By: ServiamAdminus

Comments: 0

BOGOR, SERVIAMNEWS.com– Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memilih Gugus Depan (Gudep) Santa Angela Atambua menjadi perwakilan dalam ajang “Lomba Gugus Depan Unggul dan Festival Penggalang Ceria Tingkat Nasional.  Kemudian terpilihlah 16 siswa-siswi yaitu 8 orang putra dan 8 orang putri tingkat Sekolah Dasar khususnya yang sudah berusia 11 tahun dan 3 orang guru pembina untuk mengikuti lomba di Grand Mulya Bogor Resort & Convention Hotel, Jawa Barat, Senin-Jumat, 9-13/9.

Ada 15 lomba yang yang diikuti mereka seperti lomba Peraturan Baris Berbaris (PBB), lomba ketangkasan, yel-yel, sandi morse, membuat tenda, bidik kompas, lomba membuat laporan investigasi, dan lain-lain. Pada malam kesenian, anak-anak memakai pakaian khas Belu, NTT, dengan menari Likuarai Belu dan Tebe. Dalam lomba kali ini, perwakilan NTT meraih juara 3 lomba keterampilan kompas atas nama Cahaya Gloriata Manbu dan Ester Wynona Silvester.

Pengalaman Pertama

Selama 5 hari, anak-anak ikut lomba dan berada di atas teriknya matahari. Meski begitu, tak menyurutkan semangat Christina Febiyola Mendonca atau yang akrab disaba Febi. Ia mewakili tim dalam salah satu lomba yaitu ketangkasan, Siswi kelas VI SD Santa Angela Atambua ini sangat senang dapat mewakili Provinsi NTT untuk ikut lomba ke Bogor.

“Ini pengalaman pertama saya. Sebelum ke sini, saya sudah latihan giat seperti latihan semapur, tali temali, latihan membuat gapura, latihan PBB. Kalah atau menang tidak apa-apa yang penting kami sudah berikan yang terbaik. Kami akan sharing cerita, ilmu, dan pengalaman kami dengan teman-teman lain di Santa Angela Atambua,” kata Febi.

Hal senada juga diungkapkan oleh Gabriella Queenta Aprilnia Christiani atau yang akrab disapa Queenta. Ini adalah pengalaman pertamanya ikut lomba ke Bogor. Ia senang dapat memiliki teman baru dari berbagai daerah. “Ini adalah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan,” kata siswi kelas VI A SD Santa Angela Atambua ini.

Selain para siswa-siswi, ada Guru Pendamping yaitu Ibu Linda Mesakh yang juga tiada henti-hentinya memberi semangat, dukungan, dan pelatihan kepada anak-anak. Sebelum pergi lomba ke Bogor, selama 2 minggu mereka sudah dilatih mengenai ketangkasan, PBB, kekompakan, dan disiplin.

Proses pemilihan peserta yang ikut lomba ke Bogor juga cukup cepat. Perwakilan dari Provinsi Pusat NTT mengadakan kunjungan dan berhadapan langsung dengan anak-anak. Mereka dipilih dengan proses seleksi, dilihat dari segi umur dan keterampilan. Saat proses seleksi berlangsung pun, anak-anak mampu melewatinya karena sejak kelas 4 mereka wajib mengikuti ekstrakurikuler pramuka.

“Selama berproses bersama anak-anak banyak suka dan duka yang saya alami, tetapi saya percayakan semua kepada Tuhan dan Bunda Angela. Banyak pengalaman dari sini, kami akan pulang membawa bekal dan ilmu untuk teman-teman di Santa Angela Atambua. Saya salut dengan antusias, semangat, rasa ingin tahu, dan tidak kenal lelah yang dimiliki anak-anak,” cerita Ibu Linda. 

Ciri Khas Santa Angela Atambua

Sementara itu, Kepala Sekolah Dasar Santa Angela Atambua, Sr Beti Sede, OSU menjelaskan awal mula Santa Angela terpilih mewakili Provinsi NTT. Selama proses seleksi, pihak sekolah mengirim portfolio ke Kantor Pusat Provinsi NTT. Setelah itu mereka nilai, lalu terpilihlah 10 sekolah. Setelah itu terpilih lagi 3 sekolah, semua dari daratan Timor dan salah satunya adalah Santa Angela Atambua. Kemudian ada proses visitasi, mereka meninjau langsung proses kegiatan sekolah bersama anak-anak. Dan terpilihlah Santa Angela Atambua mewakili Provinsi NTT.

Menurut pihak panitia, Santa Angela Atambua terpilih karena saat mereka datang, anak-anak menyapa memberi salam menggunakan Bahasa Inggris. Selain itu, daya tangkap dan daya serap anak-anak cepat, memiliki kreativitas sendiri, dan secara finansial pihak orang tua dan yayasan juga turut berperan aktif.

Lomba ini adalah pengalaman pertama bagi Santa Angela Atambua mewakili Provinsi NTT. Disatu sisi sekolah bangga, itu berarti mereka memiliki potensi. Tetapi disisi lain,kegiatan seperti ini masih baru, jadi masih harus banyak belajar. “Kami masih meraba-raba, tetapi kami terus mencoba dan yakin saja. Meski banyak rintangan, tapi kami harus terus belajar maju dan bertekun sampai akhir. Jika ingin mencapai sesuatu butuh perjuangan,” kata Sr Beti.

Setelah mengikuti lomba dan pulang ke Atambua banyak pelajaran penting yang bisa diambil. Pelajaran untuk mandiri, pantang menyerah, mempertahankan nilai Servite Et Amate, berani melawan arus, dan kekompakan. “Mereka adalah masa depan bangsa dan gereja. Harapannya kita harus mampu mengembangkan karakter orang muda, karena pada 2045 mereka yang jadi pemimpin. Tentunya mereka harus menjadi pemimpin yang cerdas pikiran, memiliki hati, dan memiliki karakter,” ungkap Sr Beti.

Aprianita Ganadi

Serviam