By: ServiamAdminus

Comments: 0

Dalam dinamika pendidikan yang terus mengalami perubahan, tuntutan terhadap guru semakin besar. Guru diminta menjadi pengajar yang kompeten, pembimbing yang sabar, sekaligus teladan yang berwibawa. Gambaran ideal ini sering menempatkan guru sebagai sosok yang harus selalu siap, kuat, dan serba mampu. Namun kenyataan sehari- hari menunjukkan bahwa guru tetaplah manusia yang membawa kelelahan, keterbatasan, dan pergumulan pribadi. Dari sini kita diajak melihat kembali makna keteladanan yang sejati. Guru hebat bukanlah pribadi yang sempurna, tetapi pribadi yang terus bertumbuh melalui kerapuhan yang diolah dengan jujur. Kerapuhan memberi ruang bagi guru untuk belajar, mengevaluasi diri, dan memperbarui cara mendampingi murid. Guru hebat adalah guru yang menyadari bahwa ia pun sedang bertumbuh setiap hari, sama seperti murid yang ia bimbing.

Keteladanan yang sejati tidak lahir dari gambaran diri yang tanpa cela. Keteladanan tumbuh dari kejujuran dan kerendahan hati untuk mengakui kelemahan, belajar dari pengalaman, serta memperbaiki diri. Guru yang bersedia meminta maaf ketika keliru, berani mempelajari hal baru meski mengalami kesulitan, atau tetap hadir meski sedang lelah, sesungguhnya menghadirkan teladan yang mendalam bagi murid. Anak – anak belajar bahwa kedewasaan tidak diukur dari kesempurnaan, tetapi dari kemampuan untuk jujur, bertanggung jawab, dan bangkit kembali ketika gagal.

Siswa masa kini merindukan teladan yang otentik. Mereka tidak mengharapkan guru yang tidak pernah salah. Mereka membutuhkan sosok yang jujur, dekat, dan mampu memahami pergumulan mereka. Ketulusan guru dalam mengakui keterbatasan membuka ruang dialog yang hangat. Dari sinilah tumbuh rasa percaya dan penghargaan yang tidak dapat dipaksakan. Guru yang mampu mengatakan bahwa ia juga masih belajar mengajak murid melihat hidup sebagai perjalanan panjang yang senantiasa memberi kesempatan untuk bertumbuh.

Budaya sekolah yang sehat tumbuh dari ketulusan guru untuk bertumbuh bersama. Ketika guru bersedia merefleksikan tindakan, mendengarkan umpan balik, dan membuka diri terhadap perubahan, terciptalah suasana yang aman bagi murid untuk melakukan hal yang sama. Sekolah menjadi ruang yang ramah, tempat di mana kesalahan bukan sesuatu yang memalukan, tetapi kesempatan untuk belajar. Murid merasa aman untuk mencoba, bereksperimen, bahkan gagal. Mereka belajar bahwa proses jauh lebih bermakna daripada penampilan luar. Relasi yang hangat antara guru dan murid menumbuhkan rasa percaya, rasa ingin tahu, dan keberanian untuk mengeksplorasi hal-hal baru. Di sinilah keteladanan guru berakar dan membentuk ekosistem sekolah secara menyeluruh.

Di sini, semakin jelas bahwa pendidikan adalah perjalanan panjang yang memerlukan kesetiaan. Guru hebat tidak terbentuk dalam semalam. Mereka dibentuk melalui pergulatan batin, refleksi yang jujur, dan keberanian untuk melanjutkan pelayanan meskipun tidak selalu memperoleh pengakuan. Setiap langkah kecil yang diambil dengan hati terbuka menjadi bagian dari perjalanan menuju kematangan dan kebijaksanaan.

Agar pertumbuhan ini dapat terus berlangsung, pihak manajemen yayasan dan sekolah perlu menyediakan dukungan yang memadai. Program pengembangan diri, pendampingan profesional, komunitas refleksi, dan pembelajaran berkelanjutan menjadi sarana penting untuk menolong guru merawat kompetensi sekaligus keseimbangannya sebagai manusia. Upaya semacam ini bukan beban tambahan, melainkan investasi bagi pendidikan yang lebih utuh. Guru yang didampingi dengan baik akan lebih siap menghadirkan pembelajaran yang kreatif, dialogis, dan penuh perhatian bagi murid.

Pada akhirnya, keteladanan guru adalah perjalanan yang tidak pernah selesai, sebuah proses yang senantiasa tumbuh bersama kesadaran untuk terus memperbaiki diri. Dari kerapuhan yang diterima dengan rendah hati, lahirlah kekuatan dan kebijaksanaan yang menginspirasi murid serta menghidupkan komunitas sekolah. Di tengah tuntutan dan perubahan dunia pendidikan, kita diingatkan bahwa masa depan tidak dibangun oleh sosok yang sempurna, tetapi oleh guru yang setia melangkah, tekun berkembang, dan konsisten menghadirkan nilai-nilai kebaikan. Dari tangan merekalah harapan pendidikan menemukan bentuknya.

Anastasia M D Batmomolin (Dosen STPM Santa Ursula)

Follow by Email
Instagram
Copy link
URL has been copied successfully!