MADIUN, SERVIAMNEWS.com– Memperingati Hari Peduli Sampah Nasional, SD Santo Bernardus Madiun mengikuti peduli lingkungan pada acara Car Free Day di sepanjang Jalan Pahlawan, Madiun, Jawa Timur, Minggu, 24 Februari 2019. Acara diikuti oleh siswa-siswi kelas tiga sampai lima beserta orang tua murid SD Santo Bernardus Madiun.



Selain acara peduli lingkungan, para siswa-siswi juga mendaur ulang barang bekas atau barang tidak terpakai menjadi barang yang memiliki nilai jual. Kegiatan ini tentunya semakin menambah daya kreativitas yang dimiliki siswa-siswi SD Santo Bernardus Madiun.
Dalam acara peduli lingkungan, para siswa-siswi menyampaikan pesan kepada orang-orang untuk tidak membuang sampah sembarangan dan mengurangi penggunaan plastik serta kantong kresek hitam. Dalam aksinya, para siswa-siswi menggunakan ember bekas sebagai wadah atau tempat untuk mengumpulkan sampah-sampah yang berada di jalan.



Aprianita Ganadi
Dewasa ini, banyak sekolah yang berusaha meningkatkan kualitas pendidikan dengan pembenahan dari berbagai sektor diantaranya proses pembelajaran yang diberikan kepada siswa. Saat ini, proses pembelajaran yang dilakukan berorientasi pada siswa, sedangkan guru hanya bertindak sebagai fasilitator. Sejatinya, guru tidak hanya berorientasi pada pemberian materi kepada siswa saja, karena itu hanya akan membuat pembelajan menjadi membosankan.
Ketertarikan siswa pada pelajaran akan membantu siswa untuk lebih mudah memahami materi yang dipelajari. Selain itu, pembelajaran diharapkan tidak hanya menekankan pada penilaian kognitif melainkan juga pengembangan afektif dan psikomotorik siswa. Untuk itu, guru harus dapat mengembangkan model pembelajaran yang digunakan di kelas.
Mata pelajaran Kimia merupakan mata pelajaran wajib bagi siswa yang mengambil jurusan IPA. Seringkali, siswa mengalami kesulitan dalam mengikuti pembelajaran Kimia. Siswa beranggapan pelajaran Kimia terlalu sulit dan kadang membosankan jika dihadapkan pada teori. Mengapa siswa menganggap Kimia itu sulit?
Hal ini, disebabkan karena siswa tidak memahami substansi materinya, bagaimana menghubungkan antara apa yang dipelajari dengan kehidupan nyata, bagaimana memanfaatkan pengetahuan untuk menunjang kehidupan. Salah satu materi esensial yang diberikan di SMA adalah materi Koloid, pada materi ini siswa tidak sekedar menghafal tetapi siswa dituntut untuk memahami materi tersebut secara mendalam dan mengkaitkannya dalam kehidupan sehari – hari.
Hal ini lah yang mendorong guru menggunakan model pembelajaran yang menarik dan bermakna bagi siswa sehingga siswa dapat memahami materi dengan baik. Model pembelajaran yang diterapkan untuk mempelajari materi Koloid di SMA Santa Ursula, Jakarta khususnya siswa kelas XI IPA adalah model pembelajaran “Joyfull Learning”berbasis proyek. Mengapa menggunakan model tersebut?
Model pembelajaran Joyfull Learning merupakan strategi pembelajaran untuk mengembangkan keterampilan proses sains dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Selain itu, siswa dituntut lebih aktif yaitu belajar sambil bekerja (learning by doing). Konsep Joyfull Learning juga menerapkan pembelajaran kontekstual yaitu mengaitkan bahan subyek yang dipelajari dengan situasi dunia yang sebenarnya. Dengan demikian model ini mengakomodasi rasa ingin tahu siswa, sehingga siswa dapat menemukan sendiri pengetahuan baru melalui proyek- proyek yang dikerjakan secara berkelompok.
Penerapan model Joyfull Learning berbasis proyek pada materi Koloid di SMA Santa Ursula khususnya siswa kelas XI IPA, dimulai dengan tahap perencanaan proyek dimana tiap kelompok menemukan ide sendiri untuk membuat suatu produk. Pada perencanaan proyek ini, ketrampilan proses sains yang dapat dikembangkan siswa diantaranya mengemukakan ide, berinovasi, mengumpulkan sumber belajar, dan menentukan strategi untuk kelompok dalam menyelesaikan proyek.

Tahap ini bertujuan menumbuhkan motivasi belajar dan membaca teori pada materi Koloid. Tahap berikutnya adalah pelaksanaan proyek, pada tahap ini tiap kelompok menyusun proposal penelitian mengenai proyek yang akan dibuat. Keterampilan proses sains yang didapat antara lain siswa dapat menyusun poposal penelitian ilmiah dengan baik, menyusun jadwal penelitian, merencanakan percobaan dan mampu memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam kelompok.
Tahap berikutnya adalah pelaksanaan proyek, melalui tahap ini peran guru sebagai fasilitator. Guru harus membimbing siswa, jika siswa mengalami kesulitan dalam pembuatan proyek. Melalui kegiatan eksperimen dapat menstimulus siswa untuk mengamati, memprediksi dan merencanakan percobaan serta menyimpulkan hasil percobaan. Pengalaman belajar yang didapat siswa pada tahap ini antara lain siswa dapat menganalisis mengenai jenis-jenis koloid maupun sifat-sifat koloid dari produk yang telah dibuat. Dengan demikian, melalui observasi tersebut siswa akan lebih mudah memahami daripada menghafal suatu materi.
Tahap selanjutnya pada pembelajaran Joyfull Learning adalah membuat pameran dari masing-masing produk yang telah dibuat oleh kelompok. Produk yang dihasilkan inovasi dalam bidang pangan diantaranya puding ubi ungu, keju mozarella, okra jelly, permen jelly, ramen jelly, dan masih banyak lagi. Selain produk makanan ada beberapa kelompok yang membuat produk kosmetik diantaranya lipstik strawbery dan lip ice. Siswa menampilkannya dalam bentuk poster dan pameran produk serta menjual produk tersebut kepada siswa lain. Pada proses ini dapat meningkatkan kinerja dan kemampuan komunikasi siswa dalam kelompok maupun dengan siswa kelas lain.
Dari hasil observasi dan refleksi jurnal siswa mengenai penerapan Joyfull Learning pada pembelajaran materi Koloid ini dapat disimpulkan bahwa siswa merespon dengan baik karena pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, Selain itu, pembelajaran bersifat edukatif karena siswa dapat memahami materi melalui eksperimen langsung dengan membuat produk koloid. Siswa juga diajak untuk lebih berinovasi, meningkatkan rasa ingin tahu sehingga siswa menjadi lebih kreatif, siswa mendapat pengetahuan baru, dan pembelajaran mejadi lebih bermakna.
Adapun kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan proses pembelajaran dengan model Joyfull Learning adalah waktu yang dibutuhkan cukup lama karena siswa harus melewati tahap-tahap yang ditentukan guru, akan tetapi kendala tersebut dapat diatasi dengan memanfaatkan jam istirahat untuk konsultasi maupun bimbingan kelompok. Pelaksanaan praktiknya juga bisa dilaksanakan pada jam pulang sekolah.
Dengan demikian, model pembelajaran Joyful Learning berbasis proyek dapat diterapkan untuk pembelajaran kimia khusunya pada materi koloid. Yang terpenting adalah guru harus mencari model dan strategi pembelajaran yang tepat untuk materi yang akan diajarkan. Sehingga nantinya tercipta bentuk variasi suasana pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan melibatkan siswa dalam proses pembelajaran itu sendiri
Anastasia Nurtanti (Guru Kimia SMA Santa Ursula Jakarta)
“Permulaan yang baik tidak cukup tanpa ketahanan. Maju dan bertekunlah sampai akhir” (Nasehat Santa Angela Merici)
Marilah kita berdoa bagi para pendidik yang mempersiapkan pelaksanaan ujian dan para murid yang akan menjalani Ujian Akhir Nasional tingkat SD, SMP, SMA, SMK di semua Kampus Pendidikan Ursulin Indonesia.
☩ Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus , amin
Tuhan Bapa yang Maha Kasih,
Kami berhimpun memohon pendampingan-Mu bagi para pendidik yang mempersiapkan pelaksanaan ujian dan setiap murid yang akan menghadapi Ujian Akhir Nasional.
Bimbinglah mereka dengan Terang Roh Kudus-Mu.
Berkatilah setiap usaha,
Anugerahilah kesehatan, semangat dan ketekunan dalam seluruh proses dari awal hingga akhir.
Tuhan Engkaulah Andalan kami,
Engkaulah kekuatan, pada-Mu kami bersandar.
Amin.
☩ Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus , amin
KOTAMOBAGU, SERVIAMNEWS.com – Dalam rangkaian acara Hari Peduli Sampah Nasional, Senin, 25 Februari 2019, SMP Katolik Theodorus Kotamobagu menerima penghargaan Sekolah Adiwiyata tingkat Provinsi Sulawesi Utara. Penghargaan diserahkan oleh Wakil Walikota Kotamobagu Nayodo Kurniawan, SH pada Apel Korpi di Lapangan Boki Hontinimbang Kotamobagu.

Apa itu Sekolah Adiwiyata? Sekolah Adiwiyata adalah salah satu program Kementrian Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah sebagai upaya pelestarian lingkungan hidup. Dalam program ini, diharapkan setiap warga sekolah dapat ikut terlibat dalam kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat dan menghindarkan dampak lingkungan yang negatif.
Bapak Wakil Walikota berharap agar keberhasilan SMP Katolik Theodorus Kotamobagu dalam memperoleh juara pertama penghargaan sekolah Adiwiyata tingkat provinsi Sulawesi Utara dapat menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain untuk menciptakan budaya sehat.

Beberapa kegiatan mengenai lingkungan hidup telah dilakukan oleh SMP Katolik Theodorus Kotamobagu seperti mensosialisasikan hidup bersih, memperhatikan lingkungan kepada semua warga sekolah, menyediakan beberapa dispenser dan galon air minum, menugaskan semua warga sekolah untuk membawa botol minum. Tidak itu saja, para siswa juga membuat Green House dengan menanam dan memelihara sayur serta obat-obatan.
Selain itu, SMP Katolik Theodorus Kotamobagu juga membuat pengomposan sampah organik yang akan dijadikan pupuk, memberi nama tanaman dan pohon yang ada di lingkungan sekolah, menyediakan kantin sehat. Sekolah juga membentuk pengurus bank sampah, mereka bertugas mengumpulkan sampah lalu dijual setiap satu atau tiga bulan yang dananya akan digunakan untuk membantu proses kegiatan ekskul dan membudayakan lingkungan bersih serta sehat.

Sebelumnya, pada 23 Mei 2017, SMP Katolik Theodorus Kotamobagu mendapat penghargaan sebagai Sekolah Adiwiyata Terbaik pertama Tingkat Kota Kotamobagu yang diserahkan oleh Walikota Kota Kotamobagu Ir. Tatong Bara. Keluarga besar SMP Katolik Theodorus Kotamobagu berharap agar mendapat dukungan dari semua pihak untuk maju hingga tingkat nasional 2019. Tetap SERVIAM!!
Aprianita Ganadi
SURAKARTA, SERVIAMNEWS.com- Perkembangan zaman bergulir begitu cepat. Era berganti diikuti dengan berubahnya tantangan yang dihadapi. Di era terkini mulai lazim terdengar istilah Era 4.0. Suatu sebutan untuk menggambarkan dunia hari ini yang diwarnai dengan kecanggihan teknologi di berbagai lini kehidupan. Kehadiran robot, komputer yang canggih, hingga kendaraan tanpa mengemudi merupakan cerminan hal-hal yang mewarnai Era 4.0 atau yang disebut juga dengan nama Revolusi Industri 4.0.
Perubahan dari bentuk kehidupan ke arah yang serba canggih ini juga diwarnai dengan eksistensi uang virtual, transaksi digital, hingga pembelajaran jarak jauh yang semakin dioptimalkan. Guna menghadapi era tersebut dengan bijak, Yayasan Winaya Bhakti Surakarta menyelenggarakan Workshop Edukasi 4.0 di Auditorium Kampus Regina Pacis Surakarta dengan narasumber pemerhati dan praktisi pendidikan 4.0, Indra Charismiadji.

Diikuti oleh guru-guru SMP dan SMA Regina Pacis Surakarta, workshop yang digelar pada Selasa, 19 Februari 2019 tersebut menawarkan sesuatu yang unik di hari-hari sebelum penyelenggaraan workshop. Peserta workshop terlebih dahulu bergabung ke dalam grup Facebook Edukasi 4.0 untuk memulai diskusi terlebih dahulu. Setiap guru wajib membentuk kelompok yang terdiri dari 4 orang dimana tidak diperkenankan terdapat guru dengan mata pelajaran sama dalam satu kelompok.
Indra Charismiadji memberikan pilihan tema untuk didiskusikan masing-masing kelompok. Tema tersebut meliputi Revolusi Industri 4.0, Higher Order Thinking Skills (HOTS), Keterampilan Abad 21, Teknologi dalam Pendidikan, STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, dan Mathematics) Education, serta Sekolah Negeri, Sekolah Satuan Pendidikan Kerjasama, dan Kebijakan Pemerintah Indonesia tentang Pendidikan. Di dalam grup Facebook selanjutnya muncul soal-soal terkait tema yang dipilih dan soal tersebut harus diselesaikan sebelum workshop dimulai.
Dalam workshop, narasumber menjelaskan perkembangan kehidupan di dunia dari era 1.0 hingga 4.0 beserta aneka problematika yang dihadapi oleh manusia di zaman tersebut. Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri, begitu pula cara menghadapinya. Pemberian tugas dengan cara berdiskusi di grup Facebook merupakan salah satu contoh menggunakan media sosial sebagai sarana bertukar pikiran secara konstruktif. Paradigma modern di era 4.0 wajib diimbangi dengan kecepatan guru untuk “menyelami” segala hal yang berhubungan dengan 4.0 agar tidak kaget dengan aneka perubahan yang terjadi. Di tengah-tengah workshop, narasumber juga menjabarkan fakta-fakta menarik seputar era 4.0 yang harus diketahui oleh para pendidik.

Jalannya kegiatan workshop diwarnai dengan berdiskusi antar kelompok kecil guna membahas topik yang dilemparkan oleh narasumber. Materi Edukasi 4.0 dibawakan secara interaktif. Beberapa kali narasumber memberikan kesempatan kepada guru untuk memberikan tanggapannya seputar pengalamannya hingga keingintahuannya terhadap Edukasi 4.0 Para guru dikondisikan dalam situasi siap berpikir.
Hal ini juga berlaku seusai workshop selesai digelar, dimana dalam grup Facebook juga didapati tugas-tugas dari narasumber untuk dikerjakan. Workshop Edukasi 4.0 ini diharapkan mampu menjadi bekal bagi guru-guru SMP dan SMA Regina Pacis Surakarta dalam mengarungi dunia milenial yang telah sangat berkembang ini.
Christianto Dedy Setyawan, S.Pd (Guru SMA Regina Pacis Surakarta)
JAKARTA, SERVIAMNEWS.com– Warna- warni balon seketika terbang ke udara setelah Suster Maria D. Sasmita, OSU Kepala Biara Santa Maria Juanda memotong tali-tali pengikatnya. Bersamaan dengan itu tersingkaplah Papan Nama baru Museum Santa Maria bernuansa oranye pertanda acara Open House Museum dimulai. Perayaan syukur ulang tahun Sewindu Museum Santa Maria Jakarta Rabu 06/2/2019 ditandai dengan pemasangan dan peresmian papan nama Museum Santa Maria dan kegiatan Lomba Fotografi untuk segala umur. Tujuannya tidak lain adalah supaya makin banyak masyarakat mengetahui bahwa di dalam kompleks sekolah-biara Santa Maria terdapat “living heritage”.

Para tamu yang hadir sekitar 50 orang memenuhi Hall mungil. Sebagian adalah para suster dari berbagai komunitas, para undangan dari sekolah-sekolah, para pemerhati museum dan sponsor datang untuk ikut menyaksikan serta mengenal lebih dekat Museum St Maria. Lalu dilanjutkan dengan doa dan pemotongan tumpeng sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan, atas perjalanan delapan tahun (2011-2019) Museum Santa Maria. Ibu Gina Sutono, mewakili volunteer terlama dan Mr Scott Merillees pemerhati kota Batavia/Jakarta yang pertama kali konfirmasi hadir, menerima potongan tumpengnya.
Acara dimeriahkan oleh permainan piano persembahan Sir Harry Darsono Phd. Panitia sempat kalang kabut karena permintaan mendadak untuk menyediakan piano. Namun akhirnya piano kuno yang sudah lama “fals” bunyinya, dapat digunakan untuk menghibur para tamu. Lagu pertama yang dimainkan dengan “ciamik” adalah ungkapan, bahwa Cinta adalah banyak hal yang indah :“Love is a many splendored thing”. Para tamu juga diajak untuk bernyanyi bersama lagu Indonesia Pusaka ciptaan Ismail Marzuki dengan penuh semangat.

Sekilas Perkembangan Museum
Seperti kita ketahui, Museum Santa Maria sendiri diprakarsai oleh Sr. Ingrid Widhiningsih, OSU yang saat itu menjadi Pemimpin Komunitas. Selama 1,5 tahun beliau mengumpulkan, membersihkan dan menata artefak yang berserakan, di kapel, kamar, ruang dalam biara dan di unit-unit sekolah. Ibu Gina Sutono membantu mengumpulkan koleksi dan menata artefak-artefak di ruang-ruang kosong waktu itu.
Museum Santa Maria resmi dibuka oleh Pastor Paroki Katedral Rm Bratakartana, SJ pada 6 Februari 2011 usai misa di kapel. Selama tahun 2011-2015 Museum dibuka dan dikunjungi pada hari-hari tertentu saja seperti ketika ada MOS siswa/i baru dan Sabtu-Minggu oleh umat sekitar dan sekolah-sekolah Ursulin.
Setelah Suster Ingrid diutus ke Komunitas Theresia medio 2015, pengelolaan Museum Santa Maria dilanjutkan oleh Suster Lucia yang sebelumnya juga ikut membantu mengurus museum. Dimulailah pendataan artefak secara digital yang dibantu oleh para volunteer dan fotografer Senior Kompas Arbain Rambey.
Tahun Yubelium Kerahiman 2016, selain Kapel, Museum Santa Maria juga banyak dikunjungi umat KAJ. Sejak saat itu, Museum Santa Maria dibuka untuk umum menyesuaikan dengan Museum Katedral dengan jadwal buka tiga kali dalam seminggu: Senin-Rabu-Jumat; karena sering kali umat yang datang ke Museum Santa Maria, juga mengunjungi Museum Katedral dan sebaliknya. Pada tahun itu pula, Museum Santa Maria, mulai tercatat dan aktif mengikuti program yang diselenggarakan oleh AMIDA (Asosiasi Museum Daerah) Paramita Jaya, Jakarta.
Setelah dibuka untuk umum, banyak orang tertarik dan ingin tahu seperti apakah Museum Santa Maria tersebut. Maka pada Juli 2017 Museum Santa Maria selain terus membuat brosur dan booklet, juga membuat blog sebagai sarana publikasi kegiatan dengan alamat http:// museumsantamariajuanda.blogspot.co.id dilanjutkan fanspage dan Instagram (IG).

Pada 19-22 April 2018. Museum Santa Maria untuk pertama-kalinya mengikuti Pameran Museum Bersama Se-Indonesia ke-VI, dalam rangka HUT TMII ke-43 yang bertemakan: “Peran Perempuan Indonesia” di Sasana Kriya-TMII. Museum Santa Maria bergabung bersama museum-museum di seluruh Indonesia, berpameran bersama.
Untuk lebih meningkatkan pelayanannya, mulai Oktober 2018 Museum Santa Maria dibuka setiap hari kerja dari jam 08.00 – 14.00, sementara untuk Minggu dan Hari Libur nasional dengan perjanjian. Jumlah pengunjung museum bervariasi, di tahun 2016 karena bertepatan dengan perayaan Yubileum maka pengunjung mencapai hampir 4.000 orang. Sementara di tahun 2017 sebanyak 1.455 orang dan 2018 sebanyak 1.405 orang. Sedangkan di tahun 2019 di bulan Februari sampai berita ini ditulis pengunjung tercatat sebanyak 400 orang.
Museum Santa Maria masih termasuk karya baru dari Suster Ursulin Uni Roma, Provinsi Indonesia, sehingga pengelolaanya masih termasuk bagian dari biara. Museum ini menempati bagian depan dari bangunan paling awal. Organisasinya masih sederhana, dengan satu penanggung jawab, satu karyawan dan beberapa volunteer.
Karya baru ini memiliki banyak tantangan, terutama fungsi dan kondisi gedung lama yang perlu direvitalisasi, perlunya konservasi berbagai macam artifak, selain Kompetensi pengelola yang masih terbatas. Namun dengan bergabungnya Museum Santa Maria dengan AMI (Asosiasi Museum Indonesia)– DKI Paramita Jaya yang setiap bulan mengadakan pertemuan, Museum terus belajar dan berbenah, untuk meningkatkan pelayanan, penyajian dan pemeliharaan.***
MUSEUM SANTA MARIA JUANDA
MADIUN, SERVIAMNEWS.com– Kampus Santo Bernardus, Madiun, Jawa Timur mengadakan Pentas Seni di Suncity Mall, Sabtu-Minggu, 16-17 Februari 2019. Turut hadir menyaksikan acara yaitu para Suster Ursulin, Guru, Karyawan, dan orang tua para siswa Kampus Santo Bernardus.



Pentas seni menampilkan barongsai, dance, tari, pameran foto & lukisan, band, kulintang, angklung, paduan suara, dan dongeng. Penampilan tim barongsai Kampus Santo Bernardus sangat memukai para penonton yang hadir. Tidak ketinggalan pula, penampilan adik-adik TK- SD Kampus Santo Bernardus yang semakin memeriahkan dan menyemarakkan acara.



Aprianita Ganadi
SUKABUMI, SERVIAMNEWS.com- Pada Kamis-Sabtu, 7-9 Februari 2019 para Suster Ursulin, bapak, dan ibu guru Kepala Satuan Pendidikan dari Kampus Regio DKI Jakarta dan Jawa Barat mengikuti School Leadership Essential Course (SLEC) Pelatihan Kepemimpinan Tahap III di Kampus Yuwati Bhakti, Sukabumi, Jawa barat. Pelatihan yang menggandeng International Test Center (ITC) ini merupakan rangkaian lanjutan dari kegiatan SLEC Tahap II yang telah dilaksanakan sebelumnya pada tahun 2018.


Pelatihan membahas tiga topik utama yaitu Financial Literacy, Language Literacy, dan Digital Literacy. Materi Financial Literacy dibawakan oleh Jenny Lee & Victor Chan, Language Literacy dibawakan oleh Hafilia R. Ismanto, dan materi Digital Literacy dibawakan oleh Tonny Arbianto.


Dalam sambutannya, Ibu Jenny menuturkan bahwa kekuatan literasi bukan hanya sekadar membaca dan menulis, tetapi bagaimana kapasitas kita dalam mengimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. “Agar kita bisa nyambung berkomunikasi dalam era kekiniaan, maka dibutuhkan ketiga literasi tersebut. Literasi akan sangat banyak membantu kita, jadi jangan khawatir jika kita tidak bisa memahami ketiga bidang tersebut, karena kita dapat pelajari bersama-sama,” kata Ibu Jenny.


Seusai pemaparan mengenai ketiga literasi tersebut, setiap peserta berkumpul bersama sesuai Yayasan atau kampus masing-masing. Peserta menulis kegiatan atau aksi nyata mengenai Financial Literacy, Language Literacy, dan Digital Literacy yang harus segera dilaksananan di kampus masing-masing. Di akhir acara, beberapa suster dan peserta mengungkapkan testimoni singkatnya. Acara lalu ditutup dengan pembagian sertifikat.
Aprianita Ganadi
SUKABUMI, SERVIAMNEWS.com- Para Suster Ursulin, bapak, dan ibu guru Kepala Satuan Pendidikan dari Kampus Regio DKI Jakarta dan Jawa Barat hadir mengikuti acara Higher Order Thingking Skills (HOTS) dan School Leadership Essential Course Pelatihan Kepemimpinan tahap III di Kampus Yuwati Bhakti, Sukabumi, Jawa Barat, Rabu-Jumat, 6-9 Februari 2019. Pada hari pertama, hadir sebagai pembicara yaitu Ibu Itje Chodidjah dari Anggota Badan Akreditasi Nasional. Turut hadir pula dalam acara yaitu Provinsial Ursulin Indonesia Sr. Agatha Linda Chandra, OSU.


Acara dibuka secara resmi oleh Ketua I Pusat Yayasan Pendidikan Ursulin (PYPU), Sr. Ferdinanda Ngao, OSU. Dalam sambutannya, Sr. Ferdinanda, OSU mengucapkan terima kasih atas kehadiran para suster, bapak, dan ibu guru untuk hadir dalam acara ini. “Ibu Itje bukan narasumber asing bagi kami, Ibu Itje akan membawa kita pada pemahaman dalam dan benar tentang HOTS,” kata Sr. Ferdinanda, OSU.



Sementara itu, pada hari kedua dan ketiga kami akan menghadirkan pembicara dari International Test Center (ITC), yang akan membahas mengenai literasi bahasa, literasi digital, dan literasi finansial. “Sebagai pelaku pendidikan kita wajib mengerti dan memahami ketiga literasi tersebut. HOTS akan mendasari kita untuk mempelajari lebih dalam mengenai ketiga literasi itu,” ungkap Sr. Ferdinanda, OSU.
Aprianita Ganadi
SURAKARTA, SERVIAMNEWS.com – Pada Sabtu, 26 Januari 2019, hari terasa berbeda di SMA Regina Pacis Surakarta. Keramaian mulai terlihat di gerbang sekolah kala menjelang sore. Mendung yang bergelayut di hamparan awan sedari pagi tidak mengurangi aura optimisme di lingkungan sekolah. Kemeriahan, kegembiraan, dan sukacita memancar di Auditorium Kampus Regina Pacis. Ketika jarum jam menunjukkan angka 17.45 WIB, konser musik bertema “Sounds of The Journey” pun dimulai.


Berbeda dengan tahun sebelumnya, di tahun ini SMA Regina Pacis Surakarta menyelenggarakan konser musik dalam rangka peringatan hari Santa Angela Merici. Kegiatan tersebut juga dilaksanakan untuk memfasilitasi kemampuan siswa-siswi dalam hal kesenian, desain, koreografi, fotografi, dan teknologi informasi. Sounds of The Journey merupakan konser yang berbasis siswa sebagai nyawa utamanya. Hal ini dibuktikan dengan jumlah siswa yang berpartisipasi mencapai 400 personel. Para siswa menyiapkan konser ini dengan matang sejak berbulan-bulan sebelumnya. Agenda besar tersebut diapresiasi penonton dengan baik. Tercatat tidak kurang dari 700 penonton memenuhi arena konser untuk menyaksikan konser ini.
Acara konser diawali dengan pra pembukaan melalui penampilan Tari Kukilo yang dipersembahkan dengan apik oleh siswa SMP Regina Pacis Surakarta sebelum dibuka oleh Kepala SMA Regina Pacis Surakarta, Maria Budi Priyarti, M.Pd. Beliau menyampaikan bahwa perhelatan musik tersebut dipersembahkan untuk mengenang perjuangan karya Suster Ursulin di berbagai daerah negeri ini. Harapannya adalah perjuangan para Suster Ursulin mampu menginspirasi anak muda masa kini dalam berkarya. Kisah perjalanan Suster Ursulin tersebut disampaikan kepada para penonton dalam bentuk puisi, musik, hingga drama yang disajikan secara berkesinambungan dengan tata lampu dan suara yang menawan.


Unsur keberagaman yang berbaur dalam harmonisasi tergambar ketika di awal konser para siswa menyanyikan lagu Zamrud Khatulistiwa. Konser berlanjut dengan adegan tujuh Suster dari Belanda yang datang ke Indonesia. ‘Kisah tersebut diwujud nyatakan dalam rangkaian lagu dan dialog yang menggambarkan daerah Batavia, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Kotamobago, hingga Papua. Potret kehidupan masyarakat Batavia di atas panggung dihiasi dengan penampilan para siswa menyanyikan tembang Kicir-Kicir. Hal serupa disajikan ketika adegan berpindah ke wilayah berikutnya seperti Jawa Barat (Bubuy Bulan), Jawa Tengah (Gundul-gundul Pacul), Jawa Timur (Rek Ayo Rek), Kalimantan Barat (Ampar-Ampar Pisang), Nusa Tenggara Timur (Potong Bebek Angsa), dan Papua (Yamko Rambe Yamko).


Sounds of The Journey dikemas sebagai ajang berkesenian para siswa dengan keragaman tampilan yang relatif lengkap. Secara keseluruhan konser yang berlangsung selama sekitar 2,5 jam tersebut menampilkan tari tradisional, choir, vocal group, solo vocal, modern dance, angklung, kulintang, ansamble gitar, musik kontemporer, hingga fashion show. Dalam acara ini, tampil pula Elias Anwar, S.S (guru Pendidikan Agama Katolik) dan Cicilia Feniawati, S.Pd. yang berolah peran dalam sesi drama bersama para siswa. Penampilan jenaka kedua guru tersebut di atas panggung semakin menciptakan suasana penuh tawa ceria.


Konser diakhiri dengan aksi penutup yakni musik kontemporer dimana para siswa memainkan musik yang indah berbekal barang non instrumen musik konvensional seperti galon air mineral, botol minuman, hingga kentongan. Di puncak akhir acara, seluruh penampil acara naik ke atas panggung untuk bernyanyi, menari, serta melakukan flash mob bersama. Lantunan lagu “Jadilah Terang” dan “Mars Serviam” menjadi penutup malam yang sangat meriah tersebut.
Christianto Dedy Setyawan, S.Pd (Guru SMA Regina Pacis Surakarta)