, perasaan, pengalaman, serta pemikiran. Disatu sisi kecanggihan tersebut mendorong generasi muda ke arah yang lebih maju, tapi disisi lain juga membuka kesempatan besar untuk berbagai kejahatan dan hal-hal negatif terjadi.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, SMA Santa Ursula, Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, Banten mengadakan kegiatan Diskusi Kebangsaan Hari HAM 2018. Kegiatan diadakan pada Rabu, 12 Desember 2018 dengan mengangkat topik HAM dan kebhinekaan di era digital. Dalam diskusi kali ini, SMA Santa Ursula BSD mengundang Ibu Retno Listyarti yang sekarang menjabat sebagai Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia dan Bapak Fransiskus Surdiasis yang saat ini bekerja sebagai manager litbang The Jakarta Post serta dosen di Akademi Televisi Indonesia (ATVI).

Diskusi ini, melibatkan siswa/i kelas XI dan XII, teman-teman dari sekolah lain dan bapak/ibu guru. Teman-teman dari sekolah lain yang ikut bergabung dalam diskusi ini adalah dari sekolah SMA Tarakanita Gading Serpong, SMA Tarakanita Citra Raya, SMA Ora et Labora, dan SMA Theresia Jakarta. Ibu Retno membahas HAM anak dan HAM di bidang pendidikan. Ia membahas tentang pengertian HAM, kasus pelanggarannya, toleransi, radikalisme, dan peran sekolah menghadapi realita di masyarakat. Sedangkan Bapak Fransiskus membahas HAM di era digital dan bagaimana anak-anak zaman sekarang dapat menggunakan media sosial dengan cerdas.

Setelah diskusi selesai, acara dilanjutkan dengan Bincang Kawula Muda yang diikuti siswa/i kelas XII, prakaderisasi dan OSIS kelas XI serta teman-teman dari sekolah lain. Kegiatan yang dilakukan adalah Photo Challenge di media sosial Instagram. Hal ini bertujuan untuk mengampanyekan HAM di media sosial sekaligus mempererat relasi dengan teman-teman dari luar SMA Santa Ursula BSD.

Hasil dari kegiatan ini adalah 50 posts dengan hashtag #hakasasiduadunia yang berarti berlakunya HAM di dunia maya maupun nyata dan #generasimudacerdas yang diharapkan dapat mengkritisi konten yang ada di media agar kebhinekaan dan HAM dapat lebih terjamin baik di kehidupan nyata maupun di media. Melalui dialog kebangsaan ini, diharapkan siswa/i memperoleh ilmu dan kesadaran tentang HAM khususnya di media sosial, serta dapat menggunakan media sosial dengan cerdas.

Andrea Polisar XII IPA 2 / 3 dan Elisabet Sudira XII IPA 2 / 9

http://www.sanurbsd-tng.sch.id/ws/

Santa Ursula BSD http://www.sanurbsd-tng.sch.id/

Santa Ursula BSD Choir & Symphony Orchestra menggelar konser Natal bertajuk “A Gift For The King”. Konser Natal yang berlangsung meriah ini diadakan di Auditorium Kampus Santa Ursula BSD pada 18-19 Desember 2018.

TANGERANG, SERVIAMNEWS.com – Pada Senin, 22 Oktober 2018, peserta didik SMP St. Ursula Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, Banten kelas IX A, IX B, dan IX C pergi ke Panti Werdha dengan tujuan bakti sosial. Acara diadakan di empat Panti Werdha yang berbeda yaitu Panti Werdha Melania, Kasih Ayah Bunda, Kemah Beth Shalom Yayasan Bina Bhakti, dan Marfati.

Pelaksanaan Bakti Sosial terbagi dalam dua gelombang, dengan hari yang berbeda dan tempat yang berbeda, yaitu Senin, 22 Oktober 2018 untuk peserta didik kelas IX A hingga IX C dan Kamis, 25 Oktober 2018 untuk peserta didik kelas IX D dan IX E. Peserta didik yang berangkat pada gelombang pertama pun dibagi lagi menjadi beberapa kelompok untuk mengunjungi beberapa panti werdha, untuk meminimalisir penghuni panti bingung.

Panti Werdha Marfati terletak di Tangerang Kota. Jarak dari sekolah ke panti tersebut cukup jauh. Perjalanan menuju Panti Werdha Marfati memakan waktu selama satu jam. Untuk mempersiapkan acara, kelompok berkumpul terlebih dahulu untuk membahas kegiatan apa yang akan kami lakukan di sana dan apa yang akan kami bawa sebagai tanda kasih untuk Oma dan Opa yang ada di panti werdha.

Sesampainya di sana, kami langsung berinteraksi dengan Opa dan Oma yang ada. Panti Werdha Marfati terbagi menjadi tiga bagian. Bagian depan bernama Graha Lansia Marfati 2 yang dihuni oleh 20 hingga 30 Oma dan Opa. Acara berlangsung sangat santai karena kami di sini bertujuan untuk melayani. Kami bernyanyi bersama Opa dan Oma, mereka terlihat bahagia. Kami juga memberikan snack yang telah kami bawa. Sebagian besar dari mereka sudah memakai kursi roda.

Bagian bangunan yang kedua bernama Graha Lansia Fatima yang dihuni oleh suster- suster Katolik. Yang terakhir adalah Graha Lansia Marfati 1 yang terletak di bagian belakang. Bangunan yang terakhir ini cukup besar, dan menampung 40 hingga 60 Oma dan Opa. Di sini kami berbincang dengan salah satu Oma yang pernah hidup di zaman penjajahan Belanda. Beliau mengatakan, bahwa sekolah pada zaman penjajahan tidaklah mudah, dan saya bersyukur bisa bersekolah dengan aman dan nyaman saat ini. Acara selesai pukul 12.00 WIB kebetulan Opa dan Oma berdoa Rosario bersama pada saat itu. Kami pun berpamitan lalu pulang.

Bonaventura Bagas/ IX C

TANGERANG, SERVIAMNEWS.com– Hari Pangan Sedunia (HPS) sudah menjadi salah satu tradisi khusunya bagi para peserta didik di kampus SMP St. Ursula Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Banten. Dalam memperingati HPS 2018, OSIS SMP St. Ursula BSD membuat empat kegiatan yang telah dilaksanakan sejak 9 Oktober – 16 Oktober 2018. Rangkaian kegiatan dimulai dari pengumpulan beras, kolekte, mabar (makan bersama), dan “No Gadget Day”.

Kolekte dilakukan selama dua hari yakni 9 Oktober dan 16 Oktober. Kolekte dikumpulkan dari tiap kelas dan dihitung oleh Tata Usaha. Total dari uang tersebut disumbangkan kepada orang-orang yang kurang mampu.

Sementara itu, pengumpulan beras dilakukan selama 3 hari pada 11 Oktober – 13 Oktober. Pengumpulan beras dilakukan di Hall SMP/SMA St. Ursula BSD. Beras yang dikumpulkan juga bermacam-macam. Tidak hanya beras putih, tetapi ada juga beras merah yang disumbangkan oleh para peserta didik. Terlebih lagi untuk mengurangi sampah plastik, setiap peserta didik membawa beras yang akan disumbangkan dalam kotak makan atau botol minum. Beras yang dikumpulkan nantinya akan diberikan ke orang-orang membutuhkan yang ada disekitar BSD.

Selanjutnya kegiatan mabar atau singkatan dari makan bersama ini juga tak kalah ikut meramaikan HPS. Setiap peserta didik diminta untuk membawa bekal jajanan tradisional masing-masing yang akan dimakan bersama-sama. Kegiatan mabar ini dilaksanakan pada Selasa, 16 Oktober 2018. Setiap kelas melaksanakan kegiatan mabar di depan selasar kelas masing-masing dan membentuk sebuah lingkaran yang memanjang.

Setelah itu, beberapa pengurus OSIS SMP akan menaruh helaian daun pisang memanjang di tengah pada setiap kelas. Kemudian, peserta didik dapat meletakkan jajanan tradisional yang mereka bawa diatas daun pisang dan memakannya secara bersama-sama. Beberapa peserta didik mengatakan bahwa kegiatan mabar ini telah menjadi salah satu momen seru bagi masing-masing kelas.

Pada hari yang sama dilaksanakan gerakan “No Gadget Day” yang berlaku bagi seluruh peserta didik. Khusus dihari itu, peserta didik tidak diperkenankan untuk membawa gawai berupa telepon genggam (handphone) ke sekolah. Hal itu dikarenakan, sudah banyak yang memberikan komentar tentang kurang adanya interaksi peserta didik yang membawa gawai ke sekolah dengan orang lain.

Tidak hanya itu, kecenderungan anak milenial sangat sering berkomunikasi dengan teman ataupun orang lain melalui gawai. Anak-anak zaman milenial itu lebih cenderung berfokus pada gawainya, sehingga kegiatan ini dilaksanakan untuk mengurangi hal tersebut. Khusus bagi peserta didik yang pulang sekolah menggunakan kendaraan daring, sekolah sudah memberi tahu kepada masing-masing orangtua peserta didik dan memberikan sarana khusus.

Kegiatan HPS kali ini berhasil diisi dengan keindahan yang kita semua berikan. Untuk itu, semangat dan antusias ini perlu dipertahankan untuk kegiatan-kegiatan yang akan diselenggarakan selanjutnya.


Ancilla Vida/VIIIB dan Ancilla Elsa/VIIIC


Sekolah Santa Ursula BSD selalu berupaya untuk mengembangkan setiap peserta didik menjadi manusia yang utuh, cerdas, dan memiliki semangat melayani. Proses belajar nilai-nilai hidup, kearifan lokal, budaya setempat tentu tidak akan bisa dipelajari secara mendalam di bangku sekolah. Ketika peserta didik sudah berada di kelas XII maka mereka wajib mengikuti kegiatan live in.

Live in adalah tinggal dan hidup bersama. Bersama siapakah? Tentu bukan bersama keluarga di rumah tetapi bersama sebuah keluarga baru. Melalui belajar “tinggal bersama” dengan teman dan keluarga baru, peserta live in akan belajar banyak hal baru pula. Mereka harus belajar saling mendukung, saling menguatkan dengan teman pasangan tinggalnya.

Selanjutnya, mereka akan belajar “hidup” bersama keluarga baru mereka. Banyak hal pasti berbeda dengan kehidupan keseharian mereka. Rumah dan lingkungannya pasti merupakan hal yang sungguh-sungguh baru karena mereka tinggal di desa. Selama 5 hari 4 malam mereka akan berelasi dan menjadi bagian dari seluruh kehidupan keluarga baru mereka.

 Lelah, canggung, bingung, tidak bisa berkomunikasi (kebanyakan penduduk desa berbahasa Jawa), tidak tahu apa yang harus dilakukan, rindu keluarga di rumah, rindu tempat yang bersih adalah keluhan awal yang muncul dari peserta didik. Namun, sapaan yang ramah dan tulus, serta kasih keluarga dari masyarakat desa ternyata mampu menyentuh mereka secara pribadi sehingga akhirnya mereka berani membuka diri dengan terlibat dalam seluruh dinamika kehidupan keluarga.

Desa Samigaluh, Tetes, Balong, dan Gorolangu di Paroki Boro menjadi desa lokasi live in Santa Ursula BSD untuk tahun 2018. Semua desa tersebut terletak di daerah perbukitan yang kering dan tandus. Perjalanan naik turun, rumah-rumah dengan lokasi berjauhan, sawah dan ladang yang jauh dan kering, kesulitan air bersih karena musim kemarau, menjadi tantangan yang sangat menarik.

 Di sinilah,  peserta live in belajar peduli dan berempati dengan masyarakat sekitar. Mereka belajar bertahan untuk tidak mandi dan mencuci rambut setiap hari karena tidak ada air padahal badan begitu berkeringat. Mereka belajar keras untuk keluar dari zona nyaman mereka. Maka, live in di Santa Ursula BSD bukan lagi sekedar berpindah tempat, belajar bertani, belajar beternak, belajar memasak, atau bahkan berwisata tetapi waktu untuk belajar tentang hidup dan kehidupan secara nyata. L.M. Sri Sudartanti Purworini

Oleh: Sabina Prajnamalini P. S.

Waduk Jatiluhur menjadi rumah baru bagi kami selama 6 hari itu. Kami, siswa kelas 11 SMA Santa Ursula BSD terbagi ke dalam 2 gelombang. Gelombang pertama berangkat pada tanggal 3-8 September dan gelombang kedua pada tanggal 10-15 September. Bersama teman-teman di dalam kelompok, kami menjalani serangkaian kegiatan yang difasilitasi oleh tim Outward Bound Indonesia. Tanpa gawai, pendingin ruangan, dan segala kemewahan lainnya, kami diajak untuk hidup dan tinggal di alam terbuka, sekaligus terbuka terhadap alam itu sendiri.

Setiap hari kami melakukan semua kegiatan tanpa ada jadwal yang pasti. Satu-satunya hal yang bisa menjadi pegangan bagi kami adalah prinsip mengenai adanya konsekuensi. Semuanya ditentukan oleh kami dan hal itu akan berdampak pada banyak hal lainnya. Terlambat memulai, maka akan terlambat menyelesaikan. Semakin siang kami mengawali kegiatan kami, maka akan semakin malam kami tidur—sesederhana itu. Namun jika tidak ditepati, kelompoklah yang akan menanggung rugi.

Berbicara mengenai kelompok, tak dapat dipungkiri lagi bahwa ia merupakan salah satu unsur terpenting dalam perjalanan ini. Sebagai sebuah keluarga selama 6 hari, semua anggota dituntut untuk bisa memahami satu sama lain, saling menjaga, dan mendukung. Peran-peran berbeda yang harus kami ambil secara bergilir tiap harinya membuka peluang untuk belajar hal baru. Kami diajak untuk mampu membangun sinergi yang baik dan bertanggung jawab atas peran yang telah kami ambil. Dari pengalaman ini kami semakin memahami makna persahabatan itu sendiri.

Secara keseluruhan, semua kegiatan yang diadakan bersama tim OBI ini memang sangat menantang. Ia menguji ketahanan kami, baik secara fisik maupun mental. Ia mendorong kami untuk menembus batas-batas yang tadinya kami miliki. Kutipan dari Kurt Hahn, pendiri Outward Bound menyatakan bahwa ada sesuatu yang lebih di dalam diri kita dari yang selama ini kita ketahui. Semua kegiatan membawa kami sampai pada titik itu. Kami disadarkan bahwa setiap dari kami memiliki kekuatan dan itu sangat perlu untuk dikembangkan.

Di lingkungan OBI kami dikenalkan dengan istilah berlayar. Ia merupakan sebuah ungkapan yang menandai suatu momen saat kapal menarik jangkar meninggalkan pelabuhan menuju lautan lepas, siap menghadapi segala hal yang belum diketahui. Kami para peserta diajak untuk memaknai hal itu dengan dalam, bahwa sama seperti kapal-kapal itu, kami nantinya akan “melepas jangkar” dan pergi menuju lautan masa depan yang penuh tantangan. Kegiatan selama 6 hari bersama OBI menjadi sebuah simulasi kecil dari pelayaran besar itu. Sebuah pepatah mengatakan bahwa hal-hal hebat tidak pernah datang dari zona nyaman. Kegiatan bersama OBI mampu menunjukkan hal itu. Mau tidak mau kami memang harus berani keluar dari zona nyaman itu. Namun, itulah makna dari kegiatan ini: mengubah kami menjadi pribadi baru yang juga memiliki kekuatan baru. Fisik dan mental kami ditempa habis-habisan namun itulah yang membentuk karakter kami, karakter seorang pejuang. Kini, kami telah siap menerima tantangan-tantangan lain yang akan diberikan. Satu-satunya hal yang harus kami lakukan adalah berlayar, berlayar, dan berlayar!

  • 1
  • 2
Follow by Email
Instagram
Copy link
URL has been copied successfully!