BANTEN, SERVIMNEWS.com– Kampus Ursulin Santa Ursula BSD mengadakan Open Campus bertajuk “Building The Future, Preserving The Legacy, and Growing Together”, Sabtu, 23 Agustus 2025. Acara diisi dengan berbagai kegiatan yaitu: Pameran Pendidikan Santa Ursula BSD (PPSU) yang menghadirkan lebih dari 40 Universitas dari dalam dan luar negeri, Pameran Pembelajaran semua unit KB –TK, SD, SMP dan SMA, Talkshow Inspiratif bersama Rosiana Silalahi (Direktur Utama Kompas TV sekaligus alumni Santa Ursula BSD).



Tidak itu saja, terdapat aneka lomba fashion show (diselenggarakan oleh unit TK), lomba mewarnai (diselenggarakan oleh unit SD dengan target peserta usia 5-7 tahun), lomba menggambar (diselenggarakan oleh unit SD dengan target peserta usia 1-6 tahun), reporter cilik (diselenggarakan oleh unit SD dengan target peserta usia kelas 4-6 SD), dan Esports Mobile Legend (diselenggarakan oleh unit SMP dengan target peserta kelas 5-6 SD). Hadir juga lebih dari 50 stand bazar yang menjual berbagai makanan, snack, pernak- pernik, dan minuman.



Panggung gembira diisi dengan berbagai penampilan dari peserta didik dan Tari Kolosal lintas unit dengan tema “Nyala Semangat 35 tahun Santa Ursula BSD”. Terdapat juga Donor Darah yang diadakan oleh Ikatan Alumni Serviam Indonesia (IASI) dan Ikatan Alumni Santa Ursula Indonesia (ALUSIA), Homecoming oleh ALUSIA, dan photobooth.



Adapun tujuan dari acara yaitu sebagai ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan selama 35 tahun pelayanan Kampus Ursulin Santa Ursula BSD di dunia pendidikan, menyediakan ruang perjumpaan pribadi bagi siswa, alumni, guru, orang tua, hingga masyarakat dalam merayakan pencapaian sekolah. Mengenang, menghargai, dan menjaga nilai- nilai universal yang menjadi warisan para suster Ursulin, perintis Santa Ursula BSD, terutama Santa Angela Merici.



Selain itu, mengajak seluruh pihak untuk berperan aktif dalam membangun masa depan pendidikan yang lebih baik dengan menghadirkan program-program yang mendukung pengembangan siswa dalam menghadapi tantangan global. Menjalin kerjasama dan membangun jejaring bersama para stakeholders untuk mengembangkan pendidikan di Kampus Ursulin Santa Ursula BSD.



Aprianita Ganadi
Kampus Ursulin Santa Ursula BSD : https://www.sanurbsd-tng.sch.id/
SIDOARJO, SERVIAMNEWS. com – Suasana penuh syukur melingkupi keluarga besar Yayasan Paratha Bhakti khususnya Kampus Ursulin Santa Maria Sidoarjo. Ada tiga peristiwa penting yang dirayakan secara bersamaan yaitu: Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, pembukaan tahun ajaran 2025/2026, dan Pemberkataan Piazza Santa Angela, Biara, serta Kantor Yayasan.



Acara ditandai dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Paulus Febrianto, Romo Cornelius Triwidya Thahja Utama, dan Romo Franciscus Yohanes Andry Hanafi Tjipto di Kampus Ursulin Santa Maria Sidoarjo, Jumat, 15 Agustus 2025. Misa dihadiri para pengurus, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, tenaga penunjang yang berada di bawah naungan Yayasan Paratha Bhakti, komunitas suster Ursulin dari Surabaya, Sidoarjo, Pacet, dan Malang.



Ada hal yang menarik dalam Persembahan kepada Tuhan, yaitu bibit tanaman Ara dan tumpeng sebagai wujud syukur kepada Tuhan. “Bibit tanaman Ara dipilih karena tanaman tersebut juga mengambil peran penting dalam kehidupan manusia. Tumpeng merupakan ucapan syukur kepada Tuhan,” ungkap Koordinaor Kampus Ursulin Santa Maria Sidoarjo, Sr. Lidwina Suhartati OSU.



Usai Misa, para imam memberkati salib, ruang, dan gedung baru. Doa pemberkatan memohon agar sarana ini menjadi pusat pendidikan dan pelayanan yang berlandaskan iman serta membawa damai bagi semua yang berkegiatan di dalamnya.
Perayaan ini menjadi tanda awal semangat baru: menjadikan Kampus Santa Maria Sidoarjo sebagai rumah belajar yang mendidik dengan iman, membentuk karakter, dan menumbuhkan generasi berpengharapan.
FX. Marjanto
Kampus Ursulin Santa Maria Sidoarjo : https://sanmarosu-jatim.sch.id/
(Refleksi tentang Pendidikan Berkarakter di Tengah Arus Zaman)
Anastasia M D Batmomolin*
Delapan puluh tahun kemerdekaan bukan sekadar peringatan historis, melainkan sebuah momentum reflektif: sejauh mana kemerdekaan itu telah memerdekakan manusia Indonesia? Tahun 2025 mengundang bangsa ini untuk menengok ke dalam dan memandang ke depan, dengan tema nasional yang kuat: Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju. Sebuah visi tentang negara yang tidak hanya utuh secara geografis dan politik, tetapi berakar kuat dalam kesejahteraan dan daya saing rakyatnya.
Sejalan dengan semangat itu, Gereja Katolik merayakan Tahun Yubileum 2025 dengan tema spiritual: Pilgrims of Hope (peziarah harapan). Di tengah dunia yang kompleks dan rapuh, kita diundang untuk tetap berjalan dengan harapan, merawat masa depan dengan iman dan tanggung jawab.
Persinggungan kedua tema ini menemukan ruang yang paling nyata dalam pendidikan. Sebab pendidikan bukan hanya soal pembelajaran akademik; ia adalah ruang pembentukan manusia seutuhnya. Di sinilah kemerdekaan dan harapan bertemu: dalam proses mendidik manusia Indonesia agar mampu hidup merdeka, berpikir kritis, beretika, serta mampu menjadi penggerak perubahan bagi dirinya, sesama, dan bangsa.
Pendidikan dan Kemerdekaan: Bukan Sekedar Warisan, tapi Tanggung Jawab
Dalam sejarah bangsa ini, pendidikan selalu berperan sebagai gerakan kultural yang membebaskan. Ki Hajar Dewantara memaknai pendidikan sebagai usaha menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pendidikan, dengan demikian, adalah proses pemerdekaan yang berkelanjutan.
Namun, realitas mutakhir menunjukkan bahwa tantangan pendidikan kita belum selesai. Masih ada jurang ketimpangan akses, kualitas, dan makna pendidikan. Dalam konteks ini, kemerdekaan sejati hanya mungkin terwujud jika pendidikan mampu membentuk manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter; tidak hanya kompeten, tetapi juga berhati nurani.
Etika dan Karakter: Inti Pendidikan Sejati
Kemajuan teknologi dan globalisasi telah membuka peluang sekaligus menghadirkan tantangan baru. Generasi muda hidup dalam arus informasi yang deras, sering kali tanpa arah moral yang jelas. Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya membekali pengetahuan, tetapi harus menanamkan nilai-nilai etis dan karakter: kejujuran, tanggung jawab, empati, keberanian moral, serta komitmen pada kebaikan bersama.
Pendidikan etis adalah fondasi dari masyarakat yang berdaulat dan sejahtera. Tanpa integritas, keadilan tidak akan terwujud. Tanpa empati, persatuan hanya menjadi slogan. Oleh sebab itu, pendidikan yang mendalam adalah pendidikan yang menyentuh hati dan nurani.
Mendidik dengan Hati: Jalan Panjang Peziarah Harapan
Dalam konteks Pilgrims of Hope, para pendidik, orang tua, pemimpin komunitas berbagai level adalah peziarah yang setiap hari menyalakan harapan melalui proses pembelajaran. Mereka hadir bukan sekadar sebagai pengajar, tetapi sebagai pendamping jiwa, yang mengenali potensi dan kerinduan terdalam setiap anak.
Mendidik dengan hati dan nurani berarti memanusiakan proses belajar: menciptakan ruang dialog, merawat keunikan, menyemai keberanian untuk bermimpi dan berbuat baik. Ini adalah pendidikan yang tidak berorientasi pada angka, tetapi pada pertumbuhan pribadi. Pendidikan seperti inilah yang melahirkan generasi yang tidak hanya pintar, tetapi bijaksana; tidak hanya berprestasi, tetapi berbelarasa.
Harapan bagi Indonesia Maju
Jika cita-cita Indonesia 2045 adalah menjadi bangsa yang maju dan unggul di antara negara-negara lain, maka investasi terbesar harus ditempatkan pada pendidikan bermakna, yang memerdekakan pikiran, membentuk karakter, dan menumbuhkan harapan. Bangsa yang bersatu dan berdaulat hanya mungkin terwujud jika rakyatnya sejahtera, dan kesejahteraan sejati selalu berakar dari kematangan manusia secara utuh: spiritual, moral, sosial, dan intelektual.
Menjadi peziarah harapan di dunia pendidikan berarti bersedia berjalan bersama anak-anak bangsa, menuntun mereka melalui jalan yang mungkin berliku, tetapi pasti menuju masa depan yang lebih adil, manusiawi, dan bermartabat.
Kemerdekaan bukanlah akhir, melainkan ruang awal untuk terus mendidik dan dibentuk kembali sebagai bangsa. Dalam semangat Yubileum dan peringatan 80 tahun Indonesia merdeka, kita diajak tidak hanya untuk merayakan apa yang telah dicapai, tetapi juga untuk berkomitmen pada apa yang masih harus diperjuangkan. Pendidikan adalah medan nyata tempat kita menyatukan kebangsaan dan iman, kompetensi dan nurani, cita-cita dan tanggung jawab.
Mari kita terus menjadi peziarah harapan, yang tak pernah lelah mencintai bangsa ini dengan cara yang paling mendasar dan bermakna: mendidik dengan hati dan nurani.
***
*Dosen STPM Santa Ursula
JAKARTA, SERVIAMNEWS.com – Dalam rangka hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke – 80 tahun, Kampus Ursulin Santo Vincentius mengadakan lomba untuk para orang tua murid, suster, bapak/ibu guru, dan staf Tata Usaha, pada Sabtu, 9 Agustus 2025. Semua peserta kompak memakai dress code bernuansa merah putih. Acara diawali dengan bernyanyi bersama “Hari ini Kurasa Bahagia” kemudian dilanjutkan dengan Senam Kesehatan Jasmani (SKJ) di lapangan SD Santo Vincentius. Adapun lomba yang diadakan yaitu: estafet sarung, estafet gelas, lempar balon, kancing baju, memasukkan bola ke dalam dus, dan menyusun huruf menjadi kata.


Aprianita Ganadi
Kampus Ursulin Santo Vincentius : https://santovincentius.sch.id/
Sr. Viktoria Dalima, OSU
Dosen STPM Santa Ursula Ende
Tahun 2025 adalah Tahun Yubileum, dan Gereja Katolik di seluruh dunia menyambutnya dengan tema: Pilgrims of Hope (Peziarah Harapan). Sebagai umat beriman, kita diajak berjalan bersama sebagai peziarah: melangkah dalam iman, dipenuhi harapan, dan bersandar pada kasih Allah yang setia. Di tengah dunia yang haus akan makna, keadilan, dan pengharapan sejati, kehadiran sosok-sosok yang mampu menyalakan harapan menjadi sangat penting. Salah satunya adalah Santa Angela Merici, seorang perempuan sederhana yang hidupnya menjadi inspirasi lintas zaman.
Santa Angela (Angela Merici) adalah perempuan inspiratif pembawa harapan. Ia menjalani hidupnya sebagai pilgrim of hope sejati, dengan iman yang teguh, kasih yang nyata, dan keberanian untuk menjawab kebutuhan zaman. Di masa ketika perempuan sering terpinggirkan, ia justru membuka ruang bagi pendidikan dan pelayanan. Ia membangun komunitas yang menumbuhkan iman dan memulihkan martabat perempuan. Visi profetiknya melampaui batas waktu, dan hingga hari ini, buah karyanya tetap hidup melalui para Ursulin yang meneruskan semangatnya.
Angela Merici lahir di Desenzano, sebuah kota kecil di tepi Danau Garda, Italia Utara, pada tahun 1474. Ayahnya bernama Giovanni Merici dan ibunya Caterina Biancosi. Di zaman itu, tidak semua perempuan diizinkan mengenyam pendidikan formal. Namun, orang tua Angela memiliki kepedulian besar terhadap perkembangan pribadi anak-anak mereka. Angela belajar membaca dan menulis dari kedua orang tuanya.
Saat itu, Eropa sedang dilanda perang berkepanjangan yang membawa penderitaan luas: banyak keluarga kehilangan orang-orang yang mereka cintai, anak-anak terlantar, ekonomi terpuruk, dan kehidupan moral masyarakat memburuk. Dalam Gereja pun, pilihan hidup terbatas: menikah atau menjadi biarawan/biarawati monastik. Bahkan, tidak semua umat Katolik diperkenankan menerima Komuni Kudus. Namun, Angela tidak kecewa, patah semangat, atau menyerah. Ia melihat situasi itu sebagai peluang untuk menghadirkan harapan baru. Salah satu contohnya: agar dapat menerima Komuni, Angela bergabung dengan Ordo Ketiga Fransiskan. Sebagai anggota ordo ini, ia mendapat ruang untuk menolong sesama yang menderita.
Angela tidak memilih salah satu bentuk hidup baku dalam Gereja saat itu. Ia justru menawarkan jalan baru: hidup selibat di luar tembok biara, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan dan melayani-Nya melalui sesame terutama mereka yang paling membutuhkan.
Bagi kita, kaum perempuan muda yang hidup di era serba instan dan berteknologi tinggi, ada tantangan tersendiri: mudah patah semangat, tidak sabar menghadapi proses, dan cepat putus asa. Dari Angela, kita belajar keberanian untuk menghadapi tantangan dan kemampuan memunculkan inspirasi baru dalam keterbatasan.
Angela menyadari bahwa cita-cita besar tidak dapat dicapai dengan kekuatan sendiri. Ia senantiasa bertanya dalam hatinya: “Apa yang harus aku lakukan bagi sesamaku yang menderita?” Dalam suatu penampakan di Brudazzo, ia melihat tangga yang menghubungkan langit dan bumi, dan para malaikat turun-naik di atasnya. Di antara mereka, tampak kakaknya yang telah meninggal, yang selama ini selalu ia doakan. Kakaknya menyampaikan pesan bahwa suatu hari nanti, Angela akan mengumpulkan perempuan-perempuan muda yang akan mengabdikan hidup mereka secara total kepada Tuhan.
Sejak saat itu, Angela semakin tekun berdoa, baik dalam Perayaan Ekaristi, doa pribadi, maupun melalui ziarah ke Roma dan Tanah Suci. Ia membuka diri sepenuhnya terhadap bimbingan Tuhan dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada kehendak Allah.
Angela mengajak kita, kaum perempuan, untuk mencintai Tuhan di atas segalanya, membuka hati bagi pimpinan-Nya, dan membina relasi yang mendalam melalui doa dan Perayaan Ekaristi. Ia pernah berkata. “Berdoalah, dan usahakan agar orang lain juga berdoa, supaya Allah tidak meninggalkan Gereja-Nya.” Ia juga menegaskan: “Engkau tidak akan menemukan perlindungan lain kecuali di kaki Yesus Kristus. Serahkanlah dirimu dengan rendah hati dalam perlindungan tangan-Nya yang kuat, maka engkau akan selamat dan diterangi.”
Angela setia pada panggilannya hingga akhir hayat. Ia menekankan hidup dalam kasih, saling meneguhkan dalam panggilan, dan membaktikan diri demi pembaruan moral masyarakat dan Gereja. Baginya, kehidupan apostolik adalah kehidupan yang sesuai dengan teladan Kristus yang datang dari pangkuan Bapa demi keselamatan dunia.
Angela adalah pribadi yang tekun berkontemplasi sekaligus aktif dalam aksi. Ia mencintai keheningan untuk menimba kekuatan dari Tuhan, namun juga penuh semangat melayani demi kemanusiaan. Dalam kontemplasi, ia menemukan inspirasi untuk berbicara dan bertindak. Ia tahu kapan dan bagaimana menyampaikan kebenaran dengan bahasa kasih, yang membangun persaudaraan sejati.
Cahaya kebijaksanaan yang terpancar dari dirinya bersumber dari Tuhan. Ia menjadi terang bagi banyak orang di Brescia yang haus akan harapan dan kepercayaan kepada Allah. Tentu, bukan Angela yang bercahaya, tetapi Kristus, Sang Mempelai, yang memancar melalui dirinya. Cahaya itu menumbuhkan harapan baru dalam hati setiap orang yang menjumpainya.
Angela juga memusatkan perhatian pada dunia perempuan dan kesetaraan gender. Ia memiliki intuisi kenabian tentang pentingnya peran perempuan dalam Gereja dan masyarakat. Ia adalah seorang “feminis-religius” yang membaca tanda-tanda zaman dan menanggapi kenyataan sosial dengan visi masa depan. Pesan utamanya Adalah (1) Cinta akan Allah dan manusia dihidupi sebagai satu kesatuan, dan (2) Kontemplasi dan kerasulan tak terpisahkan dalam hidup beriman.
Menjelang wafatnya, Angela berpesan kepada para pengikutnya: “Jaga persatuan, hiduplah dalam semangat kasih, dan setialah kepada Tuhan dan Gereja.” Ia juga meyakinkan mereka: “Jika Allah sendiri yang telah mendirikan kompani ini, Allah tidak akan meninggalkannya.” Dan yang paling menguatkan: “Aku akan selalu berada di tengah-tengah kalian dan menyampaikan doa-doamu kepada Tuhan.”
Angela memberi harapan kepada para pengikutnya bahwa, dengan menyadari diri sebagai mempelai Kristus, hidup mereka akan penuh penghiburan. Ia berkata bahwa: “Semua kesedihan akan berubah menjadi sukacita, dan jalan yang berduri, curam, serta berbatu-batu akan menjadi berbunga, indah, dan penuh kegembiraan.”
Angela dikukuhkan sebagai santa oleh Paus Pius VII. Ia dikenang sebagai perempuan pendoa, pribadi apostolik yang ramah dan penuh kasih, seorang pendidik bijaksana, guru yang penuh cinta, dan ibu rohani bagi banyak orang.
Hari ini, kita semua dipanggil menjadi Angela-Angela masa kini; perempuan yang menyalakan inspirasi positif dalam langkah hidup sehari-hari. Situasi sulit bukan penghalang, melainkan peluang untuk menciptakan cara baru yang menyegarkan dan bermakna.
Sebagai Angela zaman ini, hidup kita harus memancarkan cahaya harapan bagi sesama: peduli, berbagi, dan melayani dengan sukacita. Namun, untuk dapat memancarkan harapan, kita harus memiliki relasi yang mendalam dengan Tuhan seperti Angela.
Dari kedalaman relasi inilah, cahaya harapan Tuhan terpancar melalui kita dan menyentuh hati setiap pribadi yang kita jumpai, hingga akhirnya mereka pun dikuatkan untuk berjalan bersama sebagai peziarah harapan.
SUKABUMI, SERVIAMNEWS.com – Kampus Ursulin Yuwati Bhakti Sukabumi menyelenggarakan seminar kesehatan bertajuk “Cek Fakta Kesehatan Reproduksi” di aula Sekolah, pada Jumat, 8 Agustus 2025. Hadir sebagai narasumber yaitu dokter spesialis dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG (K) dan dr. Martasono. Acara turut dihadiri juga oleh Ketua II Yayawan Yuwati Bhakti, Sr. Theresia Sri Biastuti, OSU, M.Pd, orang tua peserta didik, seluruh pegawai, dan Pengawas Pembina SD Yuwati Bhakti, Bapak Anwar Gymaris, M.Pd.


Seminar merupakan bagian dari rangkaian kegiatan perayaan 100 Tahun Karya Ursulin di Sukabumi yang puncaknya pada 1 Agustus 2026. Usia 100 tahun merupakan tonggak sejarah yang penting dalam pengabdian di bidang pendidikan. Untuk itu, perlu adanya komitmen kolektif agar memberikan kebermanfaatan yang nyata bagi masyarakat Kota Sukabumi.
Adapun tujuan dari seminar ini adalah untuk memberikan informasi dan menumbuhkan pemahaman tentang kesehatan reproduksi kepada para orang tua peserta didik. Selain itu, untuk membekali data serta fakta sehingga mampu meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi dalam keluarga dan komunitas.


Sementara itu, menurut Pak Anwar seminar kali ini sangat penting terutama untuk memahami dan menggali informasi tentang kesehatan reproduksi. “Ini adalah informasi yang sangat berguna supaya kita dapat mengajarkan kepada anak-anak dan menjadi agen informasi kepada masyarakat sekitar,” ungkap Pak Anwar dalam sambutannya.



Dokter Spesialias, dr. Caroline menuturkan bahwa sebagian besar orang tua masih merasa tabu ketika membicarakan tentang organ reproduksi kepada putra-putrinya. Bahkan dengan sesama orang dewasa, kita sering malu untuk membicarakannya, “Untuk itu, penting memberikan pendidikan dan informasi tentang kesehatan reproduksi kepada putra-putri kita. Sejatinya, kita dapat memperkecil resiko hadirnya berbagai penyakit di tubuh kita dengan melakukan gaya hidup sehat, baik makanan, pakaian, maupun cara merawat organ tubuh kita, terutama organ reproduksi,” kata dr. Caroline.
Agnes Tri Maryunani
Kampus Ursulin Yuwati Bhakti Sukabumi : https://yuwatibhakti.sch.id/
LABUAN BAJO, SERVIAMNEWS.com – Serviam Camp III Regio NTT dan Timor Leste bertajuk “Unity in Diversity” resmi dibuka pada Kamis, 7 Agustus 2025. Adapun tema “Unity in Diversity” yang berarti bersatu dalam keanekaragaman sejalan dengan salah satu nilai dasar Pendidikan Ursulin (Core Values) yaitu semangat persatuan. Sejak dini, peserta didik diajarkan mengenai persatuan dengan merangkul perbedaan, sehingga nantinya dapat menjadi individu yang berkarakter.


Acara dibuka dengan Misa Konselebrasi yang dipimpin oleh Bapa Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus, Sekretaris Jenderal (Sejken) Keuskupan Labuan Bajo Romo Fransiskus Nala, Ketua Majelis Pendidikan Katolik Keuskupan Labuan Bajo Romo Ivan, Romo Lorens Sopang, dan Romo Martinus Tolen di Gereja Stella Maris, Labuan Bajo, NTT. Serviam Camp merupakan kegiatan rutin pertemuan peserta didik tingkat Sekolah Dasar yang diselenggarakan oleh Sekolah-Sekolah Ursulin.



Dalam acara, yang diselenggarakan 7 -11 Agustus 2025 anak-anak akan berproses bersama. Mereka datang dari 4 sekolah Ursulin yang berada di Regio NTT dan Timor Leste. Setiap sekolah mengirimkan 30 peserta masing-masing 15 orang putra dan 15 orang putri dengan 2 guru pendamping. Para peserta datang dari Kampus Ursulin Santa Angela Atambua, Kampus Ursulin Santa Ursula Ende, Kampus Ursulin Santa Ursula Baucau Timor Leste, dan Kampus Ursulin Santa Angela Labuan Bajo.



Sementara itu, dalam kata sambutannya Ketua I Pusat Yayasan Pendidikan Ursulin, Sr. Hilda Sri Purwaningsih, OSU menuturkan hatinya ikut senang dan berbunga-bunga melihat keceriaan peserta Serviam Camp. Setiap hari, peserta didik dibantu para suster, bapak/ibu guru melaksanakan Core Values salah satunya semangat persatuan. “Core Values semangat persatuan sama dengan tema acara kita kali ini yaitu Unity in Diversity. Kebersamaan dan keberagaman tentu asyik, tetapi tidak mudah. Terima kasih kepada panitia, para suster, bapak/ibu guru yang terus merawat dan membiasakan hidup dalam keberagaman,” kata Sr. Hilda, OSU.



Adapun tujuan dari Serviam Camp III yaitu agar peserta didik mampu mengenal dan menerima diri sebagai pribadi yang unik. Mengenal semangat santa Angela yang menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi hidup dalam persatuan. Mengembangkan karakter dan potensi peserta didik untuk membangun hidup dalam keharmonisan di tengah berbagai perbedaan. Mengembangkan semangat peduli pada sesama dan alam ciptaan dengan segala isinya. Membangun semangat persatuan dan persaudaraan di tengah keluarga, sekolah, sesama di masyarakat dan alam ciptaan dengan segala isinya.
Aprianita Ganadi