TANGERANG, SERVIAMNEWS.com– Kehadiran media sosial disamping media cetak dan media elektronik seperti televisi dan radio membawa tantangan baru bagi generasi zaman ini. Platform yang lebih luas, terbuka, dan bebas memudahkan semua pihak untuk berbagi informasi, perasaan, pengalaman, serta pemikiran. Disatu sisi kecanggihan tersebut mendorong generasi muda ke arah yang lebih maju, tapi disisi lain juga membuka kesempatan besar untuk berbagai kejahatan dan hal-hal negatif terjadi.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, SMA Santa Ursula, Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, Banten mengadakan kegiatan Diskusi Kebangsaan Hari HAM 2018. Kegiatan diadakan pada Rabu, 12 Desember 2018 dengan mengangkat topik HAM dan kebhinekaan di era digital. Dalam diskusi kali ini, SMA Santa Ursula BSD mengundang Ibu Retno Listyarti yang sekarang menjabat sebagai Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia dan Bapak Fransiskus Surdiasis yang saat ini bekerja sebagai manager litbang The Jakarta Post serta dosen di Akademi Televisi Indonesia (ATVI).

Diskusi ini, melibatkan siswa/i kelas XI dan XII, teman-teman dari sekolah lain dan bapak/ibu guru. Teman-teman dari sekolah lain yang ikut bergabung dalam diskusi ini adalah dari sekolah SMA Tarakanita Gading Serpong, SMA Tarakanita Citra Raya, SMA Ora et Labora, dan SMA Theresia Jakarta. Ibu Retno membahas HAM anak dan HAM di bidang pendidikan. Ia membahas tentang pengertian HAM, kasus pelanggarannya, toleransi, radikalisme, dan peran sekolah menghadapi realita di masyarakat. Sedangkan Bapak Fransiskus membahas HAM di era digital dan bagaimana anak-anak zaman sekarang dapat menggunakan media sosial dengan cerdas.
Setelah diskusi selesai, acara dilanjutkan dengan Bincang Kawula Muda yang diikuti siswa/i kelas XII, prakaderisasi dan OSIS kelas XI serta teman-teman dari sekolah lain. Kegiatan yang dilakukan adalah Photo Challenge di media sosial Instagram. Hal ini bertujuan untuk mengampanyekan HAM di media sosial sekaligus mempererat relasi dengan teman-teman dari luar SMA Santa Ursula BSD.
Hasil dari kegiatan ini adalah 50 posts dengan hashtag #hakasasiduadunia yang berarti berlakunya HAM di dunia maya maupun nyata dan #generasimudacerdas yang diharapkan dapat mengkritisi konten yang ada di media agar kebhinekaan dan HAM dapat lebih terjamin baik di kehidupan nyata maupun di media. Melalui dialog kebangsaan ini, diharapkan siswa/i memperoleh ilmu dan kesadaran tentang HAM khususnya di media sosial, serta dapat menggunakan media sosial dengan cerdas.
Andrea Polisar XII IPA 2 / 3 dan Elisabet Sudira XII IPA 2 / 9
SOLO, SERVIAMNEWS.com-Minggu, 06 Januari 2019, Pk 08.00 WIB di Auditorium Kampus Regina Pacis, Solo ramai anak-anak, remaja, orang muda bahkan orang tua. Mereka semua berjalan dengan wajah gembira disambut para Suster Ursulin. Rupanya, pagi itu diselenggarakan Perayaan Natal Keluarga Besar Yayasan Winayabhakti Solo, yang terdiri dari Kampus Maria Assumpta Klaten (unit TK, SD dan SMP) dan Kampus Regina Pacis Solo (unit SMP dan SMA) beserta komunitas Para Suster Ursulin Solo, Klaten dan Baturetno. Peserta yang hadir kurang lebih 500 orang yang terdiri dari guru, karyawan, beserta keluarga serta komunitas Suster Ursulin.


Acara Natal dimulai dengan Perayaan Ekaristi, yang bertepatan dengan Hari Raya Penampakan Tuhan. Perayaan Ekaristi bertajuk ”Yesus Kristus, Hikmat Bagi Kita” ini dipimpin oleh Romo Mutiara Andalas, SJ. Dalam homilinya, Romo Andalas menekankan bahwa Perayaan Natal juga merupakan Perayaan Ulang Tahun Perkawinan sehingga keluarga-keluarga diingatkan kembali akan pentingnya makna perkawinan dalam keluarga.
Selain itu, Romo Andalas juga mengajak merenungkan makna Natal yang dialami dalam masing-masing keluarga yang mungkin berbeda-beda setiap tahunnya. Keluarga-keluarga jangan cemas bila mengalami kegalauan dalam keluarganya karena Tuhan selalu ”GALAU”, yaitu God Always Love And Understand U.
Setelah Perayaan Ekaristi berakhir, Ketua Yayasan Winaybhakti Solo, Suster Veronica Sri Andayani, OSU menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran keluarga besar guru, karyawan bersama keluarganya. Para Suster Ursulin sangat rindu untuk dapat berkunjung ke rumah guru dan karyawan, namun karena tidak memungkinkan maka dicarilah waktu yang tepat untuk mengadakan acara kebersamaan ini.
Maka, dipilihlah tanggal 6 Januari yang bertepatan dengan Pesta Epifani atau Hari Penampakan Tuhan yang hadir di dunia dalam keluarga Yusuf dan Maria. Terakhir, Suster Vero mengajak rekan-rekan suster naik ke panggung untuk bernyanyi dan menari bersama penuh sukacita. Nyanyian dan tarian para suster mengajak semua anak-anak dan orang tua ikut dalam suasana penuh sukacita dalam ramah tamah bersama.


Setelah itu, acara berlanjut dengan penampilan dari masing-masing unit TK, SD, SMP Maria Assumpta Klaten dan SMP dan SMA Regina Pacis Solo. Mereka ikut berbagi sukacita dengan menampilkan acara yang menghibur. Semua anak-anak yang hadir kurang lebih 70 orang ikut larut bernyanyi dan berjoget bersama dengan teman-temannya. Apalagi pembagian hadiah untuk anak-anak yang tampil dan doorprize untuk keluarga semakin menyemarakkan suasana pesta Natal ini.
Puncaknya dalam penutupan acara, kembali Suster Vero mengajak bernyanyi dan berjoget bersama. Tak ketinggalan anak-anak yang berani maju untuk berjoget mengikuti gerakan Suster Vero. Sungguh suasana yang membahagiakan bagi anak-anak dan terlebih keluarga besar Ursulin dari Klaten dan Solo.
Betullah kata Paus Fransiskus, di mana ada perjumpaan yang membawa sukacita, disitu akan bertambah iman. Maka, keluarga-keluarga di Yayasan Winayabhakti Solo sungguh mengalami perjumpaan yang penuh sukacita dalam perayaan Natal tahun ini dan semakin menambah iman diantara mereka.


Berkat acara Natal ini pula, rasa persaudaraan dan saling kenal satu sama lain diantara para guru dan karyawan beserta keluarganya bersama para Suster Ursulin semakin erat dan meningkat. Terang bintang yang telah memimpin para majus kepada Kristus Sang Terang tidak berakhir hanya sampai di sana.
Seperti halnya para majus itu, semua keluarga besar Ursulin pun yang telah mengalami sukacita Natal bersama, kini diutus Allah untuk menjadi “anak-anak terang”, untuk membawa terang Kristus kepada sesama. Dan yang terpenting adalah menjadi terang melalui perbuatan kasih kepada sesama kita. Semoga suasana sukacita bersama Natal tahun ini dalam keluarga besar Yayasan Winayabhakti Solo sungguh dapat turut mewujudkan apa yang kita nyanyikan bersama dengan pemazmur hari ini, “Segala ujung bumi melihat keselamatan yang datang dari Allah kita….”
Elias Anwar (Tim Pastoral SMA Regina Pacis Solo)
Catatan singkat kegiatan Homestay XVII
SOLO, SERVIAMNEWS.com– Dewasa ini, ditengah hiruk pikuknya kota dan segala kegiatan individu yang ada disekitarnya, tanpa kita sadari, sebagian dari kita kadang lupa untuk sekedar menyapa atau mengucap salam kepada tetangga atau orang disekitar kita. Kemajuan teknologi dan arus informasi juga ikut mendorong kita menjadi individu yang pasif bahkan cuek dengan keadaan disekitar kita. Bisa kita lihat kapanpun dan dimanapun orang akan sibuk dengan gadget yang ada digenggaman mereka.
Menyadari akan hal ini, SMP Regina Pacis Solo memiliki program tahunan untuk kelas IX, yaitu homestay. Program bertujuan untuk mengajak para peserta didik sejenak meninggalkan semua kenyamanan, kemewahan, dan kebisingan kota tempat tinggal mereka. Peserta homestay akan tinggal di daerah pedesaan dan membaur dengan masyarakat yang ada disana sambil belajar apa yang dikerjakan oleh masyarakat di pedesaan.

Seperti tahun sebelumnya, sebelum melaksanakan kegiatan ini, Tim homestay XVII SMP Regina Pacis Solo melakukan survey lokasi. Atas saran dari Romo Krist yang berada di Gereja Santa Maria Diangkat Kesurga, Paroki Dalem, tim Homestay dirujuk untuk ke wilayah Dusun Dawung dan Dusun Wangon, Desa Serut, Kecamatan Gedangsari, Gunung Kidul.
Beratnya medan lokasi dan jalan yang harus dilalui, tidak membuat panitia homestay putus asa. Sebab, dimanapun kami berjalan, wajah tulus dan sapaan hangat dari warga pedesaan membuat rasa lelah hilang. Keramahan yang mereka tunjukkan kepada kami membuat kami yakin bahwa peserta didik SMP Regina Pacis Solo akan mendapat suatu pelajaran yang berharga. Hal ini sejalan dengan tema yang kami usung “Menapak Sejengkal Tanah Menemukan Keramahan”.
Homestay tahun ini dilaksanakan mulai hari Kamis, 6 Desember 2018 sampai dengan Sabtu, 8 Desember 2018. Di hari pertama semua peserta didik yang terdiri dari 148 anak dan 11 guru pendamping berangkat dari sekolah dengan 7 armada bis menuju Gereja Santa Maria Diangkat Ke Surga, Klaten. Setibanya di gereja, kami disambut oleh Ketua Dewan Paroki Gereja, Kepala Bidang Pelayanan Kemasyarakatan, Bapak Sudarman, dan Ketua Wilayah Kapel Dawung, Bapak Yohanes Sumardi.

Setelah acara serah terima di Gereja Dalem, semua peserta homestay melanjutkan perjalanan ke lokasi orang tua asuh dengan menggunakan truk. Ini merupakan pengalaman pertama bagi sebagian besar peserta. Mereka sungguh menikmati perjalanan dengan truk melalui medan yang menanjak dan berkelok-kelok. Dengan penuh keramahan, para orang tua asuh menjemput peserta didik untuk diajak ke rumah mereka masing-masing.
Pada hari pertama dan kedua homestay, peserta didik mengikuti kegiatan di keluarga masing-masing. Dari belanja kepasar, membersihkan rumah, menimba air, mencari makan ternak serta bertani. Ketika para pendamping melakukan home visit, kesan pertama dan yang selalu kami ingat adalah kesederhanaan dan keramahan warga setempat.
Dimanapun kami melangkah, ketika berpapasan mereka akan selalu mengucapkan salam dan berjabat tangan. Tak terkecuali kami kadang harus berhenti sejenak untuk sekedar menikmati segelas teh hangat dirumah warga setempat. Hal ini sangat jarang ditemui ketika kita berada dikota.

Hari ketiga adalah hari terakhir bagi para peserta didik dan guru pendamping kembali ke Solo. Setelah berpamitan dengan orangtua asuh, para peserta didik berjalan ke Kapel Dawung untuk mengikuti Misa Syukur. Sepanjang perjalanan, kami para pendamping berpapasan dengan beberapa orangtua yang mengantar para peserta homestay ke kapel. Dengan membawa buah tangan khas pedesaan, senyum ramah dan ketulusan terpancar dari wajah mereka.
Tiba di Kapel, semua peserta didik dan orang tua asuh mengikuti Misa Syukur yang dipimpin oleh Romo Ignasius Fajar Kristiyanto, Pr. Dalam homilinya, Romo menyampaikan bahwa inti kebahagiaan tidak selalu karena hidup mewah dan serba ada. Kebahagiaan bisa didapat dari kesederhanaan dan kehangatan keluarga. Dan hal ini turut dirasakan juga oleh peserta homestay.
Rasa haru pun terasa ketika para peserta didik mencium tangan para orang tua asuh dan warga sambil berpamitan. Tak terasa beberapa orang tua meneteskan air mata bahkan ada yang terus memeluk anak asuhnya tanda bahwa mereka sangat menyayangi anak – anak ini. Ketika semua sudah naik ke truk, kami masih melihat para warga desa dengan setia melepaskan kepulangan kami sambil melambaikan tangan mereka dengan senyuman tulus dan ramah yang biasa kami dapatkan selama tinggal disini.

Tdak ada hal lain yang bisa kami lakukan kecuali mensyukuri atas pelajaran berharga yang boleh diterima oleh para peserta didik SMP Regina Pacis Solo, dimana kami boleh mencari dan menemukan keramahan dengan aksi nyata melalui kerendahan hati untuk selalu memberi dan berbagi. Dan semoga pelajaran ini akan selalu diingat oleh siswa- siswi kami sebagai bekal hidup mereka dikemudian hari.
Th. Wahyu Savitri (Guru SMP Regina Pacis Solo)
Santa Ursula BSD http://www.sanurbsd-tng.sch.id/
Santa Ursula BSD Choir & Symphony Orchestra menggelar konser Natal bertajuk “A Gift For The King”. Konser Natal yang berlangsung meriah ini diadakan di Auditorium Kampus Santa Ursula BSD pada 18-19 Desember 2018.
“Somewhere along the way, we must learn that there is nothing greater than to do something for others“. Martin Luther King Jr.
JAKARTA- SERVIAMNEWS.com – Senin, 10 Desember 2018. Hari yang penuh makna bagi kami kelas IX. Para siswi diberi kesempatan untuk mengikuti program “Serviam Service”. Pada program ini, siswi-siswi diajak berkunjung ke beberapa tempat untuk melakukan pelayanan. Seluruh program mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan langsung dikoordinir oleh siswi. Rachel sebagai penanggung jawab unit TK serta Vanessa penanggung jawab unit SD mulai menghubungi guru masing-masing unit untuk memastikan waktu pelaksanaan serta program yang sudah kami susun untuk dilihat para guru tersebut.

Dua pekan sebelum kegiatan Serviam Service kami dibagi ke dalam beberapa kelompok. Ada empat tempat berbeda yang menjadi fokus pelayanan kami. Ada kelompok yang melakukan pelayanan di TK dan SD, di biara, mengunjungi guru SMP Santa Ursula yang sudah pensiun, serta pelayanan di perpustakaan.
Pelayanan di TK/SD dibagi menjadi 2 bagian lagi. Ada yang di TK dan ada juga yang di SD. Siswi yang bertugas di TK berjumlah 30 siswi, sedangkan siswi yang bertugas di SD ada 48 siswi (untuk jenjang kelas 1 s.d. 6). Dalam kegiatan tersebut kami hadir lebih pagi pukul 06.20 untuk kegiatan sapa pagi, kemudian dilanjutkan dengan bermain dan mengajar adik-adik. Bagian Serviam Service di biara (lebih tepatnya di Biara Santa Ursula) bertugas untuk membersihkan dan merapikan isi biara. Mulai dari membersihkan lantai, membersihkan debu-debu pada barang milik biara, hingga membereskan dapur.

Kegiatan Serviam Service bagian kunjungan adalah mengunjungi guru-guru pensiun yang pernah mengabdi di SMP Santa Ursula. Kami terbagi menjadi 3 kelompok dan masing-masing beranjangsana ke Ibu Betty (Guru Olah Raga), Ibu Yani (Guru Tata Boga) dan Ibu Singgih (psikolog)
Ketiga guru yang kami kunjungi menunjukkan perasaan bahagianya, beliau bercerita panjang lebar tentang aktivitasnya sehari-hari setelah pensiun. Juga memberikan kami nasihat. “Belajar tentang kebaikan tidak usah menunggu sampai lulus, memberikan sesuatu bagi orang lain, tidak akan membuat kita berkekurangan,” demikian Ibu Betty menyampaikan kepada kami. Ketiga guru tersebut juga menyampaikan kepada kami tentang pentingnya memiliki sikap tidak mudah putus asa dalam belajar, apalagi sekarang fasilitas sekolah sudah semakin baik

Bagian terakhir adalah di perpustakaan. Kami membersihkan buku, menyampuli buku-buku yang sudah rusak sampulnya, membersihkan rak buku, CD/DVD, serta alat-alat komputer yang ada di perpustakaan.
Ini merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi kami untuk dapat mengunjungi saudara – saudara kami dan melayani mereka. Meskipun tidak banyak yang dapat kami lakukan, kami sangat bersyukur dapat diberikan kesempatan ini. Kami senang bisa bermain dan belajar bersama anak TK dan SD, bertukar pikiran dengan Suster dan guru-guru, serta mendapatkan pengalaman baru lewat Serviam Service. Kami belajar banyak mulai dari belajar berinteraksi dengan orang baru, sabar dan bertanggung jawab. Kegiatan yang sungguh dapat mempersatukan kami melalui kerjasama dan interaksi.
Kresentia Vanessa Gumulia (Siswi SMP Santa Ursula Kelas IX)
SOLO, SERVIAMNEWS.com– Judul di atas merupakan tema workshop yang diselenggarakan oleh Yayasan Winayabhakti Surakarta pada tanggal 17-18 Desember 2018. Bertempat di Auditorium Kampus Regina Pacis Surakarta, guru dan karyawan SMP-SMA Regina Pacis Surakarta mengikuti kegiatan yang dipandu oleh Joko Prasetyo dari Spiritindo Training & HR Management Consultant. Workshop yang digelar di penghujung semester gasal ini dimulai pada pukul 07.30 dan berakhir pada pukul 14.00 per harinya.

Sekolah Katolik dikenal sebagai institusi pendidikan yang dikenal memiliki ciri khas yang sangat kuat. Selain unggul dalam bidang akademis, sekolah Katolik dikenal mampu mendidik peserta didik menjadi pribadi yang berkarakter. Tidak mengherankan apabila sekolah Katolik menjadi rujukan utama masyarakat dalam menyekolahkan anaknya.
Namun seiring perkembangan zaman, banyak dijumpai pasang surut jumlah siswa baru di beberapa sekolah Katolik. Hal ini menjadi bahan refleksi terhadap diri sendiri. Tentu saja terdapat hal yang dipandang kurang maksimal dari sekolah Katolik di era terkini sehingga masyarakat tidak menjadikan setiap sekolah Katolik sebagai primadona di mata mereka. Berpijak dari paradigma tersebut, perubahan ke arah yang lebih baik wajib dilaksanakan dimana hal tersebut dimulai dari pihak internal sekolah sendiri.
Perubahan menjadi hal yang tidak dapat dipungkiri terjadi. Kemajuan zaman harus sejalan dengan kemauan pihak sekolah untuk berubah menyesuaikan diri dengan keadaan yang riil. Setiap hal di dunia selalu berubah kecuali prinsip. Prinsip yang kuat akan menentukan eksistensi dan kemajuan yang dicapai oleh sekolah.
Joko Prasetyo selaku pembicara menekankan bahwa memulai perubahan memang tidak mudah. Konsisten dalam melaksanakan hal yang baru juga tidak mudah. Namun apabila sedari awal didasari dengan niat dan tekad yang kuat serta berpegang teguh pada prinsip yang tertulis dalam Alkitab maka tidak ada hal yang mustahil dicapai. Dalam hal ini pembicara memiliki prinsip bernama PDCA yang merupakan singkatan dari Plan, Do, Check, Act. Dedikasi juga menjadi poin penting dalam unsur perubahan positif yang tidak dapat dipandang remeh.

Pada hari pertama workshop, pembicara menekankan poin mengenai pentingnya perubahan dilakukan sesegera mungkin. Selain sesi materi, kegiatan juga diselingi dengan diskusi kelompok untuk membahas visi sekolah. Pada hari kedua, kegiatan diawali dengan presentasi hasil diskusi kelompok dimana SMP Regina Pacis Surakarta diwakili oleh Maria Monika Wahyu Utami, M.Pd. sedangkan SMA Regina Pacis Surakarta diwakili oleh Maria Budi Priyarti, M.Pd. Hal yang ditekankan oleh pembicara di hari kedua menyangkut etos kerja.
Setiap insan di institusi pendidikan baik kepala yayasan, kepala sekolah, guru, karyawan, hingga satpam wajib mengedepankan aspek profesional guna menghadirkan kinerja yang maksimal. Profesional dalam hal ini mencakup lima hal yakni bertanggung jawab, fokus pada kualitas, memiliki keinginan berprestasi tinggi, fokus memberi kontribusi atau manfaat, serta bertindak sesuai etika dan norma atau aturan yang berlaku.
Workshop yang diselenggarakan dalam nuansa serius namun santai ini disertai dengan sesi tanya jawab dan ice breaking. Dalam sesi ice breaking, guru-guru SMP dan SMA Regina Pacis Surakarta menyumbangkan suara untuk bernyanyi bersama. Tidak ketinggalan pula Suster Veronica Sri Andayani, OSU turut memeriahkan acara dengan memimpin para peserta workshop untuk berjoget bersama dengan iringan musik pop – campur sari-dangdut.

Workshop di penutup tahun 2018 ini memberikan banyak pencerahan dan motivasi tambahan bagi para guru dan karyawan. Siraman materi dari pembicara menguatkan tekad dan prinsip yang dimiliki. Diharapkan dorongan moral yang didapatkan dalam dua hari tersebut mampu memperteguh semangat para guru dan karyawan dalam berkarya dan mendidik generasi muda.
Christianto Dedy Setyawan, S.Pd (Guru SMA Regina Pacis Solo)
Kapitel Provinsi Suster Ursulin adalah sidang umum yang dihadiri oleh para suster utusan yang dipilih oleh semua komunitas Suster Ursulin di Indonesia. Kapitel Provinsi membicarakan secara mendalam hal-hal penting hasil refleksi hidup dan pelayanan para Suster. Tema Kapitel tahun 2019 adalah “Komunitas Global bergerak menuju Hidup Baru”. Para Suster membuka hati dan budi menjawab kebutuhan zaman seturut bimbingan Roh Kudus.
“Jika karena kebutuhan zaman dan keadaan perlu untuk membuat peraturan baru atau merubah sesuatu. Lakukan hal itu dengan kebijaksanaan setelah mendengar nasehat yang baik.” (Warisan Terakhir Santa Angela Merici)
Hasil Kapitel Provinsi dibawa ke Kapitel Umum di Roma yang akan diadakan pada Tahun 2019. Marilah kita mendukung dengan doa semoga SOLI DEO GLORIA semakin terwujud nyata. Semuanya demi Kemuliaan Tuhan dan keselamatan jiwa-jiwa.
JAKARTA, SERVIAMNEWS.com- Santo Vincentius Jakarta menutup semester satu tahun ajaran 2018/2019 dengan mengadakan kegiatan bersama bertajuk “Vincentius Melukis” pada Sabtu 8 Desember 2018. Setelah sukses menggelar Vincentius Menari pada tahun 2016 dan Vincentius Menyanyi pada 2017, tahun ini melukis adalah talenta yang ingin dikembangkan.


Konsep acara adalah family gathering dengan mengadakan lomba melukis untuk para siswa bersama orang tua berkolaborasi pada media tas kanvas. Lomba diadakan untuk semua kelas dari KB/TK sampai SMP dengan tema “Cinta Tanah Air “. Lewat lomba ini diharapkan minat dan bakat melukis pada para siswa dapat berkembang selain untuk memupuk rasa cinta tanah air dan menanamkan penghargaan pada kemajemukan Indonesia. Lomba ini juga diharapkan mampu mempererat hubungan dan kerjasama dalam keluarga.


Sabtu pagi pukul 06.30 WIB para siswa bersama orang tua sudah mulai berdatangan. Mereka disambut alunan gamelan dari kelompok ekstrakurikuler Gamelan SMP Santo Vincentius. Kelompok Karawitan Laras Pinem ini membawakan gendhing Kebo Giro, Suwe Ora Jamu dan Gugur Gunung. Pukul 07.45 WIB acara opening dimulai yang diisi berbagai penampilan seperti tarian TK dan SD serta drama musikal dari ekstrakurikuler drama SMP.


Para orang tua pun tidak mau kalah. Para ibu, orang tua murid dari SMP, menampilkan Modern Dance yang juga mendapat sambutan meriah. Perlombaan dibuka oleh pengawas SMP Bapak Drs. M Hupni, M.Pd didampingi pengawas TK dan para kepala sekolah. Sebanyak lebih dari 900 siswa mengikuti lomba yang berlangsung selama 2 jam ini. Bersama orang tua mereka tekun menyelesaikan lukisan menggunakan peralatan yang sudah disiapkan panitia.


Pengumuman pemenang disampaikan pada acara closing yang dimulai sekitar pukul 11.30 WIB. Didahului penampilan dari Modern Dance SD dilanjutkan dari orang tua TK dan band dari SMP. Dari masing-masing kelas diambil tiga pemenang, juara satu, dua, dan tiga. Akhirnya kegembiraan hari itu ditutup dengan Flashmob menari bersama siswa TK, SD, SMP, orang tua dan panitia.
Rini Angela
BANDUNG, SERVIAMNEWS.com- Since middle 2017, St. Angela Elementary School has a Christian Meditation Program for all students and teachers. Every morning, we do meditation to start the day. One teacher leads the meditation from central announcements. Teachers and students do meditation in their class, sometimes in the schoolyard. Before meditation, the teacher ask children to do stretching and become conscious about their body, mind, and everything in surround. After that, they begin meditation with short prayer, “Lord, thank you”. The meditation about 10 minutes, and then they continue with a daily prayer that is led by one student.

The meditation is not an instant program, so, the benefits from this program may not come quickly like the other program like Art, sport, language, etc. But we believe that this program has benefit for children and the teachers. Just for an example, a few benefits we get from this program are children know how to take a short time to a deep breath to become calm if they feel angry, and they can do this easier than before. They feel more confident when faced the trouble or exam after meditation. They know how to do self-control.



SUKABUMI, SERVIAMNEWS.com- Jurnalistik merupakan salah satu ekstrakurikuler di SD dan SMP Yuwati Bhakti. Acara Open House dimanfaatkan sebagai salah satu media pembelajaran peserta ekstrakurikuler. Dengan terjun langsung meliput acara, kami diharapkan memiliki pengalaman mengamati, mencari tahu, memotret, dan menyusun laporan menjadi sebuah berita yang dapat dikonsumsi pembaca. Kami bekerja berdua-dua meliput acara Open House.

Cheril dan Ayumi, anggota ekstrakurikuler SMP Yuwati Bhakti bertugas meliput lomba story telling. Lomba diadakan dengan tujuan memperkenalkan kegiatan pembelajaran dan fasilitas pendukung pembelajaran TB-TK, SD, dan SMP Yuwati Bhakti kepada masyarakat Kota Sukabumi dan sekitarnya.
Dalam proses belajar meliput, kami berhasil mewawancarai beberapa peserta lomba story telling, yaitu Leandra Farren Lunara dari SDK BPK Penabur. Menurut penuturannya, ia mengaku sedikit gugup dan nervous karena baru pertama kali mengikuti lomba story telling. Rizky yang berasal dari SDN Suryakencana mengungkapkan bahwa ia senang karena kesempatan ini adalah pertama kalinya dia mengikuti lomba story telling. Rizky merasa yakin bisa memenangkan lomba ini.
Sedangkan, lomba MIPA diliput oleh Ayu, jurnalis cilik SMP Yuwati Bhakti. Lomba MIPA dilaksanakan pada tanggal 18 Oktober 2018 di Laboratorium Biologi SMP Yuwati Bhakti. Lomba juga memperkenalkan pembelajaran komputer (CBT), latihan mengerjakan soal ujian sekolah berbasis komputer, UNBK dan fasilitas pembelajaran komputer atau Mata Pelajaran Prakarya berbasis IT Preneur SMP Yuwati Bhakti. Adapun prakarya berbasis IT ini menghasilkan produk seperti pin, mug, kaos, id card, yang dapat dipesan dan dicetak selama Open House.
Reynaldi yang bangga menjadi jurnalis cilik SMP Yuwati Bhakti berusaha meliput lomba senam yang dilaksanakan di lapangan voli. Di sela-sela menyaksikan lomba, Rey berhasil mewawancarai peserta lomba. Ternyata mereka sangat mempersiapkan diri dengan berlatih keras dan menjaga kekompakan serta mempersiapkan kostum dengan baik. Lomba senam ini diadakan dengan tujuan agar banyak orang mengenal lingkungan, fasilitas, dan warga Kampus Yuwati Bhakti.

Sementara itu, Verena jurnalis cilik SD Yuwati Bhakti sangat senang memakai tanda pengenal jurnalistik di dadanya. Bersama kelompoknya, ia belajar meliput lomba yang dilaksanakan di TK Sukapirena dan SD Yuwati Bhakti, yaitu fashion show, mewarnai, dan menyusun puzzle. Fashion show diikuti oleh sekitar 140 peserta. Mereka berdandan cantik dan memakai baju casual yang menarik, lenggak-lenggok layaknya seorang peragawati profesional hingga para juri tersenyum dan terpana.
Kami juga meliput stan bazar sambil mencicipi makanan yang tersedia. Para pengunjung mulai memadati area bazar sejak hari pertama Open House. Stan makanan dan minuman yang berada di sekitar lapangan voli tak pernah sepi pengunjung, baik oleh peserta didik Kampus Yuwati Bhakti maupun pengunjung umum, termasuk alumni.
Kampus Yuwati Bhakti juga mengisi stan dengan memamerkan hasil karya peserta didik Yuwati Bhakti. Di stan ini, kita dapat melihat bahkan membeli hasil karya peserta didik, berupa lukisan, kalender, pin, dan gantungan kunci. Para pengunjung bazar dapat memesan pin dan gantungan kunci sesuai gambar atau tulisan yang dikehendaki. Untuk menghibur pengunjung, OSIS SMP Yuwati Bhakti juga menyediakan bioskop mini yang selalu ramai oleh pengunjung.
Cheryl, Ayumi dan Reynaldy Jurnalis SMP Yuwati Bhakti dan Verena jurnalis SD Yuwati Bhakti