SOLO, SERVIAMNEWS.com – Dalam mendidik dan mendampingi siswa generasi Z penting bagi guru untuk memahami dan mengembangkan Kompetensi Sosial Emosional (KSE). Sejatinya, KSE mencakup kemampuan untuk mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi diri, serta memahami emosi orang lain. Keterampilan ini sangat penting karena membantu guru dalam membangun hubungan yang lebih baik dengan siswa.

Dengan memiliki KSE yang kuat, guru dapat lebih efektif dalam menjalankan peran sebagai fasilitator dalam Kurikulum Merdeka, dimana pembelajaran terpusat pada peserta didik (student center). Perubahan paradigma ini menuntut guru untuk terus mengembangkan kompetensi, terutama dalam hal KSE. Dengan KSE, guru dapat lebih efektif dalam membimbing siswa tidak hanya dalam aspek akademik tapi juga dalam pengembangan keterampilan sosial dan emosional.

Berkaitan dengan pengembangan kompetensi tersebut, sebanyak 85 guru SMP dan SMA Regina Pacis Surakarta mengikuti seminar bertajuk “Implementasi Kompetensi Sosial-Emosional dalam Pembelajaran dan Pendampingan Siswa” pada Senin, 15 Juli 2024 di Auditorium Kampus Regina Pacis Surakarta. Hadir sebagai narasumber yaitu Dosen Fakultas Psikologi sekaligus Rektor Soegijapranata Catholic University (SCU) Semarang, Bapak Dr. Ferdinandus Hindiarto, S..Psi., M.Si dan Ibu Dr. Elizabeth Wahyu Margareth Indira, S.Psi., M.Pd., Psikolog.

Pada sesi pertama, materi yang disampaikan adalah pengenalan kompetensi sosial emosional oleh Bapak Ferdinand. Beliau mengajak para peserta untuk menyadari realitas mengenai “Generation Gap“yaitu kesenjangan yang menciptakan jarak antara guru dan siswa. Beliau menekankan pentingnya komunikasi yang melingkar dan efektif untuk menjembatani kesenjangan ini. Salah satu cara untuk mencapainya adalah dengan memenuhi kebutuhan generasi Z yang sering digambarkan sebagai kekurangan “Vitamin A” – yaitu Attention (perhatian), Acceptance (penerimaan), Affection (kasih sayang), Appreciation (penghargaan), dan Affirmation (pengakuan).

Memenuhi “Vitamin A” sangat penting karena membantu siswa merasa dihargai dan diakui, sehingga dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar. Perhatian dan penerimaan dari guru membuat siswa merasa didengar dan dimengerti, kasih sayang menciptakan ikatan emosional yang kuat, dan penghargaan serta pengakuan mendorong motivasi dan rasa percaya diri siswa. Dengan memenuhi kebutuhan ini, guru dapat membangun hubungan yang lebih baik dengan siswa, mengurangi kesenjangan generasi, dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih positif dan inklusif.

Pada sesi ini, Bapak Ferdinand juga menyinggung mengenai pokok-pokok pemikiran pendidikan dari Driyarkara. Mendidik adalah perbuatan fundamental yang bertujuan untuk mengubah, menemukan, dan membentuk hidup manusia yang berpangkal pada sikap fundamental cinta murni yaitu mengutamakan kepentingan yang dicintai. Driyarkara juga menekankan mengenai homanisasi yaitu manusia dapat “menyadari dirinya sendiri” yang berarti mengerti diri, mampu menempatkan diri, mengambil sikap, dan mampu menentukan dirinya sendiri.

Sesi pertama diakhiri dengan peneguhan pemutaran film yang menceritakan begitu hebatnya perjuangan seorang guru yang mengajar di kelas anak-anak bermasalah, hingga mampu mendidik dan mengubah anak-anak tersebut menjadi lebih disiplin dan mampu menemukan potensi diri. Di sesi kedua, dilanjutkan dengan materi strategi pengembangan kompetensi sosial emosional dalam pembelajaran dan pendampingan siswa oleh Ibu Ira.

Pada sesi kedua ini, peserta disegarkan melalui cerita pengalaman Ibu Ira dalam mendampingi siswa termasuk yang berkebutuhan khusus. Melalui pengalaman Ibu Ira, peserta mendapatkan gambaran mengenai permasalahan emosional siswa dan strategi untuk menghadapinya. Kegiatan dilanjutkan dengan adanya diskusi kelompok yang terdiri dari 5 sampai 6 guru. Peserta diajak untuk mendiskusikan mengenai permasalahan sosial emosional guru dalam pendampingan siswa, kendala apa saja yang dihadapi, dan  solusi untuk permasalahan tersebut. Hasil diskusi yang terbaik ditampilkan dalam role play dan ditutup dengan tiga guru yang berbagi pengalaman best practice dalam mendampingi siswa.

Dari seminar KSE ini, kita dikuatkan kembali untuk dapat menjadi guru yang otentik. Selaras dengan pandangan Erich Fromm yang menyatakan bahwa puncak dari kedamaian bukanlah terbebas dari suatu hal saja, melainkan kebebasan untuk menjadi diri sendiri, hidup sesuai dengan nilai-nilai, dan potensi pribadi. Dengan menjadi otentik kita akan mendidik dan mendampingi anak-anak yang telah dipercayakan dengan sepenuh hati tanpa beban dan keterpaksaan. Hal ini menimbulkan pertanyaan reflektif untuk mempersiapkan diri menjelang tahun ajaran baru: “Saya ingin dikenal sebagai guru yang seperti apa?”

S.Fajar Dewi Utami, SPsi – Guru BK SMA Regina Pacis Solo

Kampus Ursulin Regina Pacis Solo: smp-reginapacis-slo.sch.id/ dan smareginapacis-solo.sch.id/

Kampus Ursulin Maria Assumpta Klaten: mariaassumpta.sch.id/

SOLO, SERVIAMNEWS.com – Pada 10 Juli 2024, Yayasan Winayabhakti Solo mengadakan kegiatan Outbound di Danuwo Waterpark Boyolali, Jawa Tengah. Seluruh staf tata usaha dan Kepala Sekolah dari berbagai sekolah di bawah Yayasan, seperti SMA Regina Pacis Surakarta, SMP Regina Pacis Surakarta, KB/TK Maria Assumpta Klaten, SD Maria Assumpta Klaten, dan SMP Assumpta Klaten, ikut serta dalam acara ini.

Kegiatan dimulai pukul 07.00 WIB. Para peserta berkumpul di Kampus Ursulin Solo – Klaten, lalu berangkat bersama-sama menggunakan bus menuju Danuwo Waterpark. Sesampainya di lokasi sekitar pukul 08.30 WIB, acara dimulai dengan penuh semangat. Kegiatan outbound yang berkolaborasi dengan PT Werkudara Semangat Indonesia ini bertajuk “Building Growth Mindset Outbound Training”. Tujuannya adalah untuk belajar membangun semangat perubahan dan kerjasama sebagai peluang untuk berkembang dalam pelayanan sebagai staf administrasi di sekolah.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan sesi energizer, yang dipimpin oleh master game untuk mencairkan suasana dan pembagian kelompok secara acak sebelum melaksanakan permainan pos masing-masing. Setelah sesi energizer dirasa cukup, peserta diarahkan untuk memulai petualangan dengan bantuan peta untuk menyelesaikan misi mendapatkan harta karun yang tersembunyi. Masing-masing kelompok mempunyai ketua kelompok sebagai penanggungjawab akan anggota kelompoknya. Permainan pos memiliki urutan yang berbeda pada tiap kelompok, dan di tiap pos permainan terdapat dua kelompok yang saling bersaing untuk mendapatkan kemenangan.

Adapun jenis permainan yang dilakukan dalam setiap pos adalah : bola meriam, peserta memindahkan bola ping-pong dan kelereng ke dalam keranjang menggunakan alas triplek secara estafet. Seru dan penuh tantangan! Lalu menabung lambung pipa, kelompok harus mengisi pipa berlubang dengan air hingga bola plastik bisa naik ke atas. Butuh kekompakan dan strategi!

Yang ke tiga adalah permainan membangun mercusuar, dengan menggunakan tali, peserta memindahkan dan menyusun balok kayu menjadi mercusuar. Komunikasi dan kerja sama sangat penting! Permainan di pos ke empat adalah pertahanan benteng, dua kelompok saling mempertahankan benteng dengan senjata tembak air. Menegangkan sekaligus menyenangkan! Kegiatan ini dilakukan di kolam renang besar yang ada di lokasi outbound

Permainan terakhir pada sesi ini adalah permainan misi, seluruh peserta harus bisa memutarkan baling-baling kayu dengan mengalirkan air menggunakan pipa bocor. Seluruh kelompok bekerja sama untuk menyelesaikan misi ini. Kerjasama tim sangat menonjol dalam mencapai tujuan dalam menjalankan baling-baling yang ada dan menyelesaikan misi yang dimulai sejak pagi dengan menemukan kunci kotak harta karun.

Sebagai rangkuman seluruh aktifitas outbound, permainan bola menjadi proses untuk menemukan diri dan keberadaan diri dalam kerjasama kelompok. Aturan permainan sederhana namun cukup menantang.  Permainan ini dilaksanakan dalam tiga ronde, membutuhkan strategi dan komunikasi yang baik antar anggota kelompok. Sesudahnya, masing-masing peserta menuliskan kesan dan nilai apa yang diperoleh dalam kegiatan ini.  Sebagai penutup, Ketua Yayasan Winayabhakti Solo, Sr.Vero Sri Andayani, OSU menekankan pentingnya komunikasi, motivasi, kolaborasi, dan inovasi dalam setiap tugas. Agar peran dan keberadaan kita menjadi berkat bagi siapa saja yang kita layani di sekolah.

Monica Hapsari – Staf Yayasan Winayabhakti Solo

Kampus Ursulin Regina Pacis Solo: smp-reginapacis-slo.sch.id/dan smareginapacis-solo.sch.id/

Kampus Ursulin Maria Assumpta Klaten: mariaassumpta.sch.id/

SOLO, SERVIAMNEWS.com – Belajar sepanjang hayat adalah salah satu keutamaan dalam hidup di mana setiap individu dituntut untuk terus mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mereka sepanjang kehidupan. Proses ini mencakup berbagai cara, mulai dari pendidikan formal di sekolah dan universitas, hingga pengalaman kerja, pelatihan profesional, dan pembelajaran mandiri. Dengan terus belajar, seseorang dapat tetap relevan dalam dunia kerja yang selalu berubah, meningkatkan kemampuan diri, serta mencapai potensi pribadi dan profesional yang maksimal. Selain itu, belajar sepanjang hayat juga membantu menjaga kesehatan mental, meningkatkan kualitas hidup, dan membuka peluang baru dalam berbagai aspek kehidupan.

Berkaitan dengan konsep belajar sepanjang hayat ini, pada hari Senin – Rabu, 24- 26 Juni 2024 Kampus Ursulin Regina Pacis Surakarta dan Kampus Ursulin Maria Assumpta Klaten memaknainya dalam pelatihan bersama selama 3 hari. Bertempat di Auditorium Kampus Ursulin Regina Pacis, guru SMP Maria Assumpta Klaten sejumlah 13 orang, SMP Regina Pacis sejumlah 29 orang serta SMA Regina Pacis sejumlah 53 orang dengan antusias ikut dalam kegiatan belajar bersama.

Tema kegiatan belajar bersama kali ini adalah pelatihan transformasi pembelajaran dengan generative AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan yang merupakan teknologi yang dirancang untuk membuat sistem komputer yang mampu meniru kemampuan intelektual manusia.  Narasumber yang mendampingi dalam pelatihan ini adalalah para dosen dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, yaitu Bapak FX. Risang Baskara, Bapak Andreas Erwin Prasetya dan Ibu Eni Winarti.

Kegiatan dibuka secara singkat oleh Ketua Yayasan Winayabhakti Solo, Suster Veronica Sri Andayani, OSU yang menekankan pentingnya agar tahun ajaran baru 2024-2025 dipersiapkan dengan pembelajaran yang semakin maju khususnya bagi peserta didik yang juga telah maju dalam penggunaan IT. Suster Vero mengharapkan agar semua guru yang mengikuti pelatihan ini dapat belajar dalam menggunakan berbagai aplikasi yang ditawarkan dalam pelatihan agar proses pembelajaran dapat bermanfaat di kemudian hari.

Senada dengan Suster Vero, Ibu Enny Winarti selaku perwakilan dari Universitas Sanata Dharma, juga menekankan betapa alat-alat sekarang semakin canggih dan peran guru ditantang untuk lebih maju dalam penggunaan teknologi. Jaman dulu guru adalah sumber segalanya, sumber belajar tapi sekarang tidak lagi. Guru mesti siap “kejar-kejaran” dengan teknologi dan guru fungsinya sebagai fasilitator.

Pada hari pertama, Bapak FX Risang Baskara dari Prodi Sastra Inggris, Fakultas Sastra mengajak peserta untuk pertama-tama menyadari bahwa dunia sekarang ini adalah kompetisi “berlari” dengan teknologi. Maka, seorang guru juga dituntut untuk menggunakan perkembangan teknologi dalam proses pembelajaran di sekolah maupun di dalam kelas. Dalam pemaparan materinya, Pak Risang mengajak seluruh peserta untuk mengeksplorasi Generative AI Tools untuk membuat sumber belajar digital.

Inti dari pengajaran Pak Risang, membuat peserta dari para guru untuk sadar bahwa ada alat-alat canggih yang bisa dipakai dan juga sadar bahwa alat ini bisa dipakai guru maupun siswa. Maka, dalam akhir pelatihan, para guru menggunakan berbagai aplikasi untuk menghasilkan materi bahan ajar yang menarik dalam bentuk power point, lagu, video maupun gambar yang menggunakan teknologi AI.

Pada hari kedua, sesi diisi sepenuhnya oleh Bapak Andreas Erwin Prasetya, dari Fakultas PGSD. Dalam pembelajaran hari kedua ini, peserta diperkenalkan dan sekaligus diajarkan cara penggunaan berbagai aplikasi interaktif seperti: neopad, canva, padlet, educaplay, edpuzzle, qreatif, thinglink, dll. Dalam pemaparannya Pak Andreas memperkenalkan salah satu aplikasi yang baik bila digunakan oleh para guru dalam pembelajaran, yaitu aplikasi neopad. Aplikasi neopad ini memiliki beberapa tujuan penting yang dapat bermanfaat dalam berbagai konteks, misalnya mampu meningkatkan produktivitas dalam proses pembelajran. Neopad menawarkan fitur-fitur yang membantu guru dalam mengelola tugas, catatan, dan informasi secara lebih efisien, sehingga meningkatkan produktivitas sehari-hari.

Pak Andreas menekankan bahwa pada intinya para guru boleh memilih berbagai penggunaan aplikasi, tidak hanya neopad, asal sesuai kebutuhan mata pelajaran yang diampu sehingga nantinya para guru juga dapat dibantu meningkatkan keterampilan digital, yang sangat penting dalam dunia pendidikan yang semakin ditantang dalam penggunaan teknologi.

Pada hari ketiga, peserta didampingi oleh Ibu Eni Winarti, M. Hum. Ph. D yang juga mewakili Kampus Sanata Dharma. Ibu Eni mengajak seluruh peserta mendalami materi tentang peningkatan Project Based Learning (PBL) melalui integrasi kecerdasan buatan. Dalam sesi ini, Ibu Eni mengajak peserta untuk pertama-tama menentukan sebuah tema pembelajaran lalu merancang sebuah alur proyek dalam pembelajaran dan kemudian mengintegrasikan tema pembelajaran ke dalam proyek tersebut.

Setelah peserta diberikan pengantar, kemudian dilanjutkan dalam diskusi di unit masing-masing dan pada akhir sesi setiap unit mempresentasikan hasil diskusi dan rancangan yang didapatkan secara bersama dalam proyek pembelajaran. Setiap unit baik SMP maupun SMA sangat menarik memaparkan presentasinya. Lalu tim narasumber memberikan feedback dari hasil presentasi itu. Ibu Eni menekankan bahwa apapun hasil proyek dari kelompok siswa baik itu dalam bentuk video maupun tulisan tidak masalah, yang penting para guru menemani para siswa untuk berproses dalam menemukan cara-cara belajar dan mencapai tujuan pembelajaran.  

Sedangkan Pak Risang dan Pak Andre memberikan masukan agar dalam proses pembelajaran, para siswa memahami persoalan-persoalan di sekitar mereka dan mampu mencari solusi atas persoalan atau masalah tersebut. Bukan guru yang menentukan persoalan atau masalah itu tapi siswa sendiri yang menemukan masalah di sekitar mereka dan memecahkan sendiri masalah mereka. Inilah proses pembelajaran kontekstual dari dalam diri siswa itu sendiri, sehingga setiap guru mesti menyadari bahwa saat ini yang menjadi pusat pembelajaran adalah siswa bukan lagi guru.

Demikian pula, yang punya projek, produk, solusi adalah siswa sendiri bukan guru. Guru hanya mendampingi dan menjadi agar proses pembelajaran terus terjadi. Selain itu, Pak Risang juga menekankan bahwa dalam proses pembelajaran, para siswa harus mengedepankan pola kolaborasi, artinya tidak terjadi individual projek. Di mana masing-masing mengerjakan tugasnya sendiri-sendiri tapi tidak ada makna kolaborasinya. Intinya, setiap guru perlu mengoptimalkan bakat yang ada pada anak, demikian ditegaskan oleh Pak Risang.

Pada akhir pelatihan, Suster Vero kembali memberikan peneguhan kepada seluruh peserta agar terus semangat dalam proses belajar bersama ini. Waktu 3 hari pembelajaran ternyata para guru terus semangat dengan wajah sukacita, yang menandakan para guru ingin selalu menjadi lebih baik dan terus berproses dengan tekun dan penuh semangat, demikian kata Suster Vero menutup seluruh rangkaian pelatihan transformasi pembelajaran dengan generative AI.

Elias Anwar (Guru Pendidikan Agama Katolik SMA Regina Pacis Surakarta)

Kampus Ursulin Regina Pacis Solo: smp-reginapacis-slo.sch.id/ dan smareginapacis-solo.sch.id/

Kampus Ursulin Maria Assumpta Klaten : mariaassumpta.sch.id/

SOLO, SERVIAMNEWS.com – Pada hari Sabtu pagi yang cerah, ratusan warga komunitas Kampus Regina Pacis Surakarta berkumpul di Lapangan Sepak Bola untuk mengikuti acara senam bersama yang diadakan oleh Tim Pastoral Kampus Regina Pacis. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anggota komunitas Kampus yang terdiri atas para Suster, Guru dan Karyawan SMP dan SMA Regina Pacis akan pentingnya kesehatan dan kebugaran, serta mempererat tali persaudaraan antar guru dan karyawan.

Ada yang menarik dari kegiatan ini yaitu hadirnya pula suami/istri dari para guru dan karyawan yang sudah menikah. Kehadiran suami/istri ini memang sengaja diundang karena pada akhir acara ada kegiatan sharing pasangan suami-istri. Acara dimulai pukul 07.00 WIB dengan sesi pemanasan yang dipimpin oleh instruktur senam profesional. Peserta, yang terdiri dari para suster dan guru-karyawan beserta suami istri, tampak antusias mengikuti gerakan demi gerakan yang diiringi musik energik.

 Setelah selesai senam, acara dilanjutkan dengan makan soto bersama yang sudah disiapkan oleh panitia. Meja-meja panjang berjejer rapi, dipenuhi mangkuk soto panas, dengan gorengan tempe dan tahu yang siap dinikmati. Aroma soto yang menggugah selera menambah semangat peserta untuk bersantap bersama.

Salah satu peserta, Ibu Sisca (50), salah seorang istri dari guru SMA Regina Pacis mengungkapkan kegembiraannya mengikuti acara ini. “Senam bersama seperti ini sangat menyenangkan. Selain membuat tubuh lebih sehat, saya juga bisa bertemu dan berinteraksi dengan Suster, Guru dan Karyawan Kampus Regina Pacis yang jarang saya temui. Dan makan soto bersama setelah senam benar-benar menambah kehangatan acara,” katanya.

Acara makan soto bersama ini tidak hanya menjadi momen untuk mengisi energi kembali setelah berolahraga, tetapi juga menjadi ajang untuk saling berbagi cerita dan pengalaman antaranggota Komunitas Kampus Regina Pacis. Tawa dan canda menghiasi suasana, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang erat.

Bagian terakhir dari acara ini adalah sesi sharing pasutri, yang dimulai sekitar pukul 09.15 WIB. Suster Veronica Sri Andayani, OSU selaku Koordinator Kampus membuka acara sharing pasutri dengan menekankan pentingnya komunikasi dalam hubungan suami – istri. Kebahagiaan suami-istri juga akan berdampak dalam keluarga dan di sekolah, demikian ditekankan oleh Suster Vero yang memunculkan ide sehingga kegiatan senam, soto dan sharing bersama dapat terselenggara di Kampus Regina Pacis.

Dalam acara sesi sharing, Pasangan suami istri diberikan kesempatan untuk berkumpul dalam kelompok-kelompok dan diberikan games tebak kata. Dipandu oleh Tim Pastoral, sesi ini berlangsung dalam suasana yang hangat dan penuh dinamika yang menyenangkan.Pak Bambang dan istrinya, Ibu Yuni, yang kebetulan merayakan ulang tahun perkawinan yang ke-27 mengungkapkan manfaat dari sesi ini. Pasutri ini sharing tentang perjuangan tahun-tahun awal pernikahan pada saat memiliki anak.

 Pak Bambang harus bolak-balik Solo-Pacitan selama 7 bulan. Mereka merasa karya Tuhan begitu besar dalam hidup keluarga mereka. Walaupun merasa kurang romantis tapi cinta mereka sebagai pasangan suami istri tetap terus dijaga dan setia satu sama lain. Selain itu, beberapa pasutri juga melakukan sharing pengalaman pasangan lain dan berbagi tips dalam komunikasi di antara suami istri.

Acara 3 S (Senam, Soto, Sharing) ini mendapat sambutan positif dari berbagai pihak, termasuk hadirnya suami-istri guru dan karyawan yang turut mendukung dan berpartisipasi. Kegiatan ini tidak hanya fokus pada kesehatan fisik, tetapi juga memperhatikan kesehatan emosional dan hubungan interpersonal, khususnya bagi pasangan suami istri.

Pada pukul 11.30 WIB, Sr. Maria Theofila, OSU menutup seluruh rangkaian acara dengan menekan pentingnya komunikasi di antara pasangan suami-istri. “Dinamika dalam games sudah memberikan kita pelajaran bersama untuk terus meningkatkan komunikasi diantara suami-istri”, demikian ditekankan oleh Suster Fila. Memang komunikasi itu membutuhkan waktu, maka setiap pasangan suami istri selalu sabar dan tetap setia satu sama lain agar keharmonisan keluarga terus terjaga, kata Suster Fila menutup kegiatan 3 S ini.

Dengan berakhirnya acara pada pukul 11.30 WIB, peserta pulang dengan senyum puas dan semangat baru karena mengalamai sukacita bersama yang menyenangkan dan penuh kekeluargaan.

Kampus Ursulin Regina Pacis Solo: smp-reginapacis-slo.sch.id/ dan smareginapacis-solo.sch.id/

SOLO, SERVIAMNEWS.com – Dunia yang semakin berkembang mendorong setiap individu untuk mengelola keuangan secara bijaksana. Salah satu cara untuk mencapai kesejahteraan ekonomi adalah dengan melakukan investasi. Pada Selasa, 18 Juni 2024 Yayasan Winayabhakti Solo bekerjasama dengan Syailendra Capital memberikan edukasi tentang instrumen investasi masa kini pada Tenaga Pendidik, Tenaga Kependidikan, Tenaga Penunjang SMP Regina Pacis dan SMA Regina Pacis Surakarta. Kegiatan bertema “Beyond the Classroom: Building a Roadmap to Create Wealth” ini bertujuan memberikan edukasi tentang literasi keuangan, terkhusus pengetahuan tentang mekanisme dalam berinvestasi dan teknik melakukan analisis resiko serta keuntungannya.

Pada sesi awal, tim Syailendra Capital menyampaikan materi tentang instrumen investasi tradisional dan modern. Contoh investasi tradisional adalah properti, emas dan deposito, sedangkan investasi modern seperti saham, obligasi, reksa dana, cripto, dan P2P lending. Seiring berjalannya waktu, investasi semakin berkembang, bahkan yang dahulu memerlukan kehadiran fisik dan proses manual, sekarang bisa diakses secara online dengan menggunakan dokumen digital. Hal ini juga harus menjadi perhatian bagi pemula yang ingin berinvestasi, sebab adanya kecanggihan teknologi bisa dimanfaatkan oleh pelaku investasi bodong. Mereka menjalankan modusnya dengan cara mengiming-imingi return yang tinggi. Maka, sangat penting perlunya edukasi dan kesadaran masyarakat tentang pengelolaan keuangan dan jenis produk investasi yang legal.

Tim Syailendra Capital juga menjelaskan di Indonesia lebih cenderung pada inklusi keuangan daripada literasi keuangan. Maksudnya adalah masyarakat mengetahui tentang bagaimana pengelolaan keuangan yang baik, misalkan mereka telah melakukan pembukaan rekening  tabungan di bank, namun tidak berani mengambil keputusan untuk berinvestasi. Padahal  faktanya, apabila uang di tabung pada bank, akan terpotong oleh biaya admin dan pajak sedangkan bunganya relatif kecil, sehingga dimungkinkan uang di tabungan dapat tergerus oleh biaya-biaya tersebut. Selain itu, nilai uang dipengaruhi oleh laju inflasi, yang menyebabkan nilai mata uang semakin melemah.

Investasi menjadi solusi untuk “menggandakan” uang kita di masa depan. Dalam melakukan investasi, kita harus memperhatikan pendapatan dan pengeluaran. Bukan berarti seluruh pendapatan dialokasikan pada instrumen investasi. Hidup harus seimbang, sehingga kebutuhan, hiburan, investasi sebaiknya mempunyai porsi masing-masing. Salah satu gambaran alokasi pendapatan yang disampaikan oleh tim Syailendra Capital adalah 50% untuk kebutuhan pokok, 30% hiburan dan 20% investasi. Balancing (budgeting) your money is key to having enough (Elizabeth Warren, US Senator).

Umur pensiun rata-rata adalah 55 tahun, sedangkan angka harapan hidup di Indonesia sekitar 75-78 tahun. Selama kurun waktu 20 – 23 tahun tersebut, seorang pensiunan diharapkan dapat memenuhi semua kebutuhannya, hidup layak dan sejahtera. Supaya tidak ada kekhawatiran di hari tua, maka rencana keuangan perlu disiapkan dari awal. Pada sesi terakhir Syailendra Capital memperkenalkan salah satu instrumen investasi, yaitu reksa dana. Reksa dana adalah wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari investor yang selanjutnya diinvestasikan pada portofolio efek oleh manajer investasi. Reksa dana sangat cocok bagi investor pemula, karena resikonya sangat kecil dan menawarkan diversifikasi produk tanpa harus mengetahui secara mendalam tentang pergerakan pasar.

Syailendra Capital juga memperkenalkan aplikasi perusahaannya yang bernama “Yo Inves”, aplikasi khusus untuk investasi reksa dana. Kegiatan ini ditutup dengan beberapa pertanyaan dari peserta seminar. Melihat begitu semangatnya bapak ibu guru dan karyawan dalam mengikuti seminar investasi, diharapkan dengan kegiatan ini semakin menambah wawasan tentang pengelolaan keuangan yang bijak, memahami dan mendalami dunia investasi, serta dapat mengambil keputusan investasi yang tepat.

Stefany Apriliana Nugroho – Guru Ekonomi SMA Regina Pacis Surakarta

Kampus Ursulin Regina Pacis Solo : https://smareginapacis-solo.sch.id/ dan https://smp-reginapacis-slo.sch.id/

SOLO, SERVIAMNEWS.com – Pada Selasa, 18 Juni 2024, SMA Regina Pacis Surakarta menyelenggarakan seminar bersama Syailendra Capital bertajuk “Beyond the Classroom: Building a Roadmap to Create Wealth.” Acara ini menghadirkan Victor Teja, Chief Retail Officer Syailendra Capital, sebagai pembicara utama. Seminar diikuti oleh para siswa dan siswi yang tergabung dalam Komunitas Ursulin Investment Club, sebuah komunitas baru yang berfokus pada pengembangan potensi peserta didik SMA Regina Pacis Surakarta dalam dunia investasi. Seminar bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan dan memberikan panduan praktis tentang investasi kepada para peserta.

Kegiatan seminar diawali dengan pengantar singkat oleh Victor Teja tentang profil dirinya sekaligus memperkenalkan Syailendra Capital. Selanjutnya, ia mulai menjelaskan evolusi investasi dari instrumen tradisional hingga modern serta prospek masa depan. Para peserta dijelaskan perbedaan instrumen investasi tersebut mulai dari segi aksesibilitas, dokumentasi dan proses, diversifikasi, dan informasi. Selain itu, Victor menyoroti pentingnya mengenali investasi yang berpotensi scam dan memberikan tips praktis untuk menghindarinya. “Setia pada proses, jangan terlalu terburu-buru, jangan suka dengan segala sesuai yang instan,” ujarnya.

Dalam presentasinya, ia juga mengatakan, “Edukasi dan kesadaran masyarakat tentang ilmu pengelolaan keuangan dan jenis produk investasi yang legal serta risk & return-nya merupakan kunci utama dalam melawan jebakan investasi bodong.” Berkaitan dengan hal itu, maka konsep financial literacy dan financial inclusion menjadi landasan penting sebagai pengetahuan dan keterampilan dalam pengambilan keputusan keuangan.

Sesi kedua dilanjutkan dengan pengetahuan tentang inflasi serta berbagai istilah dalam dunia ekonomi dan investasi. “Tekanan inflasi memicu kenaikan harga barang dan berpotensi menggerus daya beli masyarakat,” jelas Victor. Oleh karena itu, pengetahuan tentang peluang investasi yang menjanjikan sangat penting agar perputaran uang dapat terus berjalan.

Selanjutnya, Victor menekankan pentingnya perencanaan keuangan yang mencakup pengaturan income, spending, debt, dan investing. Ia mengajarkan cara mengelola uang dengan bijak agar dapat menghasilkan keuntungan. Dengan perencanaan dan pengelolaan keuangan yang baik, tentu setiap uang yang dimiliki dapat dioptimalkan.

Pada sesi akhir, Victor mengupas aturan-aturan dalam dunia investasi serta fakta-fakta menarik tentang kesadaran masyarakat Indonesia dalam hal dana pensiun, investasi, dan literasi keuangan digital. Victor menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya dana pensiun dan literasi keuangan. Dalam menjawab permasalahan tersebut, peserta seminar diajarkan metode-metode yang dapat diambil agar dapat mengoptimalkan pendapatan yang dimiliki.

Seminar ditutup dengan sesi tanya jawab yang interaktif, peserta dapat bertanya langsung kepada narasumber mengenai berbagai topik yang telah dibahas. Kegiatan berlangsung dengan lancar dan penuh antusiasme. Peserta mendapatkan wawasan baru yang berguna untuk mengelola keuangan mereka di masa depan. Acara diakhiri dengan foto bersama sebagai kenang-kenangan. Dengan seminar ini, Syailendra Capital berharap dapat mendorong peningkatan literasi keuangan dan membantu masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan.

Chelsea Michelle Alim Loekito (SMA Regina Pacis Surakarta)

Kampus Ursulin SMA Regina Pacis Surakarta : http://www.smareginapacis-solo.sch.id/

SOLO, SERVIAMNEWS.com – Saat ini, teknologi berkembang sangat pesat, dan hampir semua bidang kehidupan mengadaptasi perkembangan teknologi. Mulai dari teknologi yang sederhana, sampai teknologi yang paling mutakhir, seperti misalnya AI (Artificial Intelligence). Dunia pendidikan pun juga mengadaptasi teknologi, terutama sejak adanya pandemi, dimana teknologi hadir untuk memfasilitasi pembelajaran daring jarak jauh menggunakan fitur teleconference (misalnya zoom atau Google Meet), membuat ruang belajar virtual melalui berbagai aplikasi yang menyediakan LMS (Learning Management System), hingga teknologi yang akhir-akhir banyak dikembangkan, yaitu AI.

Yayasan Winayabhakti Solo pun tak mau ketinggalan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada siswa dengan meningkatkan kemampuan guru dalam mengadaptasi teknologi untuk pembelajaran melalui workshop bertajuk “Prompt Engineering : Membuat Modul Pembelajaran dan Rencana Proses Pembelajaran” dengan menghadirkan narasumber Prof. Eko Indrajit. Guru-guru dari Kampus Ursulin Regina Pacis Surakarta dan Kampus Ursulin Maria Assumpta Klaten mengikuti workshop selama dua hari yang dilaksanakan di auditorium Kampus Ursulin Regina Pacis, pada 3-4 Mei 2024.

Hari pertama, peserta workshop dijelaskan terlebih dulu mengenai konsep AI dan bagaimana melakukan prompting (pemberian perintah) kepada prompt engineering supaya mendapatkan hasil yang diinginkan. Selanjutnya para guru dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja dan diberikan tugas untuk menghasilkan sebuah produk berupa buku dengan memanfaatkan aplikasi Chat GPT. Masing-masing guru membuat buku sesuai dengan minat mereka masing-masing dengan memberikan prompt ke chat GPT, dari mulai menentukan judul buku, daftar isi, hingga materi yang ada di buku. Bahkan untuk sampul dari buku yang dibuat pun juga dibuat menggunakan chat GPT. Hari pertama, target membuat buku dengan minimal 50 halaman selesai dilakukan.

Hari kedua workshop dilanjutkan dengan pembuatan perangkat ajar dengan memanfaatakn prompting pada chat GPT4. Dengan menggunakan chat GPT4, guru bisa bereksplorasi untuk membuat rencana pembelajaran yang memuat aktivitas belajar yang menarik, kontekstual, dan juga interaktif. Prof Eko menjelaskan bagaimana teknologi AI saat ini bisa digunakan untuk meningkatkan produktivitas guru dan nantinya, guru yang bertahan di masa depan adalah guru yang mampu memanfaatkan teknologi, termasuk dalam hal ini adalah memanfaatkan AI, untuk pembelajarannya.

Di akhir kegiatan workshop, diadakan penganugerahan Serviam Chat GPT Award untuk memberikan penghargaan kepada beberapa kelompok yang sudah menyelesaikan tugas dengan baik. Dari Workshop dua hari ini, peserta menghasilkan 130 ebook dan setiap peserta menghasilkan sebuah Rencana Proses Pembelajaran (RPP). Nantinya, RPP yang dibuat dapat menjadi pemicu dan memberikan motivasi bagi peserta workshop untuk selalu berinovasi dalam mendampingi peserta didik saat proses pembelajaran selanjutnya.

Stephanus Nunu Dharmawan (Kepsek SMP Regina Pacis Solo)

Kampus Ursulin Regina Pacis Solo: www.smp-reginapacis-slo.sch.id dan www.smareginapacis-solo.sch.id

Kampus Ursulin Maria Assumpta Klaten: www.mariaassumpta.sch.id

SOLO, SERVIAMNEWS.com – Pendalaman spiritualitas Santa Angela selalu rutin dilaksanakan di semua sekolah yang dikelola para suster Ordo Santa Ursula. Harapannya adalah semua warga sekolah terutama pendidik, tenaga kependidikan, dan karyawan melayani dengan semangat Santa Angela. Pada tahun ini, Yayasan Winayabhakti Solo melakukan pendalaman spiritualitas Santa Angela untuk para pendidik dan tenaga kependidikan yang berlangsung empat kali pertemuan yaitu 24 Januari, 30 Januari, 6 Februari, dan 9 Maret 2024.  Tiga pertemuan pertama dilaksankan secara tatap maya dan yang terakhir secara tatap muka. Satu hal yang menarik dari kegiatan ini terletak pada pembicaranya yaitu seorang romo dari Serikat Jesus yang juga dosen di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, tepatnya Romo L. Suharjanto, S.J.

Pendekatan yang dilakukan Romo Janto sangat menarik dan berbeda karena beliau mengajak pendidik dan tenaga kependidikan menganalisis Regula, Nasehat, dan Warisan Santa Angela dari sudut pandang pedagogi. Pedagogi itu sendiri adalah praktek atau cara mengajar. Pendekatan ini membuat para peserta untuk membaca lebih detil Regula, Nasehat, dan Warisan Santa Angela. Secara tidak langsung, beliau mengajari kami untuk berliterasi dengan Regula, Nasehat, dan Warisan Santa Angela, dan ternyata pendekatan ini membuat kami menyadari betapa buku ini bisa menjadi pegangan, sumber inspirasi, dan motivasi yang bisa menyalakan semangat kami selama berkarya di dunia pendidikan.

Ada dua poin berharga yang menyemangati dan menginspirasi yaitu kepemimpinan dan pedagogi. Dalam Regula, Nasehat, dan Warisan Santa Angela,  kepemimpinan yang sejati bersifat menjaga, keibuan, komunikatif yang dilandasi kasih, dan pastinya terikat dengan Allah. Sebagai seorang pemimpin, Santa Angela  selalu melibatkan orang-orang di sekitarnya yang dipercayainya. Beliau membicarakan gagasan-gagasannya dengan mereka, mempercayai mereka untuk melaksanakan, bertanya dan mendorong untuk meneruskan gagasan-gagasan tersebut. Beliau terbuka terhadap reaksi dan pendapat mereka.

Dalam Regula, Nasehat, dan Warisan Santa Angela, beliau sering mengulang kata-kata memperlihatkan(to point out), mengundang(to invite), menasehati(to counsel), mendorong(to exhort). Beliau sangat menghargai percakapan, mendengarkan, nasehat, dan inspirasi dalam mengambil keputusan. Untuk mampu melakukan semua hal ini dibutuhkan kasih. Maka kasih menjadi dasar bagi seorang pemimpin untuk mengambil keputusan yang bijaksana.

Cara mengajar atau pedagogi juga tercantum dalam Regula, Nasehat, dan Warisan Santa Angela. Apa yang dialami Santa Angela saat beliau hidup di abad ke 15 dan 16 masih terjadi di abad ke 21 ini dimana manusia mengalami kegelapan yang berupa keraguan, ketakutan, kekasaran, ketidaksantunan, dan kecemburuan. Untuk menghadapi hal-hal ini, Santa Angela mengajari kita memohon Allah untuk menguatkan(to strengthen) dan menerima(to receive) indra, afeksi, jiwa, dan kehendak. Indra dan afeksi mudah dipengaruhi sehingga mengombang-ambingkan manusia. Oleh karena itu, perlu dikuatkan dan ditata terutama dalam pedagogi supaya tercipta hati yang gembira, kemurahan hati, dan belas kasih. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan doa vokal seperti doa rosario dan puasa.

Berbeda dengan indra dan afeksi, jiwa dan kehendak manusia bisa bersifat gelap atau buta. Maka kita perlu menerima dan menyerahkan kepada Allah untuk kemudian diterangi terutama melalui doa mental seperti meditasi dan membaca kitab suci. Dengan melakukan ini, kita akan dimampukan untuk bergembira dalam menjaga, merawat, memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani, menasehati, membersamai anak-anak Allah yang dipercayakan.

Pola menerima dan menguatkan ini penting terutama untuk kita yang bekerja di dunia pendidikan. Pola ini tidak hanya membantu kita untuk memahami diri sendiri tetapi juga untuk memahami dan membina anak-anak yang dipercayakan kepada kita. Inilah perwujudan rasa hormat kita terhadap kehendak dan kebebasan individu. Maka tidak mengherankan, Roh Penasehat sangat terasa menyemangati perjalanan kita sebagai pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah-sekolah para suster Ordo Santa Ursula. Akhirnya Regula, Nasehat, dan Warisan Santa Angelamerupakan cara untuk menguduskan diri kita dan anak-anak yang dipercayakan kepada kita, yaitu dengan menata indra, afeksi, jiwa, kehendak, dan tingkah laku kita. Inilah pedagogi yang diajarkan oleh Santa Angela.

(M.M Wahyu Utami- Kepsek SMA Regina Pacis Solo)

Kampus Ursulin Regina Pacis Solo : https://smareginapacis-solo.sch.id/ dan https://smp-reginapacis-slo.sch.id/

SOLO, SERVIAMNEWS.COM– Bergulirnya pandemi covid-19 sejak Maret 2020 telah mengubah wajah dunia pendidikan kita. Peralihan media belajar ke arah serba digital, pemantauan perkembangan karakter dan capaian belajar siswa dari jarak jauh, hingga penerapan kurikulum darurat menjadi gambaran wajah alam sekolah dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Adanya pandemi ini praktis memicu para guru untuk beradaptasi dan berinovasi. Proses menyatunya guru dengan pendidikan era pandemi tidak hanya tercermin dalam variatifnya metode pengajaran dan tingkat kedalaman materi, namun juga tertanam di dalam pikiran bahwa pandemi ini dapat dikalahkan.

Dalam upaya menjaga semangat optimisme pembelajaran di era yang kini memasuki masa transisi pasca pandemi, Yayasan Winayabhakti Solo mengadakan rekoleksi bertema Bangkit dari Pandemi Terus Berkreasi pada tanggal 11 Juli 2022. Bertempat di Auditorium Kampus Regina Pacis Surakarta, rekoleksi yang dipimpin oleh Bapak Johanes Eka Priyatma tersebut diikuti oleh suster, guru SMP dan SMA Regina Pacis Surakarta, serta para karyawan.

 Sr. Veronica Sri Andayani, OSU membuka rekoleksi dengan seruan semangat kepada para peserta dalam menghadapi masa transisi pandemi ini, Pada perjumpaan offline tersebut, para peserta rekoleksi diajak untuk menanamkan mindset positif, aktif, dan produktif. Bapak Eka selaku narasumber yang pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Sanata Dharma Yogyakarta menguraikan posisi kita sebagai pendidik selama masa pandemi dan bagaimana langkah terbaik untuk melangkah ke depannya.

Dalam rekoleksi ini Bapak Eka mengawali sesi materi dengan memaparkan seperti apa posisi sekolah kita di era terkini. Beliau juga menguraikan ancaman dan peluang akibat pandemi yang dapat dirasakan langsung oleh dunia pendidikan. Kompleksitas pendidikan abad 21 yang penuh dengan dinamika berkaitan erat dengan aspek transformasi yang wajib digerakkan dari lingkungan internal sekolah. Semangat untuk senantiasa berkreasi di masa transisi pandemi mengarahkan para pendidik untuk merefleksikan perspektif mana yang digunakan dalam menjaga dan meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah. Penjaminan mutu, efisiensi, investasi, manajemen, teknikal, ekonomi, psikologi, spiritual, sosial, motivasi dan eksistensi, makna, serta jejaring multi aktor merupakan aspek terkait mutu sekolah yang dihidupi dan dikembangkan.

Kesadaran kolektif terkait hal tersebut mengarahkan para pendidik untuk mengidentifikasi kelebihan yang dimiliki sekolah kita dibandingkan dengan sekolah lain, kebutuhan pendidikan yang diminati oleh masyarakat sekitar, siapa saja murid yang menjadi sasaran sekolah kita, serta kekurangan di sekolah kita yang perlu diperbaiki. Guna mengeksekusi hal ini diperlukan adanya growth mindset yang terpatri di benak seluruh elemen sekolah.

Di rekoleksi ini, Bapak Eka mengadakan dua sesi dinamika kelompok guna meresapkan intisari materi pelatihan kepada para peserta. Selain adanya diskusi kelompok, Bapak Eka juga menggelar games secara berkelompok tentang growth mindset atau mentalitas bertumbuh. Permainan ini cukup sederhana namun diperlukan kecermatan dan kekompakan dalam menyelesaikannya. Aturan mainnya adalah setiap orang di kelompok menerima enam potongan kertas secara acak. Seluruh anggota kelompok diminta untuk menyusun bujur sangkar bermodalkan kertas acak tadi. Antar anggota kelompok boleh saling bertukar kertas namun dilarang berbicara. Kelompok yang masing-masing anggota kelompok di dalamnya sukses menyusun bujur sangkar adalah pemenangnya.

Melalui rekoleksi ini diharapkan dinamika pendidikan yang bergulir saat ini semakin menyemangati para pendidik untuk selalu melangkah maju dalam berkarya di sekolah. Mindset sebagai senjata utama dalam mengarungi arus kehidupan wajib dijaga dengan baik dan bermakna positif agar buah-buahnya pun kelak menjadi berkat bagi sesama. 

Christianto Dedy Setyawan, S.Pd (Guru SMA Regina Pacis Surakarta)

Kampus Regina Pacis Solo :

www.smp-reginapacis-slo.sch.id

www.smareginapacis-solo.sch.id

SOLO, SERVIAMNEWS.com– Sosialisasi Proses Musyawarah Nasional (Munas) Pendidikan Ursulin di Kampus Regina Pacis Solo dilaksanakan pada Sabtu, 22 Februari 2020 di Auditorium Regina Pacis, Solo, Jawa Tengah.  Ketua III Yayasan Winayabhakti Solo, Sr. Veronica Sri Andayani, OSU bersama bapak ibu guru peserta Munas Pendidikan, menyosialisasikan proses Musyawarah Nasional Pendidikan Ursulin yang dilaksanakan di Pacet. Kegiatan ini diikuti oleh Bapak dan Ibu Guru serta Tata Usaha baik dari SMP Regina Pacis maupun SMA Regina Pacis.

Dengan mengikuti Proses U, para peserta diajak untuk melihat kembali identitas sebagai bagian dari karya Pendidikan Ursulin. Merasakan bersama bagaimana dunia berkembang begitu cepat dengan kemajuan teknologi. Namun juga meyadari panggilan untuk menanamkan nilai Servite et Amate dalam proses sehari-hari kepada siswa.

Peserta melakukan sharing dan diskusi bersama dalam kelompok maupun pleno. Pengelompokkan kelompok kali ini berdasarkan rumpun mata pelajaran atau yang biasa disebut Musyawrah Guru Mata Pelajaran (MGMP) serta bidang tugas seperti Bagian Keuangan, Sarpras dan IT serta Perpustakaan.

Suster mengajak kita untuk merefleksikan tentang hal-hal apa yang tidak bisa dilanjutkan, apa yang harus ditinggalkan, dan apa panggilan Tuhan untuk diri kita. Terkadang peserta sudah terbiasa dengan pola pikir lama. Sudah nyaman, mau bagaimana lagi? Padahal zaman dan teknologi berkembang sangat cepat.

Banyak hal yang bisa kita lakukan, seperti menyadari panggilan dan peranan masing-masing sebagai guru atau tata usaha. Mulai meninggalkan kebiasaan lama dan keluar dari zona nyaman, berbagi pengalaman antar rekan kerja, saling mendukung dalam proses pembelajaran.

Selanjutnya setiap kelompok diminta untuk menyusun intensi dan orientasi yang relevan dan sungguh membawa perubahan dalam pelayanan di Kampus Regina Pacis Solo. Hasil rumusan intensi dan orientasi selanjutnya akan disinergikan dengan Renstra Kampus sehingga dapat semakin mewujudkan Kampus yang Humanis dan Berwawasan Global.

SMP Regina Pacis Solo : http://smp-reginapacis-slo.sch.id/

SMA Regina Pacis Solo : http://smareginapacis-solo.sch.id/

Serviam