Santa Ursula BSD http://www.sanurbsd-tng.sch.id/
Santa Ursula BSD Choir & Symphony Orchestra menggelar konser Natal bertajuk “A Gift For The King”. Konser Natal yang berlangsung meriah ini diadakan di Auditorium Kampus Santa Ursula BSD pada 18-19 Desember 2018.
Kongres Anak, Membentuk Generasi Sehat
SEBANYAK 184 anak hadir meramaikan suasana di kampus SD St. Angela, Atambua,
Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ya, mereka datang dalan kegiatan
kongres anak Sekolah Ursulin Se-NTT dan Timor Leste dalam acara “Serviam Camp”,
Kamis-Minggu, 18-21/10. Peserta kongres
terdiri dari 107 anak SD St. Angela-Atambua, 39 anak SD St. Ursula Baucau-Timor
Leste, 30 anak SD St. Ursula- Ende, dan 8 anak SDK St. Angela-Labuan Bajo.
Perjalanan jauh dilalui para peserta kongres. Mereka naik bus sekitar 7-8 jam dari Kupang menuju Atambua. Dalam perjalanan, beberapa anak mengalami pusing, mabuk, mual, dll. Meski begitu, tak menyurutkan antusias dan semangat anak-anak untuk mengikuti acara Serviam Camp.
Perjalanan jauh dan melelahkan juga dialami peserta kongres anak dari SD St. Ursula, Baucau-Timor Leste. Melalui jalur darat selama kurang lebih 6 jam, mereka melalui medan jalan yang cukup rusak dan berliku dari Baucau menuju kota Dili. Tidak sampai disitu saja, anak-anak juga melalui wilayah perbatasan antara Indonesia-Timor Leste.
Setibanya di Atambua, wajah anak-anak terlihat senang ketika berjumpa dan berkenalan dengan peserta kongres anak dari sekolah lain. Perjalanan jauh dan melelahkan terbayar dengan sambutan hangat dari para peserta dan panitia.
Pertama kali Diadakan
Kegiatan Serviam Camp diawali dengan Misa pembukaan yang dipimpin oleh Romo Epen Seran. Terlihat, para peserta membaur dibagi berdasarkan nama kampung yang berhubungan dengan Santa Angela seperti Desenzano, Le Greeze, Salo, dll. Saat Misa pembukaan, anak-anak menggunakan pakaian daerah dari wilayah tempat mereka tinggal.
Dalam homilinya, Romo Epen memberi apresiasi kepada peserta kongres anak yang hadir. Sejatinya, kegiatan seperti ini biasanya diadakan di tingkat SMP-SMA. Tetapi kali ini, diadakan di tingkat SD.
“Anak-anak sejak kecil sudah harus dibina rasa kebersamaan dan keberagamannya. Selama kongres, anak-anak harus melihat wajah teman lainnya sebagai wajah Kristus yang peduli dan melayani. Jangan lupa, untuk menampilkan semangat Santa Angela dalam kongres kali ini,” kata Romo Epen. Kebersamaan ini, lalu ditunjukkan anak-anak ketika menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia dan Timor Leste.
Sementara itu, ketua panitia, Sr. Kristina M. Nggoik, OSU, dalam sambutannya menturukan kongres anak Serviam Camp untuk Sekolah Ursulin di Pulau Jawa sudah sering diadakan. Tetapi, untuk wilayah se-NTT dan Timor Leste baru pertama kali diadakan. Persiapan dilakukan selama kurang lebih 1 tahun dengan susunan panitia gabungan dari berbagai sekolah.
“Selama kami berproses, kendala disana sini pasti ada. Tetapi seperti kata-kata Santa Angela, yakinklah dan dengan tekad bulat pada hari ini kami dapat menyaksikan karya Agung Tuhan. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga kami dapat melangkah dalam keterbatasan ini,” imbuh Sr. Kristin.
Hal senada juga diungkapkan Ketua I Pusat Yayasan Pendidikan Ursulin, Sr. Ferdinanda Ngao, OSU bahwa Serviam Camp di Pulau Jawa sudah diadakan sejak 2006. Lalu, mengapa di tingkat NTT dan Timor Leste baru pertama kali diadakan. “Para Suster Ursulin melihat jumlah siswa khususnya di NTT dan Timor Leste mulai berkembang. Kita hari ini, berkumpul sebagai satu keluarga Serviam,” tandas Sr. Ferdinanda.
Selain itu, lanjut Sr. Ferdinanda, tujuan diadakan kongres anak ini yaitu untuk membentuk generasi penerus Bangsa Indonesia dan Timor Leste. Generasi yang sehat secara moral dan spiritual. “Ke depan, kami berharap tidak ada lagi korupsi di Indonesia dan Timor Leste. Anak-anak SD Ursulin harus memiliki integritas dan keterampilan, Mereka harus cerdas, baik hati, tangan yang bisa bekerja, dan berbuat sesuatu,” tegas Sr. Ferdinanda.
Menanam Pohon & Pos Perbatasan
Pada keesokan harinya, dengan cuaca yang sangat panas, para peserta kongres menuju SMK Kelautan Kakuluk Mesak. Mereka menanam dengan berbagai jenis pohon yang dapat tumbuh dan berkembang di tengah cuaca panas. Nantinya, pohon harus dirawat oleh para guru dan siswa SMK Kelautan Kakuluk Mesak sehingga dapat tumbuh berkembang baik.
Setelah menanam pohon, para peserta
menuju pos perbatasan Indonesia-Timor Leste. Anak-anak sangat gembira karena
untuk pertama kalinya mereka mengunjungi pos perbatasan. Dengan penjagaan
ketat, anak-anak masuk hingga tugu selamat datang Timor Leste. Tidak
ketinggalan, para panitia menceritakan mengenai sejarah Indonesia – Timor
Leste. Dan penjelasan mengenai pos perbatasan Indonesia- Timor Leste.
Setelah itu, para peserta
melakukan kunjungan ke warga sekitar kampus St. Angela, Atambua. Mereka
membagikan sembako dan melakukan wawancara singkat. Salah satu rumah yang kami
kunjungi yaitu rumah Bapak Estevanus & Ibu Benedicta. “Terima kasih atas kunjungan anak-anak SD
Uruslin, pesan bapak kalian harus rajin belajar dan dengar nasehat orang tua,”
kata Bapak Estevanus yang sehari-harinya bekerja sebagai pemotong kayu ini.
Pada hari berikut, para peserta kongres melakukan debat dengan 3 tema besar yaitu pengaruh gadget, nonton tv, dan main game. Debat dilakukan di 2 ruangan terpisah karena peserta kongres harus menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Tetun. Debat berlangsung seru dan ramai.
Kongres ke-2 di Ende
Selama 3 hari berproses, para peserta kongres tiba di penghunjung rangkaian acara. Usai misa penutup, anak-anak menyalakan lilin dan pengalungan Rosario. Secara simbolis, dari tiap perwakilan sekolah menyerahkan pohon kelapa. Mereka juga membacakan dan menyatakan hasil kongres anak secara bersama-sama dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Tetun.
Diputuskan bahwa kongres anak dilakukan setiap dua tahun sekali. Dan pada 2020, kongres anak akan diadakan di SD St. Ursula- Ende. Acara kemudian diakhiri dengan lomba mars “Servite Et Amate”.
Di hari kepulangan, para peserta berpamitan dan banyak dari mereka yang menangis. Para guru dan panitia berusaha menenangkan peserta. Kegiatan diakhiri dengan foto bersama dan pulang ke tempat masing-masing. Aprianita Ganadi





Ursuline Schools flourish in big and small cities all over Indonesia. They grow in various cultures and challenges. Therefore in 2005, the education Commission of the Ursuline sisters in Indonesia organized “Serviam Camp” for Ursuline Elementary Schools students and “Youth Camp” for Junior and Senior Ursuline High Schools students. The goal of these programs is to encourage a spirit of togetherness (insieme) and pride as Ursuline students.
The first Ursuline Youth Camp 2005 held in Tawangmangu, Central Java. It was attended by 700 boys and girls from Indonesian Ursuline Junior and Senior High Schools. During the sharing season, participants of the Ursuline Youth Camp reflected on their experiences. The experiences that they told indicated that the program was very meaningful for them. They became more aware that they belonged to the big family for Ursuline students. They were very proud to be a part of Ursuline Schools and very happy to get to know fellow Ursuline students.
The joy of the first Ursuline You th Camp par ticipants prompted the Indonesian educators to invite students from Asia Pacific Ursuline Schools to join the next Youth camps. Finnaly, this idea was brought to the Asia Pacific Ursuline Education Conference in 2006 in Bandung. The idea was well-received. In 2007, the 1st International Ursuline Youth Camp was held in Gunung Geulis Resort, Bogor-West Java. Students and educators from Taiwan, Thailand, Japan, and Indonesia attended this program to celebrate our insieme spirit.
In 2015, the 2nd International Ursuline Youth Day was held in Solo-Central Java with “Keep the Love Burning” as the theme. In one of the activities, participants mingled with the local residents and people with disabilities and learned from them. They visited home industries nearby, the disabled rehabilitation center (“Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa”), visited blind families, and Thalassemia patients. From these activities, the could see firsthand how people had to struggle and survive in their lives. This experience led them to engage in deep reflection about their own lives.
This year, from 6 to 10 August 2018, the 3rd International Ursuline Youth Camp will be held in Gunung Geulis Camp Area, Sentul- West Java with “ Insieme in Diversity” as its theme. It Will be an event where each participant will celebrate the spirit of togetherness as Ursuline’s students and the diversity of our cultures. Th.Ang Le Tjien







Cinta Santa Theresia Untuk Indonesia .
Minggu, 25 Februari 2018, keluarga besar TK-SD SantaTheresia merayakan hari ulang tahun ke- 90. Sebagai ucapan syukur atas berkat penyertaan Tuhan terhadap karya pendidikan TK-SD Santa Theresia,kampus mengadakan Misa Syukur, Long March,dan Pagelaran Seni Budaya bertajuk “Cinta Santa Theresia Untuk Indonesia”.
Adapun tujuan acara perayaan 90 tahun TK-SD Santa Theresia yaitu agar kampus dapat dikenal luas oleh masyarakat khususnya di DKI Jakarta. Selain itu, kampus Santa Theresia dapat menjadi sekolah yang kreatif dan inovatif dengan menampilkan pagelaran seni di area car free day. Melalui pagelaran seni juga, kampus Santa Theresia ingin menanamkan kecintaan pada budaya, bangsa dan tanah air Indonesia kepada generasi muda.
Lewat perayaan ini, kampus Santa Theresia dapat mengembangkan sikap mandiri, disiplin, tekun, dan bertanggung jawab serta memiliki daya juang tinggi kepada seluruh peserta didik. Tidak itu saja, kampus Santa Theresia ingin menunjukkan bahwa mereka dapat membangun semangat kerjasama dalam tim. Dan dapat menghasilkan pemimpin yang berintegritas, bertanggung jawab, memiliki rasa cinta kepada Tuhan, sesama, serta lingkungan.
Tak terasa, pertumbuhan dan perkembangan TK- SD Santa Theresia mencapai usia 90 tahun di tahun 2017. Tepatnya pada tanggal 1 Juli 1927 dibukalah Sekolah Rakyat (SD) kemudian dilanjutkan dengan Taman Kanak-kanak (TK). Pertumbuhan dalam segala aspek secara perlahan terus berkembang sehingga menghasilkan lulusan yang siap mengikuti jenjang berikutnya. Pelayanan pendidikan yang diberikan disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan anak-anak gerenasi penerus bangsa. Semoga di usia yang semakin tua ini, TK-SD Santa Theresia dapat lebih memberikan pelayanan prima kepada seluruh masyarakat dan tetap berada di hati para orang tua khususnya di Jakarta.