By: ServiamAdminus

Comments: 0

Dewasa ini, banyak sekolah yang berusaha meningkatkan kualitas pendidikan dengan pembenahan dari berbagai sektor diantaranya proses pembelajaran yang diberikan kepada siswa. Saat ini, proses pembelajaran yang dilakukan berorientasi pada siswa, sedangkan guru hanya bertindak sebagai fasilitator. Sejatinya, guru tidak hanya berorientasi pada pemberian materi kepada siswa saja, karena itu hanya akan membuat pembelajan menjadi membosankan.

Ketertarikan siswa pada pelajaran akan membantu siswa untuk lebih mudah memahami materi yang dipelajari. Selain itu, pembelajaran diharapkan tidak hanya menekankan pada penilaian kognitif melainkan juga pengembangan afektif dan psikomotorik siswa. Untuk itu, guru harus dapat mengembangkan model pembelajaran yang digunakan di kelas.

Mata pelajaran Kimia merupakan mata pelajaran wajib bagi siswa yang mengambil jurusan IPA. Seringkali, siswa mengalami kesulitan dalam mengikuti pembelajaran Kimia. Siswa beranggapan pelajaran Kimia terlalu sulit dan kadang membosankan jika dihadapkan pada teori. Mengapa siswa menganggap Kimia itu sulit?

Hal ini, disebabkan karena siswa tidak memahami substansi materinya, bagaimana menghubungkan antara apa yang dipelajari dengan kehidupan nyata, bagaimana memanfaatkan pengetahuan untuk menunjang kehidupan. Salah satu materi esensial yang diberikan di SMA adalah materi Koloid, pada materi ini siswa tidak sekedar menghafal tetapi siswa dituntut untuk memahami materi tersebut secara mendalam dan mengkaitkannya dalam kehidupan sehari – hari.

Hal ini lah yang mendorong guru menggunakan model pembelajaran yang menarik dan bermakna bagi siswa sehingga siswa dapat memahami materi dengan baik. Model pembelajaran yang diterapkan untuk mempelajari materi Koloid di SMA Santa Ursula, Jakarta khususnya siswa kelas XI IPA adalah model pembelajaran “Joyfull Learning”berbasis proyek. Mengapa menggunakan model tersebut?

Model pembelajaran Joyfull Learning merupakan strategi pembelajaran untuk mengembangkan keterampilan proses sains dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Selain itu, siswa dituntut lebih aktif yaitu belajar sambil bekerja (learning by doing). Konsep Joyfull Learning juga menerapkan pembelajaran kontekstual yaitu mengaitkan bahan subyek yang dipelajari dengan situasi dunia yang sebenarnya. Dengan demikian model ini mengakomodasi rasa ingin tahu siswa, sehingga siswa dapat menemukan sendiri pengetahuan baru melalui proyek- proyek yang dikerjakan secara berkelompok.

Penerapan model Joyfull Learning berbasis proyek pada materi Koloid di SMA Santa Ursula khususnya siswa kelas XI IPA, dimulai dengan tahap perencanaan proyek dimana tiap kelompok menemukan ide sendiri untuk membuat suatu produk. Pada perencanaan proyek ini, ketrampilan proses sains yang dapat dikembangkan siswa diantaranya mengemukakan ide, berinovasi, mengumpulkan sumber belajar, dan menentukan strategi untuk kelompok dalam menyelesaikan proyek.

Tahap ini bertujuan menumbuhkan motivasi belajar dan membaca teori pada materi Koloid. Tahap berikutnya adalah pelaksanaan proyek, pada tahap ini tiap kelompok menyusun proposal penelitian mengenai proyek yang akan dibuat. Keterampilan proses sains yang didapat antara lain siswa dapat menyusun poposal penelitian ilmiah dengan baik, menyusun jadwal penelitian, merencanakan percobaan dan mampu memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam kelompok.

Tahap berikutnya adalah pelaksanaan proyek, melalui tahap ini peran guru sebagai fasilitator. Guru harus membimbing siswa, jika siswa mengalami kesulitan dalam pembuatan proyek. Melalui kegiatan eksperimen dapat menstimulus siswa untuk mengamati, memprediksi dan merencanakan percobaan serta menyimpulkan hasil percobaan. Pengalaman belajar yang didapat siswa pada tahap ini antara lain siswa dapat menganalisis mengenai jenis-jenis koloid maupun sifat-sifat koloid dari produk yang telah dibuat. Dengan demikian, melalui observasi tersebut siswa akan lebih mudah memahami daripada menghafal suatu materi.

Tahap selanjutnya pada pembelajaran Joyfull Learning adalah membuat pameran dari masing-masing produk yang telah dibuat oleh kelompok. Produk yang dihasilkan inovasi dalam bidang pangan diantaranya puding ubi ungu, keju mozarella, okra jelly, permen jelly, ramen jelly, dan masih banyak lagi. Selain produk makanan ada beberapa kelompok yang membuat produk kosmetik diantaranya lipstik strawbery dan lip ice. Siswa menampilkannya dalam bentuk poster dan pameran produk serta menjual produk tersebut kepada siswa lain. Pada proses ini dapat meningkatkan kinerja dan kemampuan komunikasi siswa dalam kelompok maupun dengan siswa kelas lain.

Dari hasil observasi dan refleksi jurnal siswa mengenai penerapan Joyfull Learning pada pembelajaran materi Koloid ini dapat disimpulkan bahwa siswa merespon dengan baik karena pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, Selain itu, pembelajaran bersifat edukatif karena siswa dapat memahami materi melalui eksperimen langsung dengan membuat produk koloid. Siswa juga diajak untuk lebih berinovasi, meningkatkan rasa ingin tahu sehingga siswa menjadi lebih kreatif, siswa mendapat pengetahuan baru, dan pembelajaran mejadi lebih bermakna.

Adapun kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan proses pembelajaran dengan model Joyfull Learning adalah waktu yang dibutuhkan cukup lama karena siswa harus melewati tahap-tahap yang ditentukan guru, akan tetapi kendala tersebut dapat diatasi dengan memanfaatkan jam istirahat untuk konsultasi maupun bimbingan kelompok. Pelaksanaan praktiknya juga bisa dilaksanakan pada jam pulang sekolah.

Dengan demikian, model pembelajaran Joyful Learning berbasis proyek dapat diterapkan untuk pembelajaran kimia khusunya pada materi koloid. Yang terpenting adalah guru harus mencari model dan strategi pembelajaran yang tepat untuk materi yang akan diajarkan. Sehingga nantinya tercipta bentuk variasi suasana pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan melibatkan siswa dalam proses pembelajaran itu sendiri

Anastasia Nurtanti (Guru Kimia SMA Santa Ursula Jakarta)

Follow by Email
Instagram
Copy link
URL has been copied successfully!